Press "Enter" to skip to content

Bayang Deportasi di Balik DACA

Di balik istilah hukum yang terdengar teknis, tersimpan kegelisahan yang sangat nyata bagi ratusan ribu bahkan jutaan imigran muda di Amerika Serikat.

Pada akhir April 2026, U.S. Department of Justice mengeluarkan keputusan yang dapat mengubah arah hidup banyak orang yang selama ini hidup di bawah perlindungan program DACA. Keputusan ini membuka kemungkinan bahwa seseorang tetap bisa menghadapi deportasi, meskipun masih memiliki status DACA.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti perubahan prosedur biasa. Tapi bagi komunitas imigran, dampaknya jauh lebih dalam.


Apa itu DACA?

Deferred Action for Childhood Arrivals atau DACA adalah program yang dibuat pada tahun 2012 di era Presiden Barack Obama.

Program ini ditujukan untuk anak-anak imigran yang:

  • Datang ke Amerika Serikat saat masih kecil
  • Tumbuh dan besar di sini
  • Tidak memiliki dokumen imigrasi yang lengkap

Dengan DACA, mereka:

  • Tidak langsung dideportasi (ditunda)
  • Boleh bekerja secara legal
  • Bisa mendapatkan nomor Social Security

Namun penting dipahami:
DACA bukan green card, bukan kewarganegaraan, dan bukan perlindungan permanen.

Ini adalah perlindungan sementara yang harus diperbarui secara berkala dan bisa berubah tergantung kebijakan pemerintah.


Dari Harapan Menjadi Ketidakpastian

Selama ini, banyak penerima DACA merasa program ini cukup menjadi “tameng” dari deportasi.

Namun, keputusan terbaru berangkat dari satu kasus: seorang perempuan bernama Catalina “Xóchitl” Santiago. Hakim sebelumnya menghentikan deportasinya karena ia memiliki DACA. Tapi keputusan itu kemudian dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi.

Di sini letak perubahannya:
DACA tidak lagi dianggap cukup kuat untuk menghentikan proses deportasi.


Apa yang Berubah?

Dengan keputusan baru ini:

  • Status DACA tidak otomatis melindungi dari deportasi
  • Hakim imigrasi tidak wajib menjadikan DACA sebagai alasan untuk menghentikan kasus deportasi

Artinya, seseorang bisa tetap memiliki DACA, namun tetap berisiko menghadapi proses deportasi.


Dampaknya Lebih Luas dari Satu Kasus

Dalam sistem hukum imigrasi AS, satu keputusan bisa menjadi acuan bagi banyak kasus lain.

Itulah yang membuat komunitas imigran khawatir. Keputusan ini berpotensi memengaruhi sekian banyak “Dreamers”, sebutan bagi penerima DACA.

Senator Mazie Hirono memegang kaus bertuliskan “We Are All Dreamers.”

Hidup di Antara Dua Dunia

Banyak penerima DACA bukan “orang asing” dalam arti sehari-hari. Mereka adalah:

  • Lulusan sekolah di Amerika
  • Pekerja di berbagai sektor
  • Bagian dari komunitas lokal

Di kota seperti Philadelphia, mereka adalah tetangga, teman kerja, dan anggota komunitas.

Namun kebijakan seperti ini mengingatkan satu hal:
Status mereka masih belum benar-benar aman.


Antara Hukum dan Kemanusiaan

Perubahan ini kembali membuka pertanyaan besar:
Apakah perlindungan sementara seperti DACA cukup?

Ataukah diperlukan solusi permanen yang memberi kepastian hukum bagi mereka yang telah lama hidup dan berkontribusi di negara ini?


Penutup

Bagi banyak orang, DACA adalah harapan.
Bukan solusi akhir, tapi setidaknya memberi kesempatan untuk hidup lebih tenang.

Kini, dengan perubahan kebijakan ini, rasa tenang itu kembali diuji.

Karena di balik setiap istilah hukum, ada kehidupan nyata yang dipertaruhkan tentang rumah, masa depan, dan tempat seseorang merasa benar-benar “pulang.”


Sumber

Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari NPR (https://www.npr.org/):
“Justice Department makes it easier to deport those with DACA status” (dipublikasikan 25 April 2026).

Mission News Theme by Compete Themes.