Press "Enter" to skip to content

Pertemuan Warga Indonesia dengan Pejabat Kepolisian Philadelphia

Pertemuan antara warga Indonesia dengan pihak kepolisian Philadelphia itu dimulai sekitar pukul 12.00 waktu setempat, Sabtu 6 Januari 2020. Sekitar 100 warga Indonesia memenuhi ruang pertemuan di Gereja Nations Worship Center Philadelphia.

”Saya berterima kasih kepada komunitas Indonesia yang datang ke pertemuan ini,” tutur Kapten Polisi Louis Campione. Komandan Kepolisian Distrik 1, South Philadelphia, yang mengawasi sebagian besar kawasan South Philadelphia. Bersama Kapten Michael O’Donnel, Kapolres Distrik 17 Philadelphia, kedua pejabat tinggi kepolisian itu membahas meningkatnya aksi perampokan yang dialami warga Indonesia yang tinggal di kawasan South Philadelphia, sejak dua bulan terakhir ini. ”“Biasanya meeting dengan komunitas lain hanya dihadiri 5-6 orang. Ini sampai ratusan. Sungguh menggembirakan,” kata Lou Campione memuji kekompakan warga Indonesia.

Setelah pembawa acara Pastor Aldo Siahaan, membeberkan urutan kejadian yang menimpa warga Indonesia, Kapten Lou Campione membuka pidato sambil memperkenalkan beberapa pimpinan komunitas lain, dan pejabat walikota Philadelphia.

”Saya berterima kasih atas kehadiran warga Indonesia di sini,” ujarnya dengan suara tegas dan wajah serius. Aksi perampokan dan kriminalitas belakangan ini, menurutnya terjadi di kawasan lain. Kecenderungan itu selalu meningkat menjelang Natal dan akhir tahun. ”Para perampok mengambil kesempatan dalam kasus-kasus ini. Terutama bagi warga Asia yang umumnya membawa uang tunai, atau minim berbahasa Inggris,” katanya.

”Mereka yang membawa telepon seluler, tak memperhatikan sekitar, akan menjadi sasaran empuk bagi para perampok,” ujar Lou Campione dengan tegas dengan wajah serius. ”Karena itu, anda harus waspada. Jangan bawa tas atau dompet. Jika diikuti seseorang, maka berjalanlah berpindah-pindah jalur. Jika harus ke luar rumah, ajak beberapa orang,” kata Campione yang tampak seram dengan seragam lengkap dan jaket hitamnya, serta pistol di pinggang. Kapten Louis Campione menyarankan untuk memelihara anjing di rumah. ”Karena para perampok akan segan dan takut bila ada anjing di dalam rumah,” jelasnya.

Bila mengalami aksi perampokan, usahakan kenali ciri-ciri pelaku, seperti warna rambut, warna kulit, warna tutup kepala, wajahnya seperti apa. ”Kami juga akan memberikan dukungan transportasi bila ingin melapor ke kantor polisi,” lanjutnya.

Upaya pencegahan seperti itu, juga ditambahkan oleh Kapten Polisi Michael O’Donnel Kapolres Distrik 17 Philadelphia. ”Jika terpaksa membawa tas, sebaiknya taruh di depan badan,” tuturnya. ”Serahkan apa yang diminta, seandainya mengalami aksi perampokan. Jangan melawan,” tutur Michael O’Donnel. ”Usahakan mengenali pakaian yang dikenakan tersangka. Misalnya merk pakaian atau sepatu. Jangan membawa uang tunai,” kata Michael O’Donnel.

Lebih lanjut perwira polisi bertubuh jangkung ini menjelaskan, para tersangka pelaku mengetahui stereotipe warga masyarakat yang membawa uang tunai. Lebih-lebih pada saat menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, yang biasanya membawa uang untuk dikirim ke tanah air. ”Yang menjadi sasaran utama adalah Asia, Latin, dan warga China yang minim berbahasa Inggris,” kata Michael O’Donnel. Perwira polisi itu juga tak lupa menyarankan, agar korban sedikitnya tahu dan belajar beberapa kata seperti warna kulit, lokasi kejadian, dan warna pakaian serta lainnya.

Dalam kesempatan itu, Kapten Lou Campione menyarankan agar komunitas Indonesia sering mengelar pertemuan, atau membentuk relawan setempat untuk berpatroli di kawasan South Philadelphia. Selain itu, perwira polisi ini memberitahukan tentang teori ‘Broken Window Theory’. ”Artinya, tolong perbaiki jendela rumah dan memelihara rumah agar tampak bersih dan terpelihara.

Dengan demikian para penjahat tahu bahwa di dalam bangunan itu ada penghuninya. Rumah tidak dibiarkan kosong,” tuturnya. ”Di kawasan yang rapi dan terpelihara, angka kriminalitas terlihat menurun cukup tajam dibandingkan kawasan yang rusuh dan tak terpelihara,” jelas Lou Campione.

Salah satu kawasan di South Philadelphia.

Dalam diskusi itu, banyak warga Indonesia yang memberikan usul pencegahan. Satu di antaranya yang menonjol, untuk melengkapi diri dengan ‘Pepper Spray’ atau alat semprot mata. ”Alat itu merupakan alat paling ampuh untuk menangkal upaya perampokan,” tutur Ary Laksamana Widjaja. Police attache KBRI Washington DC yang ikut hadir dalam pertemuan itu, memberikan pula sejumlah saran terhadap para warga Indonesia di acara tersebut.

Tapi ”Saya tidak menyarankan, seseorang memiliki senjata api,” tutur perwira polisi Indonesia ini. Alasannya, ”Bila perampok melihat senjata api di pinggang anda misalnya, maka mereka akan melepaskan tembakan ke anda,” kata Ary dalam sesi diskusi lain yang dihadiri banyak warga Indonesia.

Saran lain yang diusulkan warga, antara lain menempatkan sebuah mobil patroli di kawasan South Philadelphia, dengan harapan, para calon kriminal takut melakukan aksinya. Namun usul itu tidak bisa dipenuhi Lou Campione dengan alasan ”Kurangnya personil dan mobil polisi di jajaran Kepolisian Philadelphia,” tutur Lou Campione.

Karena itu ada yang menyarankan agar di beberapa toko atau Laundry (tempat cuci pakaian umum), disediakan buku kehadiran atau buku log, yang akan diisi oleh petugas patroli kepolisian. ”Kami akan menambah patroli di kawasan ini dalam waktu dekat ini,” kata Kapten Lou Campione berjanji di hadapan warga Indonesia.

Kombes Pol. Ary Laksamana Widjaja bersama warga Indonesia.

Sementara itu, untuk membantu warga Indonesia, beberapa pejabat Indonesia memberikan kesempatan agar menghubungi pihak KJRI maupun KBRI. Di antaranya disuarakan oleh Irwan Datulangi, dari bagian konsuler KJRI New York dan Ary Laksamana Widjaja.

”Saya memang tidak memiliki hak atau otoritas untuk menangani kasus kriminal di sini, namun saya punya akses atau membantu kejadian kriminal kepada pihak kepolisian Philadelphia,” tutur Ary. ”Kami punya belasan pastor, pemuka agama dan masjid di Philadelphia, yang bisa digunakan sebagai akses bagi warga Indonesia oleh pihak kepolisian setempat,” tutur Irwan Datulangi.

Sementara itu, Pastor Aldo Siahaan meminta kesediaan kepolisian Philadelphia untuk memberikan kepastian kapan akan meningkatkan patroli di kawasan South Philadelphia. ”Kami ketakutan saat ini, dan kami minta ketegasan, kapan petugas kepolisian bisa hadir dan berpatroli di kawasan ini,” kata Pastor Aldo Siahaan, Pastor Philadelphia Praise Center.

Menanggapi hal itu, Joe Campione menyatakan tidak mampu memenuhi semua itu, karena jumlah personil yang terbatas. ”Kami hanya bisa meminta agar warga Indonesia waspada dan selalu awas dengan sekelilingnya,” kata pimpinan polisi itu. Selanjutnya, Joe Campione meminta agar warga Indonesia yang berusia muda untuk mendaftarkan diri menjadi anggota kepolisian Philadelphia, sambil menunjukkan email dan nomor telepon kantornya 215-686-3012.

Selain dihadiri belasan tokoh agama setempat, pertemuan ini dihadiri pula oleh Tram Nguyen, dari organisasi Victim Advocate at Victim-Witness Services of South Philadelphia. ”Silakan menghubungi saya atau datang ke kantor kami memberi pengaduan atau melapor. Kami juga memiliki penerjemah bahasa Indonesia dan bahasa lain,” tutur Tram Nguyen memberikan alamatnya: 1800 Jackon Street Philadelphia, 19145. Telpon: 215-551-3360.

Sementara itu, Albert Randy Duque, Human Relations Deputy Director Community Relations menjelaskan, ”Pihak walikota Philadelphia mengetahui hal ini, dan melakukan kerjasama dengan beberapa pihak terkait,” katanya. Yang mengejutkan hadirnya Danu, salah satu korban yang kisahnya telah ditulis di Indonesialantern.com edisi terdahulu.

(Baca juga: Aksi Kekerasan Terhadap Warga Indonesia di Philadelphia Makin Marak)

(Artikel: DP & Indah Nuritasari/Video DP)