Press "Enter" to skip to content

Cerita Ibu-ibu Pengusaha Kuliner Menghadapi Corona

Oleh Mohamad Irfan
Pandemi Covid-19 tak pelak lagi telah memukul berbagai macam sektor usaha, tak terkecuali bagi bisnis kuliner, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Memang, tidak semua pebisnis kuliner UMKM ini menyerah di tengah pandemi wabah Corona. Beberapa dari mereka berimprovisasi dalam strategi-strategi yang sesuai dengan keadaan. Konsep work from home atau school from home, sebagai konsekwensi akibat Covid-19, juga mengubah perilaku pelanggan, misalnya dengan membatasi jumlah pengunjung dan mengurangi jam operasional. Pelanggan tak lagi bisa menikmati hidangan seperti, dengan makan di tempat, misalnya, kecuali dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Berikut ini pengalaman dari beberapa wanita pengusaha, pelaku bisnis UMKM kuliner yang bisa bertahan di tengah pandemi wabah Covid-19.

Regina Juli, pemilik usaha kuliner Lada Eja (dari bahasa Bugis, yang artinya “cabe merah”) di kawasan Jati Mekar, Bekasi, Jawa Barat ini menuturkan, ia menggeluti usaha kuliner sejak 2010. Sebelum pandemi, ia rutin mengirimkan gudeg sekitar 200 porsi ke Bangkok, dua minggu sekali. “Sejak adanya wabah Corona, otomatis orderan jarang,” katanya.

Selain itu Regina juga membuka warung soto betawi di Makassar, tapi sudah tutup sekarang. “Dulu karyawannya 8 orang, tapi sekarang tinggal 4 orang.”
Tapi sebagai pengusaha yang berpengalaman lebih dari 10 tahun, Regina tidak bisa diam, justru mengatur strategi baru untuk tetap bertahan. Pilihannya adalah menjual makanan-makanan pesan antar. Bisa makanan siap masak atau makanan frozen, yang konsumen hanya tinggal memanaskan. Salah satunya mie ayam, “Yang rasanya pasti lebih enak disbanding mie ayam abang-abang,” ungkapnya.
Ia juga meluncurkan makanan Timur Tengah pas Ramadan kemarin, dan menurut Regina, banyak yang cocok karena rasanya otentik.
Berbeda dengan jualan di warung, yang hanya duduk manis menunggu pengunjung. Ini membutuhkan promosi lewat media sosial atau aplikasi chat, seperti WhatsApp. “Saya gunakan link keponakan-keponakan, teman-teman dan konsumen setia saya. Jadi mereka ini turut berpromosi untuk saya.”

Memanfaatkan Ojek Online
Cerita Dhora Ivayanti lain lagi. Pemiliki usaha kuliner Pempek Sakura 21 yang berlokasi di komplek Ruko Perumahan Cibubur Country, Cikeas, Bogor, ini menyadari bahwa menunggu konsumen datang tidak memungkinkan, ia langsung memanfaatkan ojek lain yang popular saat ini, God Food dan Grab Food. “Kami juga melakukan delivery service sendiri dengan minimal pembelanjaan tertentu, bebas bea untuk kawasan yang masih terjangkau,” ujarnya.

Dhora mengungkapkan bahwa selama pandemi Corona ini, omzet tidak berkurang, sekitar Rp20 juta per bulan. Pendapatan bersih setelah dipotong biaya-biaya gaji karyawan, sewa tempat, listrik, logistik, kurang lebih 40% dari omzet. “Lumayan, laris manis. Mungkin pada pelanggan sudah tahu produk kami, yang sudah hadir sejak 3 tahun yang lalu,” katanya.
Juga, yang tidak pernah dilakukan sebelum Corona, ia sekarang adalah ia kerap melakukan promosi – yang difasilitasi aplikasi Go Food dan Grab Food. Selain itu ia masih rajin menularkan ilmu dengan membuka kursus membuat pempek – kalau dulu pertemuan di kelas yang bisa bertatap muka, sekarang via online.

Utami adalah pemilik usaha kuliner SEGI di Bogor, dengan produk kulinernya berupa sushi, ramen, siomay, dan bakso. Ia menuturkan pengalamannya bahwa ia sudah menggeluti usaha kuliner ini selama 9 tahun, dan punya gerai di mal. Sebelum wabah Corona, usaha kuliner saya lancar dan berkembang.“Namun, ketika adanya wabah Corona, pemasukan langsung terpangkas sekitar 70%, karena mal tutup,” katanya.
Sama seperti pengalaman dua ibu di atas. Utami pun langsung banting setir, melakukan penjualan online, pesan antar melalui jasa ojek online. Yang menarik, tidak berjualan sendirian, tapi juga memafaatkan para reseller agar produknya bisa tersebar dengan baik.“Tantangan berjualan online itu, memang harus memberikan product knowledge semenarik mungkin, yang diwakili oleh gambar-gambar yang indah, dan informatif,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dilakukan Endang, pemilik usaha kuliner kue-kue kering, terutama kue-kue khas lebaran, En’s Renata. Perempuan yang berdomisili di Cirebon, ini mengungkapkan bahwa penjualannya meningkat sekitar 30% selama masa pandemi Covid-19.

Cerita para “business woman” di bidang kuliner itu mempunyai benang merah yang sama di tengah wabah Corona: semangat pantang menyerah, kemampuan beradaptasi dengan situasi yang berubah, serta pemanfaatan strategi digital. Meereka memanfaatkan teknologi informasi dan digital, seperti internet, serta media sosial yang kekinian, untuk bangkit dan bertahan.