oleh: Nuria Soeharto
Setelah tayang perdananya di Forum Papua Barat, di Auckland, Selandia Baru, pada 7 Maret 2026, film dokumenter Pesta Babi garapan sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale beredar di berbagai lokasi di Indonesia dengan segala kontroversinya. Diputar di nobar-nobar (nonton-bareng) kecil, pemutarannya selalu disambung diskusi-diskusi hangat. Mungkin karena inilah, banyak nobar ditutup aparat bahkan sebelum film diputar. Diskusi merupakan ajang berbagi pendapat dan informasi yang akibatnya bisa jadi dianggap buruk dan dihindari oleh kalangan tertentu yang disorot secara terbuka di Pesta Babi. Yang menarik, seperti diungkapkan Dandhy dalam wawancaranya di Bocor Alus Politik Tempo, ia sendiri dan timnya tidak dikejar-kejar aparat. Ia menyatakan salut dan hormatnya pada para penyelenggara nobar yang “maju tak gentar” mengorganisasikan penayangan film Pesta Babi.

Provokatif adalah pilihan kata yang banyak digunakan untuk film dokumenter ini, bahkan sejak judul itu disebutkan: Pesta Babi. Padahal pesta babi merupakan ritual turun-temurun penduduk asli Papua, sangat tidak berhubungan dengan identitas agama apa pun. Provokatif juga merupakan rasa yang bisa jadi timbul setelah keseluruhan paparan film ini.
Semua orang, bahkan peneliti akademik paling objektif sekali pun, selalu punya pendapat pribadi, dan mencari individu, kelompok, atau lembaga yang mendukung pendapatnya. Itu logika kehidupan. Itu juga yang terjadi di Pesta Babi, yang bisa dimasukkan dalam kategori Etnografi Kritis. Etnografi umumnya berbicara secara holistik, membuat gambaran besar tentang sebuah komunitas dari sudut pandang internal komunitas itu. Sementara Etnografi Kritis mengangkat satu topik yang menjadi masalah di komunitas tersebut, dan menyuarakan pandangan penduduk lokalnya. Dan sekali lagi, provokatif timbul sebagai akibat dari keseluruhan paparan yang dalam hal Pesta Babi ini, berupa film dokumenter.

Yang juga menarik dari film Pesta Babi adalah sumber data beberapa footage filmnya. Bukan cuma dari Sekretariat Negara, Greenpeace, atau lembaga-lembaga besar lain, tetapi juga dari akun-akun TikTok berbagai individu. Itu data sekunder yang tajam, laporan pandangan mata langsung dari penduduk lokal yang hadir pada saat kejadian. Dari sini, bisa kita lihat banyaknya narasi kecil yang bertebaran di berbagai platform digital, yang sering terabaikan saking kecilnya. Dan Pesta Babi merangkul, merangkum, dan menjadikannya besar, membuat kalangan tertentu bergidik, dan menghalangi tayangan-tayangannya.

Pesta Babi memberi kita informasi dan pengetahuan on-screen tentang kehidupan dan perlawanan saudara-saudara kita di Papua menghadapi kekuatan dan kekuasaan Jakarta. Diskusi memberi kita informasi dan pengetahuan off-screen, mengangkat gunungan masalah yang menyertainya. Dan ini semua terjadi karena penayangan film berlanjut dengan diskusi, yang memang menjadi tujuan film Pesta Babi. Kapan lagi kita belajar berdiskusi dan angkat bicara, bila bahkan saat cerdas-cermat tingkat SMA pun suara kebenaran anak sekolah dibungkam oleh mereka yang merasa berada di posisi lebih berkuasa?
—
Foto-foto: dokumentasi klub buku Membaca Raden Saleh.

Nuria Soeharto menyelesaikan S3 bidang Anthropologie de la technologie de l’information et de la communication (TIC) dari Université Paris-8, Prancis. Kini menetap di Jakarta, selain menemani ibunya yang demensia, juga menulis, menyunting hasil penelitian, dan mengajar lepas kelas-kelas Berpikir Etnografi serta Penulisan Populer dan Memoar.

