Press "Enter" to skip to content

Mahendra Siregar: WNI Tidak Usah Ikut-ikutan Demo di AS

Seruan itu diutarakan Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri RI yang secara tegas meminta agar warga Indonesia mampu membedakan antara WNA dan WNI. ”Sebagai WNA, itu hak mereka untuk ikut aktif dalam politik AS,” kata Mahendra.

Tapi, ”Sebagai WNI, Pemerintah Indonesia mengimbau tidak usah ikut-ikut karena WNI adalah warga asing di AS,” lanjut Mahendra, yang juga mantan Dubes RI di Washington DC. ”Kenapa susah sekali membedakan hak dan kewajiban sebagai WNA dan WNI?” tambahnya.

 

Seruan itu bisa dimengerti, mengingat adanya kemungkinan WNI terbawa arus dan ikut melakukan demonstrasi di AS. Padahal, hal itu dilarang keras di setiap negara, termasuk Indonesia. Bagaimana jadinya misalnya, bila ada tenaga kerja asing China atau AS, ikut berdemo menuntut perubahan sebuah UU di Indonesia.

Lebih-lebih kini di AS, beredar isu bahwa aksi demo Black Lives Matter ditunggangi pihak-pihak tertentu. Termasuk kelompok ANTIFA, anti kemapanan yang diduga melakukan provokasi warga kulit hitam untuk membuat keonaran.

Mahendra Siregar saat menjadi Dubes RI di Washington DC. (Istimewa)

Karena itu, tak mengherankan bila masyarakat Indonesia di AS sempat ribut saat melihat seorang pemuda bertato Nusantara, ikut melempari sebuah bank di Philadelphia. Setelah diusut, ternyata anak muda kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat itu telah diproses statusnya sebagai warga negara AS.

Seluruh WNI di Amerika Serikat pun diminta untuk melakukan konsolidasi. Langkah ini patut dilakukan agar warga Indonesia di luar negeri tidak ikut campur politik dalam negeri AS, misalnya ikut melakukan aksi demonstrasi yang hampir melanda seluruh kota-kota AS.

Bahkan edaran NYUISC, New York International Student Council mengingatkan para mahasiswa asing agar ekstra hati-hati, karena visa student yang di kantongnya bisa dibatalkan. Dan yang bersangkutan bisa dideportasi bila tertangkap melakukan aksi protes. ”Mereka tidak dilindungi Konstitusi AS, karena mereka bukan penduduk tetap AS,” bunyi edaran itu.

 Imbauan serupa juga disuarakan banyak pihak. Termasuk grup Amerika Bersatu, AB1. ”Seluruh warga Indonesia harap berhati-hati, jangan terpancing suasana panas,” tutur Ronny Rusli, Ketua Umum AB1 dari Dallas, Texas. ”Hati-hati memakai nama Indonesia untuk menanggapi kejadian di negara asing,” lanjutnya.

Melkysedek Tirtasaputra, salah satu anggota masyarakat yang memiliki menantu berkulit hitam ini mengecam pihak-pihak yang menggunakan isu rasialisme untuk kepentingan sendiri atau kelompok. ”Jangan jatuh pada narasi tidak menghargai HAM bila tidak ikut demo. Karena sejarah Black Lives Matter mempunyai sejarah berbeda,” sambung Melkysedek dari Philadelphia.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, DC juga tetap memantau kondisi WNI di AS, untuk memastikan keselamatan dan keamanan warga melalui pertemuan rutin secara daring.

KBRI Washington, DC juga mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, menaati hukum, menjaga ketertiban umum dan mematuhi ketentuan dari otoritas setempat. Imbauan tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menghindari lokasi kerumunan massa, sembari mematuhi protokol kesehatan terkait Covid-19.

Saat ini di AS terdapat hampir dua juta kasus positif Covid-19, dengan angka kematian melebihi 110,000 jiwa. (DP)