Sekitar 237 orang yang menjadi korban penipuan investasi bodong di AS, bisa bernafas sedikit lega. Sebab, mereka yang teridentifikasi secara resmi di Pengadilan Negeri AS ini,bakal menerima ganti rugi bernilai total$ 24.5 juta atau sekitar Rp 361 milyar. Belum jelas kapan.
Sebab, sesuai keputusan pengadilan Federal di Brooklyn, New York, akhir tahun lalu, Theresia Jaya dijatuhi hukuman penjara 1 tahun plus beberapa bulan di bawah pengawasan kejaksaan. Ada pula Imanuelly Jaya yang dihukum 5 tahun penjara dan otak pelaku kasus penipuan investasi ini, Franciscus Marganda divonis 18 tahun penjara. Dan, kekayaan mereka disita dan akan dibayarkan kepada ratusan korbannya.

Kasus penipuan bodong ini menyita perhatian warga Indonesia di AS, karena mayoritas korban adalah warga Indonesia –baik berdokumen resmi atau tidak – mereka terkena bujuk rayu komplotan penipuan kerah putih ini selama beberapa tahun sejak 2020.
Modus yang digunakan komplotan ini sebenarnya cukup lama. Yakni menanamkan dana ke beberapa bisnis yang diciptakan komplotan tersebut, dengan janji akan dikembalikan dalam jumlah fantastis. “Dalam waktu kurang dari sebulan mereka mendapatkan bunga dari 8% hingga 10%’’ tutur salah satu korban. Bahkan ada program yang menjanjikan imbalan bagi hasil hingga 200 persen atau lebih.
Dua program investasi palsu itu antara lain bernama Easy Transfer dan Global Transfer. Dengan janji modalnya kembali plus bunga dalam waktu singkat itulah, para korban mudah terjerat tipu daya ini dan uang mereka tidak kembali seperti janji mereka.
Modus utama yang dilakukan komplotan ini, dengan cara mempromosikan investasi ini lewat gereja atau perkumpulan warga Indonesia lainnya. Seorang korban yang hanya kehilangan sedikit kerugian bercerita: ‘’Mereka mempromosikan usaha investasi ini lewat teman-teman dekat Theresia Jaya. Mereka yang sudah kenal lama terdakwa itu, diberi bunga cukup tinggi dan pembayarannya selalu tepat waktu,’’ tutur salah satu korban bernama samaran Evangelica.

Bahkan saat membagi keuntungan, Theresia tidak mengirim lewat transfer atau pengiriman resmi lainnya, melainkan bertemu muka secara individu. ‘’Mereka akan mengundang korban untuk bertemu di tempat ramai. Di mal, pasar swalayan atau di tempat parkir mobil yang terbuka”, kata Eva. Menurutnya, hampir setiap transaksi, dilakukan dilapangan parkir Lincoln Financial Field, yang terletak di kawasan Philadelphia Selatan. Lokasi ini memang dekat dengan kawasan permukiman warga Indonesia di Philadelphia.
‘’Sambil membawa anjing piaraannya, Theresia bersama suami dan anak-anaknya keluar dari mobil dan mengobrol seperti teman lama. Kemudian dia menyerahkan uang yang dijanjikan,’’ kata Eva kepada Indonesianlantern.com. Jumlahnya sesuai dengan janjinya, sambil menawarkan lagi program investasi lain dengan bunga lebih tinggi untuk ditawarkan ke calon investor lainnya. Di antaranya, program travel atau penjualan tiket. Tentu saja program baru ini tidak ada alias bohong-bohongan. Yang terpenting, banyak korban yang terintimidasi dan bersedia menanamkan dana ke komplotan itu.
Perlu diingat bahwa uang modal itu dikirimkan langsung ke Theresia dan jaringan komplotannya lewat jasa pengiriman biasa atau transfer yang tersedia di AS. Para korban tidak selalu bisa bertemu muka dengan anggota komplotan tersebut, karena memang tidak saling mengenal.
Di sinilah kelemahan para pemodal kagetan yang memang bekerja keras di AS untuk menabung atau mencari modal untuk pulang ke tanah air. Mereka yang menjadi korban rata-rata adalah para pendatang atau imigran tanpa surat resmi yang datang ke AS sebagai turis. Mereka mengumpulkan uang dengan bekerja di sejumlah bidang melalui agen tenaga kerja yang bisa dikenal dari media sosial.
Banyak di antaranya yang memasang iklan lowongan kerja di toko-toko Indonesia atau di Facebook untuk menawarkan pekerjaan. Umumnya adalah pekerjaan kasar seperti menjadi tenaga di pabrik-pabrik, perusahaan penyalur produk tertentu, pabrik kaca, pabrik penyalur makanan, minuman. Atau banyak pula yang membuka lowongan sebagai tenaga kasar di restoran, tukang masak. Yang cukup menggiurkan dan gaji gede adalah menjadi tukang masak di restoran Hibachi atau Korea. Juga tenaga di sejumlah perkebunan buah, bunga atau sayuran di luar kawasan Philadelphia. Kebanyakan bekerja di restoran Chinese Food atau Restoran Jepang, Korea.
Mereka yang tidak memiliki kartu penduduk resmi – karena datang dan berstatus sebagai turis – kecil kemungkinan bisa menabung di bank. Ada beberapa bank Asia, juga AS, yang memberi kemudahan bagi para turis, tapi tidak banyak. Lebih-lebih banyak pendatang yang tidak fasih berbahasa Inggris. Mereka inilah yang dengan mudah menjadi mangsa bagi komplotan investasi bodong yang menggiurkan itu.
Walhasil, kerugian yang diderita para korban berkisar pada ribuan dolar AS. ‘’Bisa dibilang rata-rata minimal antara 5 – 10 ribu US dolar,’’ tutur salah satu korban lain. Lebih-lebih komplotan ini menjanjikan bunga lebih besar bila ingin menanam modalnya lebih lama.
Ketika tiba jatuh tempo dan ditagih, komplotan ini menghilang ditelan bumi. Telepon tidak diangkat atau hubungan antarteman juga gagal, dan buntu total. Satu-satunya jalan yang ditempuh antara lain melalui jalur resmi seperti kepolisian setempat dan para pejabat Indonesia di AS. Salah satu cara yang dilakukan pihak Konsulat Jenderal RI di New York adalah mengumpulkan data dan menyerahkannya ke pihak berwajib AS.
Cara mandiri yang dilakukan para korban adalah bergabung dengan para korban lain di grup media sosial lain. Termasuk media sosial Telegram yang kini jumlah anggotanya mencapai 11 ribu orang lebih. Dari sinilah mereka saling berkonsultasi dengan sesama korban, atau mengabarkan setiap perkembangan kasus ini.
Dari obrolan mereka itulah, para korban akhirnya sampai pada kesimpulan untuk mendaftar nama-nama korban dan menyampaikannya ke pihak kepolisian atau kejaksaan New York. Kenapa? Karena Theresia Jaya berdomisili di New York.
Banyak korban yang merasa putus asa dan ada yang berniat bunuh diri. Dan yang paling mungkin dilakukan adalah memantau keberadaan Theresia Jaya yang terlihat masih sering menghadiri kebaktian di salah satu gereja di New York. Dalam beberapa kesempatan, Theresia dan adiknya serta keluarganya terlihat berjalan-jalan di New York menggunakan mobil Tesla. Yang cukup ironis, salah satu korban yang membuntuti Theresia saat berbelanja di sebuah toko serba ada terkenal di New York.Kegiatan itu direkam dan dipasang di akun Telegram para korban. Terdengar suara seorang lelaki (korban?) yang berteriak “Halo, maling! Maling! Siapa saja yang pernah menjadi korban, ayo diteriaki maling!’’
Seorang korban lain juga bercerita bahwa ia pernah menantang dan bertatap muka dengan Theresia. Menurutnya, ‘’There’’ sebutan atau panggilan pelaku penipuan itu, menantang dengan merekam korbannya dengan telepon genggamnya, untuk diadukan ke polisi, bila melakukan kekerasan.
Tidak jelas bagaimana nasib korban yang melakukan perekaman itu. Begitu pula para korban yang tidak sempat mendaftarkan diri dan namanya tercatat di pihak FBI atau Kejaksaan atau Pengadilan New York. Mereka yang mayoritas tanpa identitas resmi itu, pasti ketakutan mendaftarkan diri agar mendapatkansantunan. Bahkan, ada kabar salah seorang korban berusia lanjut yang tidak memiliki identitas resmi, hanya menangis karena dana yang ditabung dari bekerja di kebun bunga,ikut hilang dalam kasus ini. Ironis.

