Di balik peristiwa penangkapan oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di luar Philadelphia Criminal Justice Center, ada sebuah cerita keluarga yang kompleks dan menyakitkan.
Pria Indonesia berusia 76 tahun itu awalnya datang ke pengadilan bukan tanpa alasan. Ia adalah korban dalam sebuah kasus kekerasan dalam keluarga. Menurut pengakuannya, ia mengalami penganiayaan oleh putranya sendiri, seorang pria berusia 47 tahun, yang menyebabkan luka memar di mata dan sayatan di dagu.

Kasus ini masuk dalam kategori elder abuse atau kekerasan terhadap lansia, isu yang sering kali tersembunyi, terutama dalam keluarga imigran yang menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan adaptasi budaya.
Namun, seperti banyak kasus keluarga lainnya, situasinya tidak hitam-putih.
Di hari persidangan, 7 April 2026, sang ayah memilih untuk tidak melanjutkan tuntutan. Ia datang bersama putranya ke pengadilan dengan harapan sederhana: menyelesaikan konflik, mengakhiri proses hukum, dan mungkin membuka ruang untuk rekonsiliasi.
Alih-alih mendapatkan penutupan, keduanya justru ditangkap oleh ICE di luar gedung pengadilan.
Ketika Konflik Keluarga Bertemu Sistem Imigrasi
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana persoalan privat, seperti konflik antara ayah dan anak, bisa bersinggungan dengan sistem yang jauh lebih besar: penegakan hukum imigrasi.

Bagi banyak keluarga imigran, melaporkan kekerasan bukanlah keputusan mudah. Ada rasa takut:
- keluarga bisa terpecah,
- status imigrasi bisa terancam,
- atau konsekuensi hukum yang tidak terduga.
Dalam kasus ini, kekhawatiran itu menjadi nyata.
Sang ayah yang awalnya mencari perlindungan hukum justru ikut terseret dalam penahanan imigrasi, meskipun akhirnya dibebaskan. Sementara itu, putranya masih berada dalam tahanan lebih dari dua minggu setelah penangkapan.
Dampak yang Lebih Dalam
Kelompok advokasi seperti No ICE Philly menilai kasus ini memperlihatkan risiko besar bagi imigran yang mencoba berpartisipasi dalam sistem peradilan.
Bukan hanya terdakwa, tetapi juga:
- korban,
- saksi,
- bahkan anggota keluarga,
Semua bisa menghadapi ancaman penahanan atau deportasi hanya karena hadir di pengadilan.
Dalam konteks kekerasan terhadap lansia, situasi ini menjadi semakin kompleks. Jika korban merasa tidak aman untuk melapor, maka banyak kasus serupa bisa tetap tersembunyi, tanpa perlindungan, tanpa keadilan.
Catatan Redaksi
Artikel ini diadaptasi dan diterjemahkan dari laporan
The Philadelphia Inquirer.

