Press "Enter" to skip to content

Bisnis Sepeda di Purwokerto Di tengah Pandemi COVID-19

Oleh : Toni Riyamukti

Pandemi Covid 19 yang melanda negara-negara di seluruh dunia memaksa kita sebagai umat manusia untuk legowo dan prihatin menghadapi kehidupan ini. Berbagai bentuk kekhawatiran terjadi di setiap aktivitas sehari-hari, mulai dari merasa khawatir terpapar dan tertular hingga ketakutan akan kematian. 

Keadaan ini memaksa kita untuk bisa menerapkan pola hidup secara baru. Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan melalui pola hidup sehat. Beraktivitas secara berbeda dari biasanya seperti mengenakan masker dan menjauhi kerumunan.

Sektor ekonomi merupakan satu sektor yang benar-benar terguncang dengan pandemic ini. Hampir semua aktivitas ekonomi mengalami kelumpuhan dan tidak sedikit juga yang bahkan gulung tikar. Perusahaan perusahaan besar banyak yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sebagian besar karyawannya. 

Namun nampaknya di tengah ekonomi yang lumpuh ini, muncullah harapan baru bagi sebagian masyarakat. Pasalnya saat kegiatan belajar mengajar bagi pelajar dan mahasiswa dialihkan menjadi metode daring (dalam jaringan) dengan kata lain aktivitas di sekolah diliburkan untuk mencegah penularan virus corona, bangkitlan sebuah hobi dari olahraga masyarakat yaitu bersepeda yang hingar bingarnya dirasakan hampir di seluruh tanah air.

Purwokerto adalah sebuah kota kecil yang merupakan Ibukota dari Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Daerah dengan penduduk 1,6 juta jiwa ini dipimpin oleh seorang Kepala Daerah bergelar Bupati. Kabupaten Banyumas banyak memiliki objek wisata yang indah salah satunya adalah Lokawisata Baturraden yang terkenal itu. Makanan khasnya yang sudah mendunia adalah mendoan dan keripik. Saat ini Banyumas sedang menuju menjadi kota besar, salah satu tandanya adalah semakin banyak investor yang membawa brand makanan asing seperti Pizza Hut, KFC, CFC, Korea Garden, Solaria, JCO, dll. 

Karena maraknya aktivitas bersepeda di jalan jalan di kabupaten banyumas, penulis tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut berkaitan dengan hobi yang tiba-tiba menggeliat ini. Pasalnya setelah mencoba melakukan pengecekan pada beberapa toko sepeda di purwokerto, saya mendapati toko-toko tersebut dalam keadaan sangat ramai pembeli. Untuk merangsang masuk saja sulit sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan wawancara.

Tidak berhenti di situ, saya mencoba untuk melakukan pengecekan lagi ke sebuah toko sepeda yang ada di pinggiran kota Purwokerto yaitu Toko Sepeda Lebak Jaya. Toko ini beralamat depan Pasar Karanglewas Kabupaten Banyumas, satu toko yang berhasil saya masuki hari itu dan inipun ramai pembeli. Sembari mengamat amati, saya mencoba ngobrol dengan pembeli yang sedang menunggu kesempatan dilayani. 

Supaya memudahkan untuk saya berkomunikasi dengan pemilik, saya turut membeli suku cadang yaitu rantai dan ban dalam sepeda yang memang sedang saya butuhkan untuk membenahi sepeda mini milik anak saya di rumah. Sembari bertransaksi, bertanya tentang ramainya toko sepeda ini.  Si Pemilik toko menjelaskan bahwa tokonya ramai pembeli sejak dua bulan terakhir ini.

“Toko ramai sejak dua bulan terakhir ini Mas” ucapnya singkat kepada saya sambil membungkus barang yang saya beli.

Di bagian perakitan, saya melihat nampak beberapa karyawan tengah sibuk merakit sepeda yang terjual, ada sepeda lipat, sepeda gunung dan sepeda mini. “Banyak yang nyari sepeda baru, paling banyak jenis sepeda lipat. Kalo yang beli suku cadang itu biasanya punya bengkel di desa desa” terangnya.

Untuk saat ini pembeli bahkan harus mau memesan (inden) terlebih dahulu jika ingin membeli dari toko sepeda. Artinya tidak sedia barang lagi dan harus menunggu pengiriman dari produsen.“Kami sudah gak ready stock. Kalo mau beli paling harus pesen dulu, inden, nanti kalo mau” jelasnya lagi kepada saya.

Situasi ini ternyata membawa berkah bagi pengusaha bengkel sepeda di desa-desa di Banyumas. Pak Topo misalnya, seorang pemilik bengkel sepeda yang ada di Kelurahan Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan. Menurutnya saat ini bengkelnya tidak pernah sepi. Pada awal kesehariannya hanya datang satu atau dua orang datang menyervis sepeda kepadanya. Sekarang bisa empat atau lima orang per hari. 

“Biasane namung setunggal, kalih. Seniki dugi sekawan utawa gangsal sedintenne” katanya dalam bahasa Jawa (biasanya hanya ada satu, dua. Sekarang sampai empat  atau lima setiap harinya. Red) 

Berkah ini bukan hanya dirasakan oleh pemilik toko sepeda dan bengkel sepeda namun juga bagi penjual sepeda seken hand. Wawan Darmawan adalah seorang penjual sepeda seken layak pakai yang sudah menjalani lebih dari tujuh taun. Dia menyediakan sepeda seken hand yang diambilnya dari berbagai daerah untuk dijual lagi atau sesuai pesanan konsumen. 

“Sepeda bekas saya ambil dari daerah pantura seperti Kabupaten Pekalongan dan Pemalang” kata Wawan.  “Kadang ada yang kondisinya masih sangat bagus dan tinggal pakai saja,  kadang juga ada yang harus diperbaiki sedikit” 

Untuk mempromosikan barang dagangannya, dia hanya perlu mengunggahnya di facebook melalui wadah jual beli marketplace atau forum jual beli. Wawan banyak dihampiri oleh konsumen yang mencari sepeda lipat, sepeda gunung dan sepeda mini. Dia berasumsi bahwa ramainya persepedaan saat ini karena anak – anak sekolah sedang belajar dari rumah. Jadi untuk mengisi waktu luang ini anak – anak memilih untuk bersepeda. 

Dari informasi yang saya dapat, Pemerintah Daerah juga menerbitkan regulasi yang mewajibkan para Aparatur Sipil Negara berangkat ke kantor menggunakan sepeda di hari tertentu melalui Keputusan Bupati Banyumas. Setiap Aparatur Sipil Negara di lingkungan pemerintah Kabupaten Banyumas wajib bersepeda saat berangkat ke kantor pada hari tertentu

Semoga Pandemic Covid 19 ini segera berakhir dan masyarakat Indonesia mampu bertahan dan bangkit dengan ketegaran dan kreativitasnya. 

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *