Press "Enter" to skip to content

Paguyuban Tiyang Jawi Lahir di Washington DC, USA

Satu lagi komunitas Jawa lahir di AS dengan nama Paguyuban Tiyang Jawi. Komunitas Jawa yang disingkat PTJ itu, memproklamasikan diri lewat sebuah acara kumpul-kumpul bertema `Ngumpulke Balung Pisah’ atau ‘Mengumpulkan kembali Tulang yang Terpisah’ pada hari Minggu 23 Februari 2020 lalu.

 

Dengan didahului upacara potong tumpeng dan doa, acara peresmian PTJ itu berlangsung meriah dan sukses. Sekitar 300 orang berasal dari pelbagai daerah Jawa, datang dalam acara yang digelar di aula Wisma Indonesia, KBRI di Jalan Tilden, Washington DC.

Suasana Jawa yang guyub semakin terasa kental, karena dipandu oleh Lantip Sri Sadewo, pembawa acara yang menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil khas dan istimewa. Bahasa Jawa yang sulit dicerna warga biasa ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jawa sederhana oleh Endang Isnaini Saptorini. ”Mosok orang Jawa kalah dengan komunitas lain yang telah membentuk grup sendiri-sendiri,” tutur Sadewo, lulusan IKIP Semarang.

Tiga sesepuh warga Jawa di Washington DC diberi potongan tumpeng oleh Bandi Wiyono, pimpinan Reog Singolodoyo. Ketiga sesepuh itu adalah Pak Yudho Sasongko dari KBRI, Pak Indradi dan Pak Muryanto. Sebelum pemotongan dan doa, dilakukan pula ‘Brokohan’ atau ‘kajatan’ ala Jawa yang disampaikan Pak Hadi dalam bahasa Jawa Kromo Inggil yang juga diterjemahkan oleh Endang Isnaini Saptorini.

Acara kumpul-kumpul itu semakin gayeng dengan tersedianya berbagai makanan khas Jawa yang disumbang para tamu. Tercatat 60 jenis makanan yang tersedia di acara itu, seperti Gethuk Goreng Sukaraja; Polo Pendem, Wingko Babat, Mie Goreng Banyumas, Tahu, Bandeng Presto, Rujak Petis, Oseng Tempe, Jangan Terong, Wedang Jahe Rempah, Badak Semarang, Gethuk Lindri dan lainnya. ”Kantong Ziplog yang disediakan panitia, ternyata tak terpakai karena semua makanan habis ludes,” tutur Sadewo, pembawa acara yang malam itu terlihat tampan mengenakan beskap hitam dan blangkon emas.

Kelahiran kelompok PTJ, sebenarnya telah lama jadi angan-angan. Upaya pembentukan komunitas Jawa selalu muncul di setiap pertemuan masyarakat Jawa, sejak pertengahan tahun 2019. Namun upaya itu tergilas waktu dan kesibukan masing-masing. ”Apalagi ada Pemilu dan acara lainnya,” tutur Supriyono salah satu penggagas PTJ. ”Baru pada 25 Oktober tahun lalu, saya bikin grup WhatsApp dengan nama Paguyuban Tiyang Jawi dengan gambar Bagong,” tambah lelaki asal Kediri ini.

Acara Potong Tumpeng dan Brokohan (Koleksi PTJ)

Setelah menunjuk beberapa teman sebagai admin, ternyata grup yang tadinya terisi belasan orang mendadak berkembang menjadi sebuah grup yang terdiri dari 200 orang lebih. ”Sampai kini, anggotanya sudah mencapai 253 orang. Karena aplikasi WA membatasi member hanya 256 orang, maka kami akan membuat grup Facebook,” tutur Supriyono.

Dalam acara kumpul-kumpul di Wisma Indonesia itu, disepakati untuk membentuk tim formatur. Tim inilah yang akan mengadakan serangkaian pertemuan dan membentuk pengurus PTJ. Anggotanya terdiri dari: Para wakil Jatim, Ibu Campbel, Surabaya, Pak Hananto dari Banyuwangi, Pak Yudho Sasongko dari Ponorogo, Sophia Sukadi, Madiun. Sedangkan wakil dari Jawa Tengah ada Sonia dan Mas Diki, Yogyakarta, Mbak Nona, Salatiga, Mbak Nana dari Tegal, Mbak Ale dari Kroya/Cilacap, dan Mas Oho serta Mas Tiyok dari Semarang.

Kelak setelah terbentuk, pengurus utama PTJ akan menentukan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga kelompok ini. ”Apakah organisasi ini akan menjadi non-profit atau perusahaan profit atau LLC,” jelas Supriyono. Sementara Sadewo berpendapat bahwa PTJ janganlah seperti organisasi yang belakangan ini muncul secara tiba-tiba. ”Yang penting, PTJ bukan Sunda Empire, dan tidak berpolitik,” kata Sadewo.

Sri Sadewo (koleksi PTJ)

Adapun berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan PTJ di antaranya memperkenalkan budaya dan kesenian Jawa kepada generasi muda Indonesia atau kepada siapa saja yang berminat. ”Termasuk mengajarkan Bahasa Jawa, karena ada seorang guru yang bersedia mengajarkan Bahasa Jawa,” tutur Supriyono.

”Tujuan kami murni nguri-nguri (memperkenalkan) budaya Jawa, baik kepada warga lain maupun generasi penerus,” kata Sadewo menimpali. ”Menciptakan komunikasi antar sesama warga Jawa. Ben tetep njawani,” sambungnya.

Untuk sementara ini, para anggota PTJ dibatasi hanya mereka yang berasal dari tiga negara bagian: Washington DC, Maryland dan Virginia. Maklum, dikhawatirkan beberapa peminat dari luar tidak bisa menghadiri acara atau program-program yang diselenggarakan PTJ karena letak geografi yang berjauhan. Lagipula, banyak juga kelompok Jawa dari kawasan lainnya. Seperti Kelompok Cakra di New York dan di Pantai Barat AS.

Supriyono Potong Tumpeng (Koleksi PTJ)

Definisi orang Jawa yang termasuk dalam PTJ, menurut Supriyono, adalah mereka yang berasal dari suku Jawa, atau yang mengenal kultur Jawa dan mampu berbahasa Jawa. ”Karena itu, dalam acara pertemuan di Tilden, para tamu diminta menggunakan Bahasa Jawa selama acara digelar,” kata Supriyono.

Karena itu jangan heran bila dalam acara lahirnya PTJ, banyak tamu yang menyanyi atau menari lagu Jawa, dan lebih gayeng ngobrol dalam bahasa Jawa. Lagu Jangkrik Genggong misalnya, dipersembahkan oleh sebagian hadirin yang secara spontan membentuk grup band.

Brahma Kumbara in action (Koleksi PTJ)

Brahma Kumbara berinisiatif memetik gitar mengiringi lagu Jangkrik Genggong, lagu karangan Ki Nartosabdo yang dibawakan salah seorang ibu. Anang Dwiantoro, tampak menari dengan gemulai bersama seorang penari perempuan. Maklum Anang yang biasa dipanggil Mas Totok yang dikenal sebagai penyanyi dan penari andalan Reog Singolodoyo, adalah lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sukses dan selamat atas lahirnya Paguyuban Tiyang Jawi atau PTJ. (DP)