Press "Enter" to skip to content

Diaspora Global Summit 2: Dari Brain Drain Menuju Brain Gain

Dalam era globalisasi, jutaan warga Indonesia tersebar di berbagai negara sebagai pelajar, akademisi, profesional, pengusaha, peneliti, hingga pemimpin di berbagai sektor. Kehadiran mereka membentuk komunitas diaspora Indonesia yang terus berkembang dan memiliki potensi besar untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Potensi tersebut menjadi sorotan utama dalam Diaspora Global Summit 2 yang digelar pada 11–13 Agustus 2025 di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Indonesian Diaspora Global Summit pertama yang diselenggarakan pada 2017. Forum tersebut mempertemukan diaspora Indonesia, pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas peran talenta Indonesia dalam menghadapi tantangan global sekaligus mendukung pembangunan nasional.

Mengusung tema “Connecting Global Talent with Home” dan “Synergy of Global Talent for Indonesia’s Future,” Diaspora Global Summit 2 menegaskan pentingnya memperkuat hubungan antara Indonesia dan warganya yang berada di luar negeri. Hubungan tersebut tidak lagi sekadar menjaga ikatan emosional dengan tanah air, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi Indonesia.

Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam forum ini adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap diaspora Indonesia. Selama bertahun-tahun, keberangkatan warga Indonesia ke luar negeri kerap dikaitkan dengan konsep brain drain, yaitu kondisi ketika individu-individu berbakat meninggalkan negara asal sehingga mengurangi potensi sumber daya manusia di dalam negeri. Namun, perspektif tersebut kini mulai bergeser menuju konsep brain gain, yaitu pandangan bahwa diaspora dapat menjadi sumber pengetahuan, inovasi, investasi, serta jejaring global yang bermanfaat bagi Indonesia.

Ketua Indonesian Diaspora Network-United (IDN-United), Edward Wanandi, menjelaskan bahwa hubungan antara pemerintah dan diaspora Indonesia saat ini jauh lebih terbuka dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, perhatian terhadap diaspora pada masa lalu masih bersifat sporadis dan belum terarah.

“Kalau jujur, dulu hubungan antara pemerintah dan diaspora itu lebih banyak touch and go. Bahkan 25–30 tahun lalu, persepsinya cenderung negatif. Banyak yang keluar dari Indonesia karena alasan tertentu, sehingga komunikasi tidak terbangun.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana persepsi terhadap diaspora telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dahulu diaspora sering dipandang sebagai kelompok yang menjauh dari Indonesia, kini mereka semakin diakui sebagai mitra strategis yang mampu menjembatani Indonesia dengan dunia internasional. Pengalaman profesional, pendidikan, serta jaringan global yang mereka miliki menjadi aset berharga untuk memperkuat daya saing Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompleks.

Semangat tersebut tercermin dari beragam peserta yang hadir dalam Diaspora Global Summit 2. Berbagai latar belakang profesi berkumpul dalam satu ruang diskusi, mulai dari pendiri perusahaan rintisan, profesional di perusahaan multinasional, akademisi, peneliti, mahasiswa, hingga pelaku industri yang telah membangun karier di berbagai negara. Keberagaman pengalaman dan perspektif tersebut menciptakan diskusi yang dinamis sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas sektor.

Hal yang tak kalah menarik adalah kualitas pertanyaan dan diskusi yang muncul sepanjang forum. Banyak peserta menunjukkan antusiasme untuk mencari cara bagaimana pengalaman dan praktik terbaik dari berbagai negara dapat diadaptasi ke dalam konteks Indonesia. Topik-topik seperti kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, inovasi teknologi, kesehatan global, energi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari percakapan tersebut.

Lebih dari sekadar forum pertukaran gagasan, Diaspora Global Summit 2 memperlihatkan pentingnya membangun jaringan yang kuat di antara talenta Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, jaringan profesional sering kali menjadi pintu masuk bagi lahirnya kolaborasi, penelitian, investasi, transfer teknologi, hingga peluang kerja yang berdampak luas. Melalui koneksi yang terbangun dalam komunitas diaspora, berbagai peluang tersebut dapat lebih mudah diakses dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

Konsep brain gain yang diangkat dalam forum ini juga menawarkan cara pandang baru mengenai kontribusi diaspora. Kontribusi tersebut tidak selalu harus diwujudkan melalui kepulangan permanen ke Indonesia. Di era digital saat ini, diaspora tetap dapat memberikan dampak melalui berbagai bentuk kerja sama, seperti berbagi keahlian, membangun kemitraan internasional, mendukung riset dan inovasi, memberikan pendampingan kepada generasi muda, maupun membuka akses terhadap peluang ekonomi dan investasi.

Bagi saya, salah satu pengalaman paling berkesan selama mengikuti forum ini adalah kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan sejumlah tokoh diaspora Indonesia. Selain mengikuti berbagai sesi diskusi, saya juga berkesempatan membagikan buku Kejarlah Mimpi Sampai New York kepada beberapa pembicara, di antaranya perwakilan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS), yaitu Ivana Widjanarko, Gizelle Clevanka, dan Timothy Warokka, serta Ketua IDN-U dan IDBC, Edward Wanandi.

Pengalaman tersebut semakin mempertegas nilai jejaring diaspora sebagai ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan kolaborasi lintas negara. Bagi saya, Diaspora Global Summit bukan sekadar ajang pertemuan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di berbagai belahan dunia, tetapi juga wadah untuk memperkuat semangat kontribusi terhadap tanah air melalui pendidikan, profesionalisme, dan kerja sama internasional.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di dalam negeri, tetapi juga oleh jutaan anak bangsa yang tersebar di seluruh dunia. Diaspora Global Summit 2 menunjukkan bahwa ketika talenta global Indonesia tetap terhubung dengan tanah air, kolaborasi yang tercipta dapat melahirkan gagasan, inovasi, dan peluang baru yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Dalam konteks inilah, pergeseran dari brain drain menuju brain gain bukan sekadar perubahan istilah, melainkan perubahan cara berpikir tentang bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan potensi warganya di mana pun mereka berada.

-Nabila Husna-

Editor’s Note:

Artikel ini merupakan opini dan refleksi pribadi penulis berdasarkan pengalaman mengikuti Diaspora Global Summit 2 di Jakarta. Naskah telah melalui proses penyuntingan oleh tim editorial Indonesian Lantern untuk memperbaiki tata bahasa, ejaan, struktur penulisan, serta kejelasan penyampaian tanpa mengubah substansi, pandangan, dan pengalaman yang disampaikan oleh penulis.

Mission News Theme by Compete Themes.