Press "Enter" to skip to content

Berwirausaha Kuliner Saat Pandemi, dari Combro sampai Roll Bun

Berawal dari kangen resep leluhur, dua bersaudara Saleira Darana dan Surty PS berbisnis kuliner, tepatnya combro. Bagaimana mereka bertahan di tengah maraknya makanan kekininan, dan bagaimana cara mereka bertahan di saat pandemi Covid-19, agar tetap eksis?

Pandemi Covid-19 mengubah cara orang berbisnis. Adanya social distancing dan physical distancing, memunculkan fenomena lain, yakni menjamurnya bisnis online. Tak terkecuali bisnis kuliner. Cek saja lini masa Instagram Anda, banyak sekali yang menawarkan hidangan yang menggiurkan dan membuat Anda tergoda. Sebut saja rendang, pempek, bacang, kue lapis, pukis, donat, dan lain-lain. Belum lagi hidangan ala Barat, semacam pasta, roti dengan berbagai toping serta isi, dan masih banyak lagi.

Di tengah pandemi ini, hidangan yang mengingatkan pada masa kecil biasanya lebih banyak dilirik. Salah satunya combro, yang berasal dari Jawa Barat. Di feed Instagram, tampilan cemilan khas tanah Sunda yang terbuat dari parutan singkong berisi oncom kemudian digoreng, ini tak sekadar bentuknya yang dipotret menggoda, paketnya pun dikemas dalam kotak atau besek bambu dengan sentuhan sehelai daun khas tanah Sunda yang masih dikenal alami itu.

Bisnis kuliner online yang terkenal dengan akun Instagramnya @combro-omate ini, diinisiasi dua bersaudara, Saleira Darana dan Surty PS. Uniknya, mereka berdua tinggal di dua benua yang berbeda. Saleira di Jakarta, sementara Surty di Eropa, tepatnya Belgia.

“Sejujurnya kerjasama kami berdua dituntut efisiensi tinggi karena perbedaan waktu antara Eropa dan Indonesia, juga komunikasi yang terbatas untuk perihal produksi dan eksekusi,” tulis Surty lewat surat elektronik.

Sampai saat ini mereka berdua membagi tugas dengan cara yang sangat sederhana dan praktis. Yaitu si kakak bertugas di online branding image & visual advertising dan si adik di Jakarta memproses produksi dan mengirim ke pembeli.

BIsnis yang dimulai sejak 2019 ini, punya latar belakang sejarah masa kecil yang tak terlupakan. “Kami kangen combro buatan ibu,” kata Surty berkisah. Mengobati kangennya, mereka yang lahir dan besar di Jakarta, ini tak pernah berhasil menemukan rasa combro buatan sang ibu yang berasal dari Bandung itu.

Akhirnya, meski sibuk dengan tugas utama mereka, akhirnya Saleira dan Surty sepakat membuka bisnis online dengan produk penganan utama combro. Mereka memproduksi combro, yang mulai dari tekstur dan rempah-rempahnya sampai harumnya, mirip dengan buatan ibunya. Nama merek dagangnya pun tak lepas dari ‘aura’ sang ibu. Combro Omate, artinya Combro Oma Tetty, nama sang ibunda.

Combro Omate pun punya subtitle Combro Republik, “Subtitle ini hanya sebagai ciri bahwa Combro Omate hanya ada di Indonesia. Kata republik itu juga agar spirit of a belief in national superiority and glory masih kental dan terus menggema,” ungkap Surty.

Selain bentuknya yang menggoda, rasa Combro Omate ini pun memang istimewa. Rahasianya, ada di proses pembuatannya yang semua dikerjakan dengan tangan. Dari memarut singkong, dan pesanan semua disiapkan secara langsung alias fresh. Hasilnya, kata Surty adalah 3C, yaitu crispy, crusty, combro.

Isinya pun banyak variasi. Dari varian oseng oncom atau klasik, ketika digigit, Anda akan merasakan sensasi oseng oncom yang pedas dengan wangi kemangi dan rempah-rempah tradisional khas Tanah Sunda.

Ada juga varian rendang, rasanya selain bumbu rendang yang kental, Anda juga akan merasakan sensasi serundeng kelapa di lidah. “Buat Anda yang vegetarian dan veganist bisa menikmati plant-based rendang tanpa harus beli nasi padang,” ujar Surty.

Kalau mau merasakan sensasi panas (pedas), Anda bisa memilih varian merapi. Isinya balado oseng cabe giling. Cabe merah,cabe rawit, cabe ijo semua dicampur untuk menghasilkan efek letusan lava panas merapi.

Varian lain yang tak kalah menggoda, ada, sate bakar, bawang gurih sampai gula merah plus vanilla. Yang terakhir ini namanya misro, karena rasanya manis di jero (dalam).

Combro Omate rupanya mendapat sembutan baik alias cukup lancar, malah terlalu lancar kata Surty. Ini karena sang adik yang juga berprofesi sebagai pengajar di Jakarta sempat kewalahan mengeksekusi pesanan. Dan untuk menjaga kualitas, Omate pun belum bisa diproduksi massal, kecuali untuk pesanan katering yang jauh hari waktu pesannya sudah ditetapkan.

Gara-gara dibuat langsung pula, kedua kakak beradik ini pun masih menolak pesanan dari luar kota. “Pemesananya ada yang dari daerah Sumatera Barat,” ujar Surty.

Kelak menurut Surty, saat dia sudah kembali ke Tanah Air, Combro Omate ini akan terus dikembangkan, dan akan menggali lagi rahasia kesempurnaan sang combro ini dari ibundanya. Sehingga ciri khas combro ini masih bisa dilestarikan.

Yang terpenting Combro Omate akan terus inovatif terutama untuk meramaikan prospek plant-based food movement, ujar Surty. “Saya sangat semangat dengan misi the food revolution! The future of food is plant-based! Cruelty free and sustain. Sejarah dan koleksi plant-based food di Indonesia sangat panjang sudah sejak jaman leluhur,” katanya semangat.

Kreatif dan Inovatif di Situasi Apa Pun

Berbeda dengan Saleira dan Surty yang mengangkat penganan daerah di bisnisnya, dua kakak beradik lainnya, Aditya Dewantara dan Lena Yanuari, mengangkat sentuhan Barat di bisnisnya yang baru seumur jagung, yang di Insagram ada di akun @rollbunbdg.

Pada dasarnya ide dari produk kuliner ini berawal dari Cinnamon Roll yang sudah banyak dijual di Indonesia secara online pula. Tetapi yang membedakan produk @rollbunbdg, menurut Adit adalah, Roll Bun memiliki lebih banyak varian yang dibuat handmade dengan signature recipe mereka.

“Kami yakin pada saat ini, tidak banyak produk kuliner di luar sana yang serupa dengan Roll Bun yang kami buat,” kata sosok yang juga pernah bekerja sebagai koki di restoran bintang lima di Dubai selama 3 tahun ini yakin. Salah satu produk best seller mereka adalah Mixed BBQ Chicken, Chocolate, dan Tiramisu Roll. Konsumen dapat menikmati 3 varian berbeda, manis dan gurih dalam satu loyang.

Mau rasa lebih unik lagi, Anda bisa memilih varian barunya, yaitu Tuna Mentai Roll Bun, Beef Teriyaki Roll Bun, Apple Raisin Roll Bun, dan Banana Caramel Roll Bun.

Bisnis @rollbunbdg sendiri, menurut Adit, dimulai gara-gara Covid-19. “Sebagai antisipasi menghadapi situasi pandemi ini,” tukas lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata, jurusan Manajemen Tata Boga ini.

Saat wabah Covid-19 mulai menjadi pandemi global, Adit tinggal di Melbourne Australia. Saat itu, ia terkena dampaknya, tepatnya pada Maret 2020, ketika pemerintah negara bagian Victoria memutuskan menerapkan partial lockdown (serupa PSBB di Indonesia). Saat itu Adit bekerja di restoran dan terkena PHK. “Selama dua bulan saya mencoba bertahan di sana tanpa ada penghasilan, tapi pada akhirnya saya memutuskan pulang ke Indonesia pada Mei,” katanya berkisah.

Sesampainya di Indonesia pun, Adit menyadari bahwa tidak banyak peluang baginya untuk melamar pekerjaan di bidang perhotelan atau pelayanan karena situasi di Indonesia pun tidak jauh berbeda. Apalagi, dalam situasi seperti ini industri pariwisata tidak dapat beroperasional sewajarnya. “Akhirnya, saya memutuskan memulai bisnis kuliner sendiri dengan mengandalkan sosial media,” ujar pria yang pernah bekerja di dua restoran, yaitu restoran Jerman (The Bavarian), dan restoran Jepang (Rice Workshop).

Pilihan Adit dan sang kakak terjun ke bisnis online dengan produk Roll Bun tersebut seperti pilihan tepat. Terbukti, mereka mendapatkan sambutan yang baik dari konsumen. Pada umumnya, konsumennya menyukai tekstur dari Roll Bun yang lembut dipadu dengan citarasa dari berbagai variannya. Yang membuat senang, beberapa konsumennya memberi review berupa postingan story di Instagram. “Senang dan sangat menghargai sekali. Artinya, kami bersemnagat untuk melebarkan sayap bisnis kuliner ini,” ujar Adit.

Ya, review konsumen menurut Adit sangat penting dalam strategi pemasarannya yang selama ini, masih melalui Instagram. Faktanya, meski baru seumur jagung, bisnisnya sudah menampakkan titik terang. Selain ada konsumen baru, konsumen regular pun tak sedikit jadi pelanggan.

Tak heran, jika pada awalnya, mereka hanya memproduksi sekitar 12 – 20 loyang per harinya. “Kini produksinya dalam satu hari 120 sampai 200 loyang,” katanya. Harganya berkisar dari Rp 70 – 100 ribu per loyang

Kini, mereka dalam tahap penyusunan standar resep dan akan segera melakukan food tasting secepatnya. Ke depannya, jika pandemi sudah berlalu, dan bisnis sudah beroperasi seperti biasa, mereka berencana akan membuka gerai.

Menurut Adit, dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini, kita harus dapat beradaptasi menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski dalam keadaan sulit, tapi masih banyak peluang di luar sana yang dapat dimanfaatkan. “Kita bisa lihat masa ini sebagai momentum untuk menantang diri sendiri menjadi lebih kreatif dan inovatif,” katanya.

Ia menambahkan, “At the end of the day, it doesn’t matter where you are or what the situation that you are currently in, as long as you have yourself and believe in your capability, things will always be fine. We will all get through this together.”

Senada disebutkan juga pemilik @combro_omate dengan kreativitas kita bisa mengolah makanan sehat tradisional menjadi lebih menarik sekaligus melestarikannya. Plant-based alternatives are going mainstream! “Peluang untuk berkreativitas sekaligus mempropagandakan hidup sehat dan ramah lingkungan masih sangat luas di Tanah Air,” tambah Surty. (Susan Dijani)