Press "Enter" to skip to content

Menggugat Negara

Oleh: Lea Pamungkas.

Teriakan lantang di Amsterdam, Bristol, Minneapolis, Milan, Lilongwe, Accra, Hoorn; adalah gugatan pada sejarah, pada negara yang telah berabad-abad membutakan, memaksa kita untuk mengakui para rasis sebagai pahlawan jaman. Teriakan berantai ini serta merta meneguhkan kedaulatan pikiran yang telah begitu lama dijajah segolongan orang yang memegang kekuasaan. Dan setiap hari tumbuh perkembangan yang mendebarkan.

 

Setelah Patung Edward Colston, pendukung ulung perbudakan abad 17, di Bristol diruntuhkan. Gerakan protes yang dimotori Black Lives Matter (BLM) ini, terus mengalir berantai menggugat rasisme menembus batas geopolitik.

Pekan lalu patung Ratu Victoria di Manchester, Christopher Columbus di Minneapolis, patung Indro Montanelli , jurnalis kenamaan yang diketahui pada tahun 1930 memperkosa seorang gadis Eriteria, juga digugat. Bahkan di banyak tempat, termasuk di Amsterdam, Ghana dan Malawi, patung Gandhi dikotori dengan cat merah. Karena Sang pandita agung, sang mahatma, terbukti berlaku rasis kepada orang-orang kulit hitam Afrika.

Setiap hari kini tumbuh menjadi perkembangan yang mendebarkan. Pandemi itu membuat banyak hal harus dimulai, seperti berangkat dari titik nol lagi. Lalu setiap hari kita makin menyadari, apa yang dikatakan Soekarno : kemanusiaan adalah sebuah hubungan. Kematian George Floyd,dan pandemi Corona menampar lalu menyadarkan kita, bahwa selain hari ini, kita pun punya banyak sejarah bersama : penjajahan, diskriminasi, dan rasisme. Dan protes ini, sungguh tidak tiba-tiba, tapi sama tuanya dengan rasa sakit dari penderitaan yang panjang.

Halaman merah darah sejarah
Kendati berdiri di kota kelahirannya sendiri, pekan lalu (16/6), 600 demonstran mendatangi Hoorn untuk meruntuhkan patung Jan Pieterszoon Coen. Coen dikenal dengan dengan sebutan Si Jagal dari Banda. Yang membunuh ratusan orang di Kepulauan Banda demi monopoli perdagangan rempah-rempah. Patung yang berdiri sejak 1893, sudah lama menimbulkan perasaan tak enak bagi sebagian orang. Tahun 1929, koran terkemuka Belanda, NRC Handelsblad menulis, “Ekspedisi yang dilakukannya adalah halaman merah darah dalam sejarah kolonial kita.”

 

Tahun 1960-an, patung Coen pun sempat diprotes keras dan disiram cat merah. Dan sekarang nyaris seabad kemudian, keberadaan patung Coen tetap melewati diskusi alot. Gerakan BLM dihadang oleh kelompok lain yang tidak setuju patung Coen diturunkan. Demonstrasi diakhiri dengan keributan dan penangkapan.

Selain patung Coen, Monumen Hindia Belanda, dulunya monumen Jo van Heutz, alias Si Jagal dari Aceh, juga disiram cat merah. Monumen ini yang didirikan tahun 1935. Dalam masa pemerintahan Ratu Wilhelmina, Heutz (1851-1924), adalah pahlawan besar, yang melakukan perang panjang di Aceh. Tahun 1924, Heutz membunuh puluhan ribu orang di Hindia Belanda. Para demonstran menuntut diruntuhkannya monumen ini. Baik Coen, maupun Heutz; bukanlah orang-orang yang layak mendapatkan keagungan ini

Lea Pamungkas.

Teriakan lantang di Amsterdam, Bristol, Minneapolis, Milan, Lilongwe, Accra, Hoorn; adalah gugatan pada sejarah, pada negara yang telah berabad-abad membutakan, memaksa kita untuk mengakui para rasis sebagai pahlawan jaman. Teriakan berantai ini serta merta meneguhkan kedaulatan pikiran yang telah begitu lama dijajah segolongan orang yang memegang kekuasaan.

Ya setiap hari tumbuh menjadi perkembangan yang mendebarkan, saya sedang termangu dan berpikir akankah gerakan ini sampai pada monumen kebohongan sejarah di Indonesia? Tiba-tiba telepon selular saya bergetar menandakan ada pesan masuk : ‘Next stop Coentunnel # BLM’ (Lea Pamungkas)