Press "Enter" to skip to content

Rasisme adalah Fiksi yang Menjadi Fakta Akibat Kekuasaan

”Rasisme pada prinsipnya adalah fiksi. Kehadirannya sebagai fakta merupakan hasil konstruksi sejarah dan peradaban.”

Hal itu diungkapkan Dr. Yoseph Yapi Taum M. Hum dalam seminar webinar, Kamis 25 Juni 2020. Dalam seminar yang digelar Indonesian Lantern tersebut, Dr. Yapi Taum menegaskan bahwa isu Rasisme adalah senjata atau alat yang digunakan untuk meraih kekuasaan, dan keuntungan ekonomi atau sosial dari kelompok dominan terhadap kelompok lain.

 

”Karena itu kita perlu mencegah rasisme karena dampaknya yang destruktif dan mematikan,” kata Dr. Yoseph Yapi Taum yang menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi beberapa kota, di Indonesia. Termasuk Timor Timur yang waktu itu masih menjadi bagian Indonesia.

Dr. Joseph Yapi Taum

Uraian menarik tersebut sesuai judul seminar webinar berbunyi: Rasisme Fiksi atau Fakta yang dimulai pukul 8.00 WIB. Empat pembicara lain tampil mengupas isu rasisme yang belakangan ini menyita perhatian dunia. Dua pembicara dari AS, yakni James Edward de Rave dan Dr. Lindy Backues. Dua pembicara lain dari Indonesia yakni Dr. Yoseph Tapi Taum dan Dr. Josef Kristiadi.

Seminar yang dihadiri lewat internet oleh sekitar 50 orang dari AS dan Indonesia itu, berlangsung semakin menarik. Lebih-lebih uraian James Edward de Rave yang terdengar anti-AS, bahkan membela Indonesia. ”Saya lebih suka hidup di Indonesia,” tutur James. ”Saya suka dengan sistem gotong royong yang ada di sana,” lanjut James, mantan direktur Kedawung Grup. ”Warga AS di sini tidak mungkin bisa gotong royong. Kalaupun ada, mereka minta bayaran,” lanjutnya. James juga mengaku warga Indonesia bisa menerimanya secara terbuka dan ramah.

James Edward de Rave

Namun persepsi itu dibantah Dewi Anggraeni. Mantan koresponden TEMPO ini mengingatkan James, ”Anda lebih mudah masuk ke dalam komunitas Indonesia karena anda berkulit putih, yang dinilai lebih tinggi,” tulis Dewi dalam tanggapannya di Facebook. ”Bayangkan jika orang yang masuk itu sejak awal telah dicurigai atau dianggap lebih rendah?” tulis Dewi yang menulis buku atau novel berlatar belakang kehidupan kaum Tionghoa di Indonesia.

Lain lagi uraian Dr. Lindy Backues. Pria kelahiran Bellevile, Illinois, ini menguraikan bahwa setiap orang yang masuk ke kota itu, pasti akan ditangkap. ”Walaupun cuma mengemudi mobil, mereka yang berkulit hitam akan diberhentikan: Kenapa anda yang kulit hitam kok masuk ke kota ini,” begitu kata Lindy.

Dr. Lindy Backues.

Menurutnya, rasisme berbeda dengan prasangka. Meski berprasangka, warga Papua atau Timor dan lainnya tidak bisa disebut rasisme. ”Karena rasisme terbentuk dari prasangka ditambah kekuasaan politik,” ujar Lindy. ”Jika kita punya prasangka tapi tidak memiliki kekuatan politik, tidak mungkin kita bisa rasis,” sambung Lindy.

”Mereka tidak bisa ditekan atau tidak bisa ditindak. Orang kulit hitam punya prasangka, tapi tidak bisa rasialis, karena tidak memiliki kekuasaan,” kata Lindy. Jadi Rasisme Fiksi atau Fakta? ”Rasisme adalah sebuah fiksi yang menjadi fakta. Ada yang mengatakan mereka tidak ditindas, padahal mereka ditindas dan itu fakta,” tutur Lindy Backues.

Sementara Dr. Josef Kristiadi memulai dengan ‘Dongeng Ajaib’. Dongeng dari sebuah negara ajaib yang menyebabkan pusing kepala dan tak ada obatnya. ”Lewat Indonesian Lantern, warga Indonesia di AS ikut merasakan apa yang terjadi di tanah air. Warga Papua juga merasakan kesedihan warga Aceh atau sebaliknya,” tutur Kristiadi.

 

Dr. Josef Kristiadi.

Pemerintah Indonesia akhirnya sadar akan kesalahan mengelola Papua. Yaitu, pelanggaran HAM dan mengabaikan pembangunan. Karena itu, disusunlah perundang-undangan Opsus Papua. Sebuah afirmasi positif untuk memberikan kesempatan bagi warga asli Papua untuk menjadi gubernur atau kepala daerah. ”Disediakan dana sekitar Rp 70 triliun untuk warga asli Papua, terutama kebutuhan pendidikan,” jelas J. Kristiadi.

Banyak pertanyaan menarik dari peserta webinar yang berasal dari Indonesia dan AS. Sampai-sampai diskusi yang direncanakan berlangsung dua jam, harus diperpanjang 15 menit. Bahkan, tercatat 188 penonton menyaksikan rekaman video yang bisa disimak di halaman ini. Webinar ini dapat digelar antara lain atas dukungan berbagai pihak dan Facebook Journalism Project. (DP)