Press "Enter" to skip to content

Petruk Jadi Robot Wartawan di Markas Beritagar.id

Kalau dulu ada lakon ‘’Petruk Dadi Ratu’’ maka kini ada ‘’Petruk Jadi Robot’’. Salah satu punakawan berhidung panjang dan paling kritis di antara saudara-saudaranya itu, digunakan namanya sebagai salah satu program komputer robot wartawan oleh portal berita Beritagar.id.

Selain Petruk, ada Semar, Kresna, Praboe dan Palgunadi yang memiliki peran masing-masing sebagai pendukung robot wartawan. Robot ini, diciptakan oleh Jim Geovedi, ahli Teknologi Informasi kelahiran Palembang, yang mencuat namanya karena berhasil membelokkan arah satelit di angkasa luar.

Seperti lazimnya robot wartawan di mancanegara, robot wartawan milik Beritagar.id itu, mampu menyajikan berita dalam hitungan detik. Bahkan tahun 2018 mendatang, Beritagar menyediakan kanal khusus robot jurnalisme yang mampu menghasilkan berita secara langsung tanpa melewati proses editing. ‘’Belum ditentukan berapa volume artikel yang akan dihasilkan. Sekitar 50 hingga 100 buah artikel dengan panjang tulisan 300 hingga 500 kata,’’ tutur Yusro M. Santoso, Pemimpin redaksi Beritagar.id.

Yusro M. Santoso (tengah) bersama tamu di kantor Beritagar.id

Sejak didirikan tahun 2015, portal Beritagar.id memang dimaksudkan untuk membangun sebuah media baru berbasis teknologi. Portal berita tersebut harus bersaing dengan 300 lebih media berbahasa Indonesia, dan bertekad menerbitkan berita setiap hari.

Bahkan beberapa di antaranya dihadirkan selama 24 jam. Karena itu, butuh teknologi yang mampu mengumpulkan dan menganalisa untuk diolah menjadi berita dalam waktu singkat. Dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh Robot wartawan. Robot wartawan bukan berupa sosok manusia elektronik yang gerakannya kaku namun serba bisa itu.

Robot wartawan, yang juga dipanggil ‘Bot’, adalah sejumlah perangkat lunak Machine Learning atau ML, dan Natural Language Processing, NLP, yang mampu mengolah data ditulis dalam bentuk laporan. Misalnya hasil pertandingan sepakbola, siapa pencetak gol, di menit ke berapa dan seterusnya. Data yang sebelumnya telah disusun secara terstruktur itulah yang akan diolah menjadi tulisan lengkap.

Jim Geovedi (kiri) dalam pertemuan para hackers dunia. (koleksi pribadi)

Sejauh ini, perangkat lunak seperti itu baru berbasis Bahasa Inggris. Sedangkan untuk bahasa Indonesia masih minim. ‘’Tim kami harus belajar dari penerapan ke bahasa non-Inggris, dan membuat implementasinya ke bahasa Indonesia,’’ tutur Yusro M. Santoso.

Mengingat prasyarat utamanya memiliki korpus data agar dapat dimengerti oleh perangkat lunak, maka Jim Geovedi mengembangkan sendiri korpus tersebut. ‘’Maklum korpus berbahasa Indonesia belum tersedia untuk publik,’’ sambung Yusro. Padahal, korpus berperan penting untuk mengajari mesin komputer tentang hubungan makna antar-kata, struktur kalimat, kelas kata dan lainnya, dalam kalimat berbahasa Indonesia.

Akankah profesi wartawan bakal tergusur dengan kehadiran robot wartawan? ‘’Ketakutan bakal digantikan oleh mesin atau robot sudah ada sebelum lahirnya film Metropolis karya Fritz Lang 1927,’’ tulis The Media Briefing. Bahkan pada 1811, para pekerja Inggris menghancurkan sejumlah mesin karena takut kena gusur. Namun, posisi wartawan sulit digantikan robot wartawan, mesin yang cuma menghasilkan artikel kering dan pas-pasan seperti kantor berita umumnya. Tidak ada nuansa, reportase pandangan mata, gambaran suasana yang membuat cerita lebih menarik untuk dibaca.

 

Jadi, wartawan tidak bakal tergusur oleh robot jenis ini? Menurut Yusro M. Santoso, sejauh ini tidak ada personel yang tergusur karena keberadaan mesin/robot penulis. ‘’Mesin masih punya keterbatasan dalam membuat tulisan, sehingga masih banyak ruang bagi manusia (jurnalis) untuk berkarya. Misalnya rubrik Bincang atau Figur yang dimiliki Beritagar.id, juga in depth report, yang sejauh ini belum bisa digantikan oleh mesin.

‘’Dengan 29 orang personel di redaksi saat ini, Beritagar.id masih membuka kemungkinan untuk melakukan penambahan personel,’’ katanya lagi. Apalagi, ’’Dari 50 kurasi berita yang diturunkan Beritagar.id per hari, masih dengan sentuhan editor, walau lebih dari 60 persen bahan dipersiapkan robot,’’ tuturnya. Sedangkan liputan lapangan oleh wartawan dan wawancara, terdiri dari 7 artikel panjang, setiap hari.

Jadi, hal ini menjadi kabar gembira bagi para wartawan Indonesia? Belum tentu. Olanrewaju dan pengamat dari McKinsey & Company yang meneliti tentang otomatisasi di sejumlah bidang pekerjaan, mengungkapkan temuan menarik. Para pekerja ‘Kerah Biru’ menyusut jumlahnya karena kehadiran robot. Sebaliknya, para karyawan ‘Kerah Putih’ – wartawan termasuk dalam kelas ini – malah meningkat jumlahnya. ‘’Yang menurun justru nilai dan gaji mereka,’’ kata Olanrewaju.

Menurut Olanrewaju, indeks gaji karyawan ’Kerah Putih’ yang posisinya paling dasar, akan mendekati gaji pekerja ‘Kerah Biru’ ‘’Sementara para wartawan tampaknya tak bakal digantikan posisinya oleh robot, namun di masa depan proses otomatisasi robot membuat pekerjaan mereka makin mudah, sehingga gaji seorang yunior misalnya, menjadi lebih murah,’’ kata Olanrewaju.

Hal yang sama juga diutarakan John, redaktur inovasi di harian The Financial Times, ‘’Kita tidak ketinggalan jaman kok. Cuma sedikit kena devaluasi,’’ ujarnya. Melihat tanda-tanda seperti itu, rasanya layak menyimak saran Yusro M. Santoso.

Pemimpin redaksi Beritagar.id yang membawahi 29 wartawan dari total 98 karyawan itu memberikan kiat berikut: ‘’Laporan yang sifatnya berulang, memang bisa digantikan oleh robot, tapi laporan jurnalistik tidak dapat digantikan mesin. Karena itu, para wartawan harus meningkatkan kemampuan jurnalistiknya lebih spesifik. Termasuk investigasi, cara wawancara yang kritis, juga in depth report dan lainnya. Hal ini tidak dapat akan digantikan oleh robot,’’ katanya menutup pembicaraan. DP.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *