Press "Enter" to skip to content

Gerak Jalan Massal anti Pemerintah Washington

Sejumlah kelompok yang terdiri dari pemuka agama dan aktivis agama melakukan gerak jalan masal, menuntut Presiden Donald Trump diturunkan dari Gedung Putih.

Harian The Los Angeles mengabarkan Selasa (28/8/2017), aksi gerak jalan itu dimulai dari jantung kota Virginia menuju Washington DC. Perjalanan sepanjang 189 kilometer yang diperkirakan bisa ditempuh dalam waktu 10 hari itu, telah dimulai hari Senin kemarin. ‘’Kami meminta agar negara ini mendengar suara kami. Mendengar bahwa kami menuntut perubahan dan seluruh ujaran kebencian dihentikan,’’ kata Joseph Scott, karyawan di restoran University of Virginia.

Di bawah lampu jalanan di musim panas ini, para organisator gerak jalan itu menyebut ‘’Mars untuk Mengkonfrontasi Supremasi Putih’’ adalah aksi damai dan mewujudkan persatuan kembali. Sejumlah pidato mengawali langkah pertama gerak jalan kaum pemuka agama itu. Mereka juga menyuarakan anti-Trump yang dituduh menimbulkan kebangkitan nasionalis putih. ‘’Presiden juga mengeluarkan perintah untuk mengusut penipuan penghitungan suara yang sebenarnya tidak ada,’’ kata Cornell William Brooks, pendeta dan bekas presiden kelompok kulit berwarna NAACP.

Bersama 200 orang pendukung lainnya, mereka bergerak meninggalkan Lee Park, Taman Emansipasi di Charlottsville. Mereka juga berdoa dan bernyanyi disaksikan kelompok kulit putih sayap jauh yang ikut berdemonstrasi di acara penurunan Patung Jenderal Robert E. Lee pada 12 Agustus lalu.

Aksi gerak jalan massal ini pernah berlangsung pada tahun 1963 yang dipimpin oleh Pendeta Martin Luther King Jr di Washington DC. ‘’Sedih rasanya, kita harus kembali ke zaman dulu lagi,’’ kata Kristin Breen yang tinggal di Charlottsville selama 18 tahun. ‘’Tapi melihat mereka berjalan kaki dengan damai, sungguh memukau,’’ katanya. Sementara itu ratusan pendeta dan pemuka agama melakukan gerak jalan massal menuju Departemen Kehakiman Senin kemarin, untuk memprotes kata-kata dan tindakan yang dilakukan Presiden Donald Trump.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *