Press "Enter" to skip to content

Alta Marie: ”Suamiku Menjadi Perisai Putra Kami”

Dua korban penembakan asal Indonesia, Zulfirman Syah dan Averroes Syah, dikabarkan mulai stabil kondisinya. Tantowi Yahya, Dubes RI Selandia Baru yang baru saja mengunjungi mereka di General Hospital Christchurch, Jumat pekan lalu, menjelaskan bahwa Zulfirman telah dipindahkan dari ruang Gawat Darurat, sementara putranya diperbolehkan pulang ke rumahnya. ”Berita bahwa Zulfirman meninggal dunia adalah kabar bohong atau hoax,” lanjut Tantowi Yahya.

Kepada situs nzherald.co.nz, Alta Marie, istri Zulfirman bercerita bahwa ia menerima telepon dari suaminya, saat ia memasak. Awalnya tak begitu jelas, namun beberapa detik kemudian, baru disadari terjadi penembakan massal di Masjid Linwood. ”Suamiku menjadi perisai putra kami, sehingga ia menerima banyak tembakan dan luka parah dibandingkan putra kami,” tulis Alta Marie di akun Facebook miliknya.

Menurut Alta Marie, Averroes Syah menjalani operasi untuk mengeluarkan serpihan peluru. ”Kondisinya membaik. Jururawat dan staf rumah sakit menghibur anak kami yang memang periang, banyak bicara dan energetik,” tulis Alta Marie. ”Saya merasa beruntung karena keluarga saya masih selamat,” lanjut wanita warga Amerika Serikat itu.

Alta Marie menggendong Averroes, putranya. (gofundme.com)

Penggalangan dana lewat Go Fund Me untuk membantu keluarga Zulfirman Syah telah diterbitkan oleh rekan-rekan Alta Marie. Hingga akhir pekan lalu dana yang terkumpul hampir $ 15.000 atau sekitar Rp 140 juta.

 

Menurut situs nzherald.co.nz, jumlah korban yang tewas dalam tragedi di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Christchurch bertambah menjadi 50 jiwa. ”Usia mereka antara 2 hingga 60 tahun ke atas,” tulis situs itu. Sementara, dari 50 korban luka-luka, yang masih dirawat di General Hospital Chritschurch berjumlah 36 orang dan 11 di antaranya dalam kondisi kritis.

Brenton Harrison Tarrant, pelakunya telah dihadapkan ke pengadilan, dengan tuduhan pembunuhan. Seorang lelaki lainnya telah ditangkap usai peristiwa mengenaskan itu, sedangkan seorang perempuan telah dibebaskan, setelah ditahan beberapa jam.

Situs nzherald.co.nz mengungkapkan, Kantor PM Selandia Baru Jacinda Ardern menerima manifesto dari Brenton Harrison Tarrant sekitar 10 menit sebelum peristiwa penembakan itu. 70 kantor media lokal dan internasional juga menerima manifesto yang intinya menyebutkan ”Alasan pelaku melakukan hal itu, tapi tidak menyebut bahwa dia hendak melakukan pembantaian di dua masjid di Christchurch,” tulis nzherald.co.nz.

Brenton Harrison Tarrant, warga Australia ditangkap di Brougham Street, dan dipaksa keluar dari mobilnya oleh dua petugas kepolisian Selandia Baru. Tarrant yang tinggal di Kota Dunedin, Selandia baru sejak dua tahun itu, membawa lima pistol dan dua senjata otomatis laras panjang dalam penembakan tragis itu. Brenton Harrison Tarrant yang memiliki surat kepemilikan senjata pada November 2017 itu, menuliskan sejumlah nama pelaku penembakan rasial di dua senjata otomatis itu. Artinya, lelaki Australia berusia 28 tahun itu, memang rasialis anti-Muslim. (DP).