Press "Enter" to skip to content

Nasib PT Delta Djakarta Tbk Usai Digempur Pandemi COVID-19

Oleh: Eddy Herwanto

Badai Corona membuat banyak perusahaan Indonesia sempoyongan. Tak terkecuali PT Delta Djakarta Tbk. Produsen bir pilsener dan stout – Carlsberg, San Miguel, Anker Stout, Kuda Putih, atau Green Sand itu, merosot nilai sahamnya hingga di bawah Rp 5 ribu. Padahal, tahun lalu sahamnya masih bertengger sekitar Rp 7.300 per lembar.

 

Penetapan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, menjadi penyebab salah satu merosotnya saham Delta. Sejumlah hotel, cafe, restoran yang menjadi sasaran utama minuman beralkohol ditutup dan dilarang beroperasi. Ditambah dengan kinerja yang buruk, menyebabkan Delta Djakarta atau DLTA pingsan.

Nilai penjualan produknya merosot dari Rp. 226,76 milyar tahun lalu, hingga Rp 153,058 milyar tahun 2020. Sehingga laba per sahamnya turun dari Rp 107 jadi Rp. 53.00. Malah diperkirakan akan terus menurun, seperti halnya sejumlah perusahaan lain.

Sebut saja PT Mitra Adi Perakasa Tbk, MAPI, pengelola jaringan cafe Starbuck, Burger King, retail pakaian Zara, atau Marks Spencer di Indonesia. Lantaran ditinggal investor asing yang takut disambar Covid-19, saham MAPI ambrol dari posisi tertinggi Rp 1.150 menjadi Rp.790.00 pada Juni 2020.

Pemerintah Provinsi DKI, yang menguasai 210,2 juta lembar saham yang disetor, kehilangan peluang. Gubernur Anies tidak menjelaskan alasan rencana penjualan saham pemprov DKI di Delta, sekalipun sesugguhnya dividen yang diterima cukup besar: Rp. 100,4 milyar (2019 untuk tahun buku 2018), sedang tahun sebelumnya Rp.54,6 milyar. Dengan dividen itu bisa dibangun puluhan gedung SD baru atau renovasi gedung lama. Tahun 2020 dividen yang akan diterima pasti akan lebih rendah, namun masih lebih dari cukup untuk membangun lebih dari 10 gedung baru SD.

Ketika rapat membahas Kebijaksanaan Umum dan Prioritas Anggaran Sementara antara DPRD dengan Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah 15 Agustus 2019, Gubernur Anies menyebut yang dibutuhkan warga Jakarta adalah air bersih bukan air beralkohol (bir produksi Delta). Jadi, katanya, lebih baik dana (hasil penjualan saham DLTA) digunakan untuk membangun infrastruktur air minum. Dia berharap APBD 2020 tidak lagi mencadangkan penerimaan dividen dari DLTA.

Namun di saat penerimaan Pajak Pembangunan dari hotel, restoran, cafe, rumah makan merosot hingga penerimaan APDB turun lebih dari 40 persen, bukankah dividen DLTA juga terasa segar sekalipun hanya beberapa puluh milyar?

 

PT Delta Djakarta Tbk semula bernama Archipel Brouwerij (Jerman) pada 1932. Pabrik pertamanya bediri di wilayah Angke, Jakarta, dan mulai beroperasi 1933 dan namanya berganti jadi NV De Oranje Brouwerij Baru (dibeli pengusaha Belanda).

Tahun 1970 resmi menjadi PT Delta Djakarta. Setelah masuk bursa tahun 1984, San Miguel (konglomerat bir asal Filipina) mengambil saham dari portfolio, dan menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus pengendali (58,33 persen, 467 juta lembar saham). Setelah akuisisi itu, pemprov DKI yang semula mayoritas, tinggal menggenggam 26.25 persen (210,2 juta lembar saham). Delta dikenal sebagai produsen bir pilsener dan stout (Carlsberg, San Miguel, Anker Stout, Kuda Putih, atau Green Sand).

Dengan melihat belum banyak investor asing kembali masuk Bursa, dan kenaikan harga saham belum solid, sebaiknya memang pemprov DKI bersabar. Tunggu lagi momentum bagus, jika indikator ekonomi makro RI membaik, maka itulah saat terbaik mengangkat jangkar DLTA dari Bursa.

* Eddy Herwanto, pernah bekerja di Majalah Tempo dan Editor