Seorang teman menangis tergugu. Pernikahan putra satu-satunya batal. Sekilas, penyebabnya tampak sederhana. Calon pengantin perempuan membaca di grup WhatsApp kantor bagaimana putranya “memuji” betis seorang rekan kerja perempuan. Bagi sang calon menantu, itu bukan hanya tidak sopan, melainkan juga merendahkan.
Putranya tidak mengerti mengapa hal tersebut dianggap begitu serius. Ia tidak menyentuh betis rekan kerjanya. Ia “memuji”, bukan menghina. Ia tidak merasa telah melewati batas. Di lingkungan kerjanya, hal seperti itu dianggap lumrah.
Namun, justru di situlah letak persoalannya.
Selama lebih dari dua puluh tahun, teman saya membesarkan putranya seorang diri. Dalam rentang waktu itu, ia berkali-kali menerima komentar berbentuk “pujian” terhadap tubuhnya dari para lelaki di sekitarnya. Seperti banyak perempuan lain, ia memilih mengabaikannya. Bukan karena menerima perlakuan tersebut, melainkan karena baginya komentar semacam itu lebih mencerminkan kualitas orang yang mengucapkannya daripada dirinya sendiri. Ia memilih untuk tidak menghabiskan energi menanggapi mereka.
Putranya tumbuh dengan pesan yang tidak pernah diucapkan secara langsung, tetapi selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari: bahwa komentar seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang menganggapnya keliru. Akibatnya, begitulah ia memahami cara dunia bekerja.

Calon pengantin perempuan melihatnya berbeda. Baginya, alasan bahwa “semua orang juga begitu” tidak relevan. Yang ia pikirkan adalah kehidupan yang akan dijalani setelah pernikahan. Jika cara pandang itu sudah mendarah daging dan tumbuh dalam lingkungan yang tidak menolaknya, tidakkah akan sulit mengubahnya? Tidakkah ia akan terus melihatnya berulang kali di masa depan?
Pernikahan pun batal.
Cerita di atas memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pernikahan yang gagal: betapa mudahnya manusia menormalisasi hal-hal yang seharusnya tidak dibenarkan.
Sang putra tidak menganggap komentarnya sebagai masalah karena ia tumbuh di lingkungan yang juga tidak melihatnya sebagai sesuatu yang salah. Ia tidak merasa sedang melakukan kesalahan. Justru itulah cara normalisasi bekerja. Ketika sebuah perilaku berlangsung terus-menerus tanpa koreksi, orang berhenti melihatnya sebagai penyimpangan dan mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Pelecehan seksual sering berjalan melalui mekanisme seperti ini. Di banyak tempat kerja, komentar tidak senonoh, “pujian” yang berfokus pada tubuh perempuan, candaan bernuansa seksual, dan berbagai perlakuan yang meremehkan perempuan muncul dalam percakapan sehari-hari. Karena begitu sering terjadi, tindakan-tindakan tersebut tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan diterima sebagai bagian dari budaya yang ada.
Akibatnya, ketika seseorang menyampaikan keberatan, perhatian justru bergeser dari perilaku yang dipersoalkan kepada orang yang mengeluh. Ia dianggap terlalu sensitif, tidak fleksibel, atau tidak cocok dengan lingkungan kerja. Yang dinilai bukan lagi tindakannya, melainkan reaksinya.
Proses seperti ini bukanlah sesuatu yang unik. Ia muncul dalam banyak aspek kehidupan sosial.
Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Ketika menghadapi kondisi yang berlangsung terus-menerus, kita cenderung berhenti mempertanyakan benar atau salahnya. Fokus bergeser pada bagaimana hidup berdampingan dengannya. Sedikit demi sedikit, yang semula terasa janggal menjadi biasa. Yang biasa kemudian dianggap wajar.
Di situlah letak bahaya normalisasi. Frekuensi sering kali menggantikan penilaian moral. Kita mulai menilai suatu tindakan berdasarkan seberapa umum ia ditemukan, bukan berdasarkan dampaknya terhadap orang lain atau nilai yang dikandungnya.
Padahal, sesuatu tidak menjadi benar hanya karena banyak orang melakukannya. Tidak pula menjadi pantas hanya karena jarang dipersoalkan. Banyak tindakan yang diterima oleh lingkungan tetap saja merendahkan, menyakiti, atau merugikan orang lain.
Salah satu fungsi penting moralitas adalah menjaga jarak antara apa yang umum terjadi dan apa yang seharusnya terjadi. Moral mengingatkan bahwa kebiasaan bukanlah ukuran kebenaran. Sesuatu tetap dapat salah meskipun dilakukan oleh banyak orang, dan sesuatu tetap dapat benar meskipun hanya sedikit orang yang mempertahankannya.
Mungkin karena itulah pernikahan tersebut batal. Bukan semata-mata karena satu komentar tentang betis seseorang, melainkan karena komentar itu memperlihatkan cara pandang yang lebih dalam. Sang calon pengantin perempuan tidak sedang menilai satu peristiwa, melainkan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Dalam membangun kehidupan bersama, baik di rumah maupun di tempat kerja, yang sering kali menentukan arah masa depan bukanlah satu tindakan, melainkan standar moral yang membuat tindakan itu terasa dapat diterima.
Hal yang sama berlaku dalam urusan membesarkan anak. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menjaga kepekaan moral: menyadari bahwa sesuatu yang terasa tidak benar ketika menimpa diri kita sendiri dapat terlihat benar di mata anak ketika ia tumbuh melihat kesalahan itu diterima sebagai sesuatu yang biasa. Apa yang kita toleransi hari ini bisa menjadi apa yang ia anggap wajar di kemudian hari.
-Nuria Soeharto-

