Press "Enter" to skip to content

Perempuan dan Masa Depan Diplomasi

Diplomasi modern tidak lagi sekadar soal perundingan antarnegara atau penandatanganan perjanjian internasional. Di era yang ditandai oleh perkembangan teknologi, perubahan iklim, tantangan ekonomi global, dan krisis kemanusiaan, para diplomat dituntut untuk membangun kepercayaan lintas budaya, memperkuat institusi, serta menciptakan peluang bagi generasi mendatang.

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Second Annual Women in Diplomacy Forum yang diselenggarakan oleh Diplomatic Watch Magazine bekerja sama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Hasyimiyah Yordania di Washington, D.C., dalam rangka memperingati International Day of Women in Diplomacy yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Left to right; Dr. Judy Kuriansky, advisor to the Permanent Mission of Sierra Leone to the United Nations, Dr. Nining Sri Astuti, president of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Spouses’ Circle in Washington, D.C, Shaz Akram, founder and president of HerPivot. Credit photo: Victor Gotevbe

Mengangkat tema “Leadership at the Decision Table”, forum ini mempertemukan sejumlah perempuan pemimpin dari berbagai bidang untuk membahas bagaimana kepemimpinan perempuan berkontribusi dalam membentuk masa depan hubungan internasional.

Diskusi dipandu oleh Shaz Akram, pendiri dan Presiden HerPivot, sebuah platform yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan dan mentoring bagi perempuan profesional. Lahir di Nigeria dan berdarah Pakistan, Akram memiliki pengalaman panjang di bidang diplomasi publik, pendidikan internasional, dan pengembangan kepemimpinan.

Tiga pembicara utama yang hadir dalam forum tersebut adalah Dr. Nining Sri Astuti, Dr. Judy Kuriansky, dan Sabrina Abdu.

Perwakilan Indonesia di Forum Diplomasi Global

Salah satu tokoh yang mendapat perhatian dalam forum tersebut adalah Dr. Nining Sri Astuti, Presiden ASEAN Spouses’ Circle di Washington, D.C. Selain mendukung berbagai kegiatan diplomatik Indonesia di Amerika Serikat, Dr. Nining dikenal memiliki latar belakang akademik dan profesional yang luas di bidang ekonomi, kebijakan publik, kewirausahaan, dan pembangunan ekonomi.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai sarjana arsitektur, kemudian melanjutkan studi Magister Geografi di University of Iowa dan meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia.

Selama kariernya, Dr. Nining terlibat dalam berbagai inisiatif yang bertujuan memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Ia pernah membantu mendirikan Unit Usaha Kecil dan Menengah Universitas Indonesia, menjabat sebagai Komisaris Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, serta menjadi Chief Executive Officer Indonesia Center for Public Policy Studies. Ia juga pernah bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) milik PBB dalam program-program pengembangan ekonomi pedesaan.

Dalam forum tersebut, Dr. Nining menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh jabatan semata, melainkan oleh kemampuan membangun institusi yang kuat dan membuka peluang bagi orang lain.

“Kepercayaan dibangun melalui kompetensi, konsistensi, dan komitmen jangka panjang,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan melalui pengalamannya di bidang pendidikan, kebijakan publik, dan pembangunan ekonomi.

Diplomasi yang Berpusat pada Manusia

Perspektif berbeda disampaikan oleh Dr. Judy Kuriansky, psikolog, akademisi, penulis, dan penasihat untuk Misi Tetap Sierra Leone di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selama lebih dari dua dekade, Kuriansky aktif memperjuangkan isu kesehatan mental, pembangunan berkelanjutan, dan kerja sama kemanusiaan di lingkungan PBB. Ia terlibat dalam berbagai respons kemanusiaan pascabencana dan konflik, mulai dari serangan 11 September di Amerika Serikat hingga penanganan pengungsi Suriah di Yordania.

Menurutnya, diplomasi tidak hanya berbicara mengenai negosiasi politik atau ekonomi, tetapi juga tentang melindungi martabat manusia, membangun ketahanan masyarakat, dan memastikan bahwa kebijakan publik benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kuriansky juga menyoroti pentingnya memperluas akses perempuan terhadap posisi-posisi pengambilan keputusan dalam pemerintahan, organisasi internasional, dan lembaga-lembaga global.

Pendidikan sebagai Investasi Diplomasi Jangka Panjang

Sementara itu, Sabrina Abdu, pendiri RVP Consultants, menekankan peran pendidikan sebagai salah satu instrumen diplomasi yang paling berkelanjutan.

Selama lebih dari 15 tahun, Abdu membangun kemitraan pendidikan internasional di 24 negara dan mendukung berbagai program pertukaran pendidikan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Menurutnya, hubungan internasional yang kuat sering kali berawal dari ruang kelas, program pertukaran pelajar, dan kerja sama akademik, jauh sebelum para pemimpin negara duduk di meja perundingan.

“Pelajar hari ini adalah pemimpin masa depan,” menjadi pesan yang konsisten dalam paparannya. Ia menilai bahwa pendidikan internasional membantu membangun rasa saling menghormati, pemahaman lintas budaya, serta kemampuan bekerja sama dalam menghadapi tantangan global.

Credit photo: Victor Gotevbe

Menyiapkan Generasi Pemimpin Berikutnya

Menjelang akhir diskusi, para pembicara membahas kualitas yang dibutuhkan pemimpin masa depan. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, transformasi ekonomi, dan dinamika geopolitik yang semakin kompleks, mereka sepakat bahwa rasa ingin tahu, kemampuan belajar sepanjang hayat, integritas, dan kemampuan berkolaborasi lintas budaya akan menjadi keterampilan yang semakin penting.

Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda—mulai dari diplomasi, pendidikan, ekonomi, psikologi, hingga kemanusiaan—para panelis menyampaikan pesan yang sama kepada generasi muda, khususnya perempuan: jangan takut mengambil peran kepemimpinan dan terus berinvestasi dalam pembelajaran.

Forum ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan diplomasi tidak hanya diukur dari kesepakatan yang ditandatangani antarnegara, tetapi juga dari kemampuan membangun kemitraan, memperkuat institusi, dan menciptakan peluang yang meningkatkan kehidupan masyarakat lintas batas negara.

Mission News Theme by Compete Themes.