Press "Enter" to skip to content

Gelombang Fascisme Dikhawatirkan Akan Merebak di Tengah Krisis COVID-19

‘’Great Depression atau depresi ekonomi dunia yang disebabkan akibat pandemi CONVID-19, bakal melahirkan lagi ‘fasisme’ baru.’’ Pernyataan mengerikan itu diungkapkan oleh Bret Stephens, penulis kolom Harian The New York Times.

Dalam wawancara di acara ‘Real Time with Bill Maher’, kolomnis itu menyebutkan, jika Depresi Berat pernah mengakibatkan kebangkitan fasisme, ‘’Lalu apa akibatnya dengan Great Depression di masa datang terhadap kondisi politik AS?’’ tanya Bret Stephens.

Ia tak lupa mengingatkan bahwa ekonomi AS yang makin terpuruk dewasa ini menyebabkan jumlah penganggur mencapai 30 juta orang. ‘’Mereka semua minta agar diberi tunjangan pengangguran dari Pemerintah AS bukan?’’ ujarnya.

Lebih lanjut Bret Stephens, wartawan konservatif AS itu, menjelaskan bahwa bangsa AS telah menuju ke masyarakat populis dan jika ekonomi membaik, maka AS akan mengarah ke neo-authoritation. ‘’Apa jadinya bila puluhan juta warga AS kehilangan pekerjaan, dan merasa stres dan kehidupannya mengalami tekanan makin besar? Tidak hanya secara ekonomi, melainkan juga ke bidang politik,’’ kata Bret Stephens, yang juga menjadi kolomnis The New York Times.

Karena itu, ia mengingatkan agar bangsa AS mulai memikirkan perimbangan resiko yang akan dihadapi di masa datang. ‘’Jika kita cuma memikirkan langkah pendek saja, maka kita akan mengalami penderitaan panjang dan banyak warga akan mati. Dan hal itu benar-benar akan terjadi,’’ katanya. ‘’Namun, kita juga akan menghadapi resiko tinggi bila kita tak berbuat sesuatu karena khawatir bakal melukai diri sendiri,’’ lanjut Bret Stephens.

Wartawan dan kolomnis konservatif AS itu membandingkan strategi yang dilakukan menghadapi krisis Corona dengan peristiwa Perang Vietnam. ‘’Waktu itu, kita menghancurkan seluruh desa di Vietnam untuk memenangkan peperangan,’’ katanya. ‘’Tapi kita lihat hasilnya, peperangan itu makin berlarut dan kita kalah perang,’’ tutur Bret Stephens, yang menjadi kontributor senior stasiun televisi NBC.

Gerakan Fascisme adalah kelompok sayap kanan jauh bersifat otoriter nasionalisme yang mengagungkan sebuah kekuasaan diktator. Mereka mampu melakukan tekanan terhadap kelompok oposisi karena memiliki massa bersenjata didukung ekonomi cukup kuat. Mereka pernah berkuasa di Eropa pada abad ke-20.

Pada saat virus Corona meledak di China, awal tahun ini, banyak yang menyebutkan bahwa tragedi itu sama halnya dengan ‘Chernobyl di China’, prahara bocornya reaktor nuklir Chernobyl, Ukraina 1986. Padahal, sebenarnya prahara Chernobil bagi Presiden Trump.

‘’Pandemi Corona ini menjadi Chernobyl bagi Trump karena banyak hal yang disembunyikan yang seharusnya diungkap secara jujur. Sehingga krisis ini melibas warga AS dan tak terkendali lagi,’’ kata Bret Stephens. Krisis COVID-19 mencapai 1 juta kasus di AS, dan 60 ribu orang menjadi korban.

Bret Stephen dan Bill Maher (NBC)

Kelompok kulit putih dan anti-imigran melakukan protes menentang pemberlakuan lock-down di sejumlah negara bagian di AS. Mereka menuntut agar kegiatan bisnis dan kehidupan normal dibuka kembali. Bahkan banyak di antara mereka membawa senjata api saat melakukan protes. Presiden Trump malah mendukung tindakan mereka itu. ”Mereka orang baik. Mereka orang baik-baik kok,”ujar Trump, sehingga mengundang protes banyak kalangan.

Laporan majalah Forbes menunjukkan, tindakan membuka kembali kegiatan bisnis sebelum bulan Juni memang akan menyelamatkan jutaan pekerjaan. ”Namun kematian akibat virus COVID-19 akan meningkat menjadi ratusan ribu jiwa,” tulis majalah Forbes. (DP).