Press "Enter" to skip to content

Donald J. Trump: Si Jambul dari Queens, New York

‘’Rambut saya kelihatan rapi. Saya tinggal di gedung yang sama dengan tempat bekerja saya, hanya menggunakan elevator dari kamar tidur menuju kantor. Selebihnya, saya di dalam mobil limousine, jet pribadi, helikopter atau klub pribadi di Palm Beach Florida. Kalau terpaksa saya main golf pakai topi untuk melindungi rambut saya,’’ kata Pemimpin AS yang berusia 74 tahun, hari Minggu 14 Juni 2020.

 

Penjelasan itu diungkap Donald Trump dalam wawancaranya dengan harian The Washington Post. Rambutnya yang berwarna kuning keemasan itu disisir ke belakang setiap tampil dalam debat dengan para kandidat presiden dari partai Republik. ‘’Coba tarik. Asli kan?’’ katanya disambut gelak tawa penonton lainnya.

Tak mengherankan bila Trump berhasil menarik perhatian banyak orang. ‘’Saya memainkan fantasi banyak orang,’’ katanya. Menurutnya, ”Persepsi adalah realitas dan upaya untuk meraih aura bagi proyek-proyeknya, ide-idenya dan dirinya sendiri, sangat penting,’’ tulis Trump.

Banyak orang mengejek kebiasaannya yang selalu mencantumkan nama ‘Trump’ di setiap gedung, kapal pesiar, pesawat terbang atau apapun miliknya. Bahkan dia pernah mengusulkan membangun ruang dansa atau ruang resepsi di Gedung Putih ternyata ditolak. Menurut Trump, alasan utama memasang namanya, ‘’Semata-mata sebagai strategi pemasaran,’’ tulisnya. ‘’Semua hotel dan bangunan yang menggunakan nama Trump memiliki tingkat hunian lebih tinggi,’’ tulisnya lagi.

Strategi pemasaran itulah yang dilakukan pada tahun 1976. Waktu itu, Trump keliling kota New York mengendarai mobil Cadillac limousinenya berplat nomor ‘DJT’, kependekan dari Donald Joseph Trump. Wartawati The New York Times, Judy Klemesrud menggambarkan Trump sebagai lelaki bertubuh tinggi ramping dan berambut perak yang memiliki kekayaan lebih dari $ 200 juta. Ia juga menjadi lulusan terbaik di sekolah bisnis ternama, Wharton School of University of Pennsylvania.

Dalam bukunya ‘Trump Nation’ yang terbit 2005, disebutkan Trump dikenal rajin menampilkan namanya di media massa. Di setiap kesempatan, Trump memasok berita kepada para wartawan dengan cerita-cerita menarik, tak peduli apakah cerita itu memojokkannya. Trump bahkan mampu membalikkan cerita buruk itu hingga menguntungkan dirinya. Di samping itu, Trump juga memiliki naluri luar biasa menampilkan cerita-cerita seru, berbau konflik, uang atau seks yang memang disukai khalayak.

Bahkan, Trump tergolong kelewatan. ‘’Setiap hari, Trump mengawali kegiatannya dengan mengamati secara detil berapa kali namanya ditulis di media massa lokal maupun internasional,’’ tulis Michael D’Antonio, penulis buku ‘Never Enough: Donald Trump and the Pursuit of Success’. ‘’Saya selalu mendapat perhatian lebih banyak dibandingkan orang lain,’’ kata Trump mengakui hal itu.

Pribadi yang suka narsis seperti itu biasanya juga gemar konflik, dan cenderung berbohong agar dapat meraih tempat teratas. Semua itu tampaknya dimiliki dan bahkan diakui oleh Donald Trump. ‘’Saya suka berkelahi, segala macam bentuk perkelahian, termasuk berkelahi secara fisik,’’ katanya. Perseteruannya dengan Megyn Kelly, pemandu acara debat Partai Republik dan wartawati Fox News, merupakan salah satu dari sejumlah contoh yang tak bisa dilupakan.

Tidak seorang psikolog atau ahli jiwa yang dapat menganalisa personalia Donald Trump. Namun D’Antonio, penulis buku otobiografinya yang mengamati selama beberapa tahun menunjukkan satu penyebab utama. Yakni Fred C. Trump, ayah kandungnya yang membentuk Donald Trump menjadi seseorang seperti batu. ‘’Ayahnya sangat keras terhadap anak-anaknya,’’ kata Theodore Dobias yang dianggap sebagai ayah oleh Donald Trump. ‘’Seperti lazimnya orang Jerman deh,’’ kata Theo.

Frederick Christ Trump dilahirkan dari sebuah keluarga imigran dari Jerman. Ayahnya tukang cukur dari Kallstadt, Jerman yang tiba di AS untuk mengadu nasib mencari emas di Alaska, pada 1885. Namun, Frederick Christ yang lahir di Woodhaven, Queens, New York City selalu menyebut bahwa ia berasal dari Swedia. Alasannya, ‘’Karena dia banyak teman Yahudi dan dibully, sehingga tidak nyaman menyebut ia dari Jerman,’’ tutur John Walter salah satu sepupunya menjelaskan.

Di usia 13 tahun, setelah ayahnya meninggal karena penyakit paru-paru, Frederick mulai membangun bisnis konstruksi. Karena terlalu muda, ia membangun garasi dan menggandeng ibunya, Elizabeth agar bisa menerima dan menanda tangani cek. Keduanya membentuk sebuah perusahaan baru bernama E. Trump & Son. Bisnisnya pun sukses sehingga Frederick yang kini dewasa membangun sejumlah rumah di kawasan Queens dan dijual dengan harga $ 3.990 per unit.

Bisnis E. Trump & Son makin berkibar setelah Frederick mengembangkan pasar swalayan, sebuah konsep baru untuk berbelanja. Di masa-masa depresi kala itu, Frederick membangun Trump Market di Woodhaven, New York dengan semboyan menarik: ‘’Serve Yourself and Save!’’. Pasar swalayan itu diserbu pengunjung dan mendatangkan banyak keuntungan. Sementara itu Frederick tetap membangun barak tentara AS yang baru pulang dari tugas di luar negeri dan membangun sejumlah apartemen. Pada 1949, Frederick telah memiliki ribuan apartemen di New York dan Trump Village di Coney Island.

 

Kekayaannya diperkirakan mencapai $ 250 juta hingga $ 300 juta. Frederick dikenal cukup hemat. Ia selalu mengendarai mobil merk Cadillac warna biru yang selalu mengkilat sepanjang hari. Setiap tiga tahun sekali, ia mengganti dengan mobil baru tapi dengan merk dan warna yang sama, masih dengan plat nomor mobil tiga huruf ‘FCT’, singkatan namanya.

Setiap hari Frederick mengenakan setelan jas rapi dengan kumis seperti bintang film Clark Gable, meninjau pembangunan apartemennya. Ia tersenyum menghampiri para kuli bangunan dan berjalan di antara bahan bangunan dan kayu yang berserakan. Ia akan mengambil paku yang tergeletak dan diberikan kepada tukang kayunya keesokan harinya.

Dalam pemilihan presiden AS September nanti, Donald Trump akan berhadapan dengan Joe Biden, kandidat Partai Demokrat yang berusia 77 tahun. Akankah Trump terpilih kembali menjadi pemimpin AS untuk kedua kalinya? (DP)