Press "Enter" to skip to content

Kronologis lengkap penjualan senjata Ilegal libatkan pasukan Paspampres RI

Audi Sumilat (kiri). Dokumentasi Kotamanado
Audi Sumilat (kiri). Dokumentasi Kotamanado

Kasus penyelundupan senjata api ilegal seorang serdadu Amerika Serikat bernama Audi N. Sumilat, makin riuh. Apalagi, dalam surat dakwaannya, asisten jaksa penuntut umum Bill Morse menyebutkan tiga nama angota Pasukan Pengawal Kepresidenan Indonesia ikut terlibat.

Dan yang mengejutkan, kasus ini terbongkar akibat pengaduan istri pamannya, yang sakit hati karena hendak ditinggal pulang ke tanah air dan hidup bersama pacar gelapnya.

Awal Kasus Penjualan Senjata Ilegal

Syahdan, kisah ini berawal tahun 2014. Waktu itu, Audi Sumilat yang bertugas di pos Angkatan Darat Fort Bliss, El Paso, Texas, dikirim ke kamp latihan militer di Fort Benning, Georgia. Tampaknya Audi Sumilat, tentara berdarah Kawanua, Sulawesi Utara itu diminta mendampingi tiga perwira militer Indonesia yang sedang mengikuti latihan militer di Fort Benning, Georgia. Dalam dakwaan jaksa disebutkan, ketiga perwira Indonesia itu adalah Erlangga Perdana Gassing, Danang Prasetyo Wibowo dan Arief Widyanto yang kemudian menjadi anggota pasukan pengawal kepresidenan RI.

Dalam waktu singkat, mereka pun akrab. Apalagi Audi Sumilat, sersan berusia 36 tahun yang pernah ditugaskan ke Irak dan negara lain itu, dikenal rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. ‘’Pernah diminta salah seorang warga agar media ibukota menulis kisahnya, tapi dia tolak,’’ tutur seorang anggota komunitas Manado di New York.

Audi Sumilat di El Paso/dokumentasi Kotamanado
Audi Sumilat di El Paso/dokumentasi Kotamanado

Di waktu senggang, Audi menawari ketiga perwira militer itu membawa senjata ke Indonesia. Sebuah sumber di komunitas Indonesia di New Jersey mengungkapkan, ‘’Penyelundupan barang-barang ilegal, seperti narkoba dan senjata dari AS ke Indonesia banyak dikirim lewat pesawat pribadi sejumlah pengusaha Indonesia,’’ tuturnya serius.

Apalagi Audi punya paman bernama Feeky Ruland Sumual, seorang pengusaha di New Hampshire, yang mengaku sering berdagang senjata. Seorang pengusaha elite di New York bercerita seorang warga keturunan Indonesia pernah menawarkan jasanya kepada seorang diplomat muda di Konsulat Jenderal RI di New York. ‘’Kalau ingin beli senjata, sama saya saja mas,’’ tutur pengusaha itu menirukan.

Tapi tawaran itu ditolak diplomat itu. ‘’Malah minta diberi fasilitas menginap di lantai atas gedung KJRI New York segala. Tapi ditolak,’’ tutur pengusaha itu menambahkan. Sedangkan Feeky Sumual punya famili berusaha di bidang kuliner di New York.

Dua puluh dua Pucuk Senjata

Singkat kata, tawaran Audi rupanya disambut antusias dan keempatnya menyusun rencana pada bulan Oktober 2014. Mereka yakin, senjata itu mudah disusupkan ke dalam pesawat kepresidenan saat Presiden Joko Widodo akan berkunjung ke AS sekitar bulan September atau Oktober 2015.

elpaso
Toko senjata El Paso Gun Exchange, Texas

Menjelang hari yang menentukan itu, Audi Sumilat bersama istrinya Fanny Sumilat berkunjung ke toko senjata El Paso Gun Exchange, Texas untuk membeli senjata. Beberapa senjata genggam yang dibelinya adalah pistol Glock model 17 9 mm dan Glock model 19 9 mm, buatan Austria, yang sangat disukai anggota TNI. Pasangan Sumilat itu juga membeli dua buah pistol Glock Medal 43 9 mm dan sebuah pistol jenis Heckler & Koch Model P30L 9 mm, buatan Jerman.

Kepada petugas di El Paso Gun Exhange, Audi minta agar ketujuh buah senjata api itu dikirim ke sebuah toko milik Feeky Sumual di New Hampshire. Mendengar permintaan itu, pemilik toko El Paso sempat kaget dan bertanya kenapa tidak dibawa saja. Audi beralasan, ‘’Saya akan keluar dari satuan militer, dan akan melakukan perjalanan panting dari Texas ke New Hampshire. Takut repot di jalan. Kirim saja deh,’’ katanya.

Kiriman senjata itu pun diterima utuh oleh Freeky Sumual. Selain tujuh senjata kiriman Audi Sumilat dari El Paso, Texas, Freeky juga membeli 12 senjata genggam lainnya di New Hampshire, sehingga seluruhnya berjumlah 22 senjata pistol, dengan nilai total $ 21 ribu atau hampir Rp 300 juta.

Tidak jelas berapa harga jual Freeky dan Audi kepada tiga anggota Paspampres. Atau berapa besar ke-3 pasukan elite Indonesia itu akan menjual ke pembeli di Indonesia. Ada kemungkinan bila penjualan perdana ini berhasil, maka mereka akan melanjutkan penjualan senjata ini.
Lighthouse - Soothe the soul, rekindle your wanderlust. Shop Now.

Kisah Terbongkarnya Kasus itu

Namun yang tak disadari mereka, ada satu orang dekat yang mengetahui rencana busuk itu dan berniat membongkarnya. Orang dekat itu tak lain adalah Tuti Budiman, istri Freeky Sumual yang mengetahui sejak awal tingkah laku suaminya. Selain itu, Tuti mencium rencana suaminya yang menyakitkan hati: Freeky Sumual akan meninggalkannya dan pulang ke tanah air, menyusul pacar gelapnya.

Berbekal dendam dan sakit hati itulah, Tuti Budiman mengontak kantor polisi Dover di New Hampshire dan menuturkan, suaminya akan menyelundupkan senjata ilegal. Dalam dakwaan jaksa, Tuti Budiman menyebutkan, ‘’Freeky Sumual akan bepergian ke Washington DC dan mengirim pesanan senjata kepada sejumlah orang yang membeli senjata tanpa dibekali surat jual beli,’’ bunyi dokumen itu.

jokowi1

Beberapa hari menjelang rombongan Presiden Jokowi tiba di Washington DC, September 2015, satuan polisi Dover  berhasil menangkap dua tersangka penjual senjata gelap. Mereka adalah Audi N. Sumilat dan pamannya Freeky Ruland Sumual. ‘’Presiden Jokowi belum pernah berkunjung ke Gedung PBB seperti diberitakan media lainnya,’’ tutur Benny YP Siahaan, Acting Konsul Jenderal RI di New York.

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Federal New Hampshire, Audi Sumilat mengaku bersalah atas sejumlah tuduhan konspirasi penjualan senjata ilegal. Di antaranya memberikan keterangan palsu dan penjualan senjata ilegal. Audi yang akan dikenai ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda maksimum $ 250 ribu, akan divonis 11 Oktober 2016 mendatang. Sedangkan Freeky Ruland Sumual baru akan diadili 19 Juli nanti.

Audi N. Sumilat Masih Aktif jadi Tentara AS

Sejauh ini, Sersan Audi N. Sumilat masih aktif menjadi anggota militer AD di Fort Bliss. Kepada stasiun televisi CBS, jurubicara Fort Bliss, Letnan Kolonel Craig Childs mengaku, ‘’Kami masih melakukan investigasi kasus ini, dan akan melakukan tindakan yang sepatutnya,’’ ujar Craig Childs.

Petugas Biro Alkohol, Tembakau, Senjata api dan Bahan Peledak AS melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus penjualan senjata ilegal seperti ini. ‘’Namun baru kali ini, kami menjumpai bahwa beberapa petugas negara asing terlibat dalam komplotan ini,’’ tutur Bill Morse, asisten Jaksa Agung AS.

Catatan pengadilan tidak menyebutkan ketiga anggota Paspampres yang disebut dalam dakwaan jaksa — yakni Erlangga Perdana Gassing, Danang Prasetyo Wibowo dan Arief Widyanto — dituduh ikut dalam kejahatan kriminal ini. Dokumen pengadilan hanya menyebutkan bahwa ‘’Polisi Militer Indonesia telah menyita senjata ilegal di Indonesia’’.

Pihak Konsulat Jenderal RI New York yang membawahi kawasan New Hampshire juga tak tahu menahu soal ketiga anggota Paspampres itu. Tapi, bila ada warga Indonesia yang mengalami kasus hukum di AS, ‘’Kami akan mendampingi setiap warga Indonesia, seperti yang kami lakukan selama ini,’’ tutur Benny YP Siahaan.

Komandan Paspamres, Brigjen Marinir Bambang Soewantono juga mengaku tidak tahu soal pembelian senjata ilegal oleh ketiga anggotanya. ‘’Saya malah dapat informasi dari teman-teman media,’’ kata Bambang Soewantono, pekan lalu. Menurutnya, pembelian senjata dilakukan langsung oleh Markas Besar TNI dan Kementerian Pertahanan RI.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) berjabat tangan komando dengan Komandan Paspampres Brigjen TNI (Mar) Bambang Suswantono (kanan) dan Mayjen TNI Andika Perkasa (kiri) usai Upacara Serah Terima Jabatan di Markas Komando Paspampres, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (25/5). Brigjen TNI (Mar) Bambang Suswantono yang sebelumnya menjabat Wakil Komandan Paspampres menggantikan Mayjen TNI Andika Perkasa yang selanjutnya akan menjabat dan bertugas sebagai Panglima Kodam XII/Tanjung Pura. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/ama/16.
Mayjen Andika Perkasa, Jenderal Gatot dan Brigjen Bambang Soewantono (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Bambang Soewantono memang baru diangkat menjadi Komandan Paspampres, Mei lalu. Perwira tinggi yang semula menjabat sebagai wakil komandan Paspamres itu menggantikan Mayor Jenderal Andika Perkasa, yang ditugaskan menjadi Komandan Daerah Militer Tanjungpura, Kalimantan Barat.

Banyak yang menduga penggantian tersebut dilakukan karena Mayjen Andika Perkasa, tersandung kasus penjualan senjata ilegal ini. ‘’Saya tidak terima surat pemberitahuan mutasi kok. Justru saya dipanggil Presiden tadi malam untuk penugasan di tempat baru,’’ kata Andika Perkasa, menantu Mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendro Priyono tersebut.

DP

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *