Press "Enter" to skip to content

Generasi DACA dan Siklus Ketidakpastian Setiap Dua Tahun

Bagi ratusan ribu imigran muda yang dikenal sebagai Dreamers, Amerika selama bertahun-tahun terasa seperti rumah, meski status hukum mereka tak pernah benar-benar aman. Banyak dari mereka datang ke Amerika sejak kecil, bersekolah, bekerja, membayar pajak, bahkan membangun keluarga di sana. Namun, di bawah pemerintahan Donald Trump pada periode kedua, ketidakpastian itu kembali membayangi kehidupan mereka.

Program DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) yang dibuat pada era Presiden Barack Obama tahun 2012 sebelumnya memberikan perlindungan sementara dari deportasi dan izin kerja bagi para imigran muda tanpa dokumen yang datang ke AS sejak masa kanak-kanak. Namun, DACA tidak pernah memberikan jalur menuju kewarganegaraan permanen. Status mereka selama ini seperti “ditahan sementara”, boleh tinggal, tapi tidak benar-benar diakui secara penuh.

Bagi para penerima DACA, kehidupan mereka juga diwarnai proses pembaruan status yang harus dilakukan terus-menerus. Setiap dua tahun sekali, pemegang DACA diwajibkan memperbarui status mereka melalui proses administrasi federal, termasuk pengajuan dokumen, pembayaran biaya aplikasi, serta pemeriksaan latar belakang. Jika proses perpanjangan terlambat, tertunda, atau ditolak, mereka bisa kehilangan izin kerja dan kembali berada dalam risiko deportasi. Karena itu, banyak Dreamers hidup dalam siklus ketidakpastian yang terus berulang setiap dua tahun.

Kini, situasi itu kembali memanas.

Laporan NPR yang terbit minggu ini menggambarkan bagaimana banyak penerima DACA hidup dalam kondisi limbo atau ketidakpastian hukum yang semakin berat. Pemerintahan Trump disebut memperlambat proses perpanjangan DACA hingga berbulan-bulan, membuat banyak penerima izin kerja kehilangan kepastian untuk tetap bekerja secara legal. Dalam beberapa kasus, keterlambatan administrasi bahkan membuat seseorang kehilangan pekerjaan atau akses terhadap dokumen penting seperti SIM.

Yang membuat komunitas imigran semakin cemas adalah keputusan baru dari Board of Immigration Appeals, pengadilan imigrasi federal tingkat tinggi, yang menyatakan bahwa status DACA saja tidak otomatis melindungi seseorang dari deportasi. Artinya, meskipun seseorang masih aktif sebagai penerima DACA, dia tetap bisa masuk proses pengusiran dari Amerika Serikat dalam kondisi tertentu.

Bagi banyak Dreamers, situasi ini terasa seperti hidup di antara dua dunia.

Mereka tumbuh besar di Amerika, berbicara bahasa Inggris lebih lancar daripada bahasa negara asal orang tua mereka, lulus dari sekolah dan universitas Amerika, tetapi tetap dianggap “sementara.” Banyak yang bahkan hampir tidak memiliki ingatan tentang negara tempat mereka lahir.

Di berbagai kota di Amerika, termasuk komunitas imigran Asia dan Latino, kekhawatiran mulai meningkat. Sebagian memilih mengurangi aktivitas publik, menghindari perjalanan jauh, atau menunda rencana masa depan karena takut perubahan kebijakan imigrasi sewaktu-waktu bisa mengubah hidup mereka secara drastis.

Kasus deportasi terhadap beberapa penerima DACA dalam beberapa bulan terakhir juga ikut memperbesar rasa takut tersebut. Salah satu kasus yang banyak disorot media nasional adalah seorang penerima DACA yang sempat dideportasi meski status perlindungannya masih aktif, sebelum akhirnya hakim federal memerintahkan pemerintah membawanya kembali ke Amerika Serikat.

Selama lebih dari satu dekade, Kongres Amerika belum berhasil meloloskan DREAM Act, undang-undang yang sebenarnya dapat memberikan jalur legal permanen bagi para Dreamers. Akibatnya, nasib ratusan ribu anak muda imigran terus bergantung pada perubahan politik dan pergantian pemerintahan.

Bagi komunitas imigran Indonesia di Philadelphia dan berbagai kota lain di Amerika, isu ini bukan sekadar berita politik nasional. Banyak keluarga imigran hidup dengan kecemasan serupa: membangun kehidupan selama bertahun-tahun, namun tetap merasa status mereka bisa berubah kapan saja.

Dan bagi para Dreamers, pertanyaan yang terus menghantui tetap sama:
Jika Amerika adalah satu-satunya rumah yang mereka kenal, lalu sampai kapan mereka harus hidup sebagai “tamu sementara”?

Sumber artikel diadaptasi dari laporan NPR dan berbagai laporan media nasional Amerika Serikat.

Mission News Theme by Compete Themes.