Press "Enter" to skip to content

Masker Batik dan Tenun Flores Merambah Dunia

Oleh: Susandijani

Kurangnya jumlah masker yang beredar di pasaran, memicu para pegiat fashion menciptakan masker dengan ciri khasnya sendiri.

Kini bukan masker berwarna putih dan hijau polos saja yang beredar di sekitar kita. Tak juga hanya polos. Kini bahkan ada yang menggunakan motif, dari merek terkenal, ada juga dengan motif lucu sampai ekstrim seperti laba-laba, tengkorak, orang sedang tersenyum dengan gigi menonjol, atau yang bertuliskan kata-kata humor menggelitik, dan lain sebagainya.

Ada juga yang menyukai bentuk elegan, seperti penambahan manik-manik, bahkan mutiara di sekeliling maskernya. Bahannya pun beragam, dari kain biasa, plastik, sampai silicon.

Masker Tenun Ikat Maumere (Foto: Lepo Lorun)


Di Indonesia, para pegiat fashion, lebih fokus pada kain yang digunakan untuk masker tersebut. Dari batik sampai kain tenun. Yang menarik, masker ini tak cuma bisa melindungi pemakainya dari penyebaran virus corona, tapi mereka jadi tampil lebih modis.  Bayangkan masker yang dikenakan sesuai dengan baju yang dipakainya. Melenggang dengan penuh percaya diri, bukan saja pada si virus yang mematikan, tapi pada mereka yang memandangnya.

Adalah penenun sekaligus pendiri Lepo Lerun dari Flores Alfonsa Raga Horeng yang mengolah masker dari bahan tenun sisa potongan baju atau kain utuh yang sudah ada motif khas daerah Flores. 



“Kami mau menampilkan ciri khas tenunan pada masker walau kecil ukurannya. Ada pula kain dari sambungan sisa potongan tas atau baju yang tidak digunakan saat menjahit sehingga bisa ada unsur seni tanpa mengabaikan nilai ekonomi,” ujar Alfonsa yang dihubungi lewat pesan elektronik.

Koleksi masker tenun ikat Lepo Lorun (Foto: Lepo Lorun)

Alfonsa sendiri, selama ini dikenal sebagai Founder sekaligus President  Lepo Lerun, yaitu rumah tenun yang didirikan sejak 2002, di Desa SIka, Kabupaten Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.  Kain tenun Lepo Lerun ini sudah terkenal dan beredar di hampir semua kota di beberapa negara di lima benua. “Sejak pandemi ini, semua diwajibkan memakai masker.Kami sendiri sadar pentingnya masker dalam pencegahan (penyebaran virus) corona,” tulis Alfonsa.

Keunikan terlihat dari motif khas, warna, tekstur kain, dan ketebalan bahan. Suasana pandemi ini, menurut Alfonsa,  tidak selalu membawa mereka kepada pilihan motif tertentu. “Kami memilih dari bahan tenunan yang gampang dibuat lagi dan bahan tenunan yang masih baru sebagai sisa jahitan,” katanya.



Keistimewaan lain dari masker ala Lepo Lerun ini, dibuat dari kain yang bahannya sudah bersih. Di dalamnya ada lapisan kain katun yang tekstur rapat dan polos serta warna cerah agar jika kotor langsung kelihatan dan bisa dicuci (bisa dicuci pakai detergen). Kualitas tenunannya pun tidak luntur sehingga warna tenunan tetap terjaga.

Meski tak memperhatikan trendingnya, pesanan masker Lepo Lerun sudah datang dari berbagai kota. Termasuk Jakarta dan Makassar saja serta  Amerika di negara bagian California. Tapi Alfonsa mengakui adanya kendala di penerbangan dan agen pengiriman di kantor pos juga belum melayani untuk ke luar negeri. 

Lain lagi kisahnya dengan Bandana Masker. Meski usianya masih seumur jagung, tapi produksi maskernya semakin meroket saja selama pandemi COVID-19 ini.

Masker, Bandana dan Masker (koleksi bandanamasker)

Awalnya, hanya sekedar pengisi waktu. Karena pandemi, tugas sang pendiri mengantar jemput si bungsu sekolah, les dan basket otomatis off.  Pasalnya, si bungsu belajar di rumah selama pandemic tersebut.

Akhirnya daripada diam, ibu dua anak ini akhirnya memanfaatkan persediaan lembaran batiknya untuk membuat bandana dan masker. “Saat itu, untuk konsumsi sendiri, karena kalau beli, lumayan mahal,” ujar sang owner Bandana Masker Erly Towoliu.

Keunikan dari bandana masker ini adalah pada bentuk bandananya, bagian atas bandana berbentuk silang dan menyambung, tidak terputus. Bahan pun tak mentok pada bahan khusus. Terpenting kata perempuan yang akrab dipanggil Inong ini, adalah kenyamanan pemakainya, seperti bahan katun. Untuk motif batiknya, ia lebih memilih bunga dan kontemporer. Alasannya karena target marketnya lebih banyak wanita dan remaja putri.


Pembuatan maskernya sendiri sudah pasti mengikuti standard kesehatan. “Misalnya, lebar masker dari bawah dagu sampai ke batang hidung yaitu 15cm. Lebar masker 22cm  dan kainnya berlapis plus ada kantong untuk isi tissue yang berfungsi untuk menyaring udara masuk,” ujar Inong panjang lebar.

Di BandanaMasker ini yang paling populer adalah motif batik kontemporer. Motif Batik etnik pun semakin naik tren pemesanannya. Sementara motif bunga stabil.  Pembeli berasal dari Jabodetabek, Surabaya,  Sulawesi, dan Papua. 

Selanjutnya, BandanaMasker akan memproduksi dengan lebih banyak motif, “Tetapi tetap mempertahankan batik sebagai identitas BandanaMasker. Penjualan pun inginnya ke luar negeri pula,” ujar Inong. Perempuan kelahiran Makassar 1968 ini, pun menambahkan bahwa peminat dari luar negeri, bukannya tak ada. “Ada kenalan yang pesan dari Singapura dan Kanada,” ujarnya. 

Jika BandanaMasker menggunakan batik bermotif  etnik dan kontemporer, pegiat fashion lainnya, Anne Surya, lebih mengutamakan batik abstrak modern.

Masker Bandana batik annesurya (Foto: Annesurya)


Yaitu batik yang banyak menggunakan warna-warna cerah walaupun tetap menggunakan motif dasar batik tradisional (seperti parang, kawung, dan mega mendung) atau memadukan proses produksi batik secara tradisional, tapi motifnya lucu seperti ice cream-cupcakes, simbok bakul jamu berselendang merah, dan binatang.  Ada juga batik encim, juga motif batik abstrak modern lainnya.

Sejak April 2020, Instagramnya @annesurya.id  yang biasa mengunggah berbagai model blouse batik (sebagai produk khas Anne Surya),  memang riuh dengan produksi maskernya.  Seringkali maskernya diunggah sendirian.  Tak jarang pula satu set dengan blouse batiknya.  “Ya, produksi masker kami dipicu pandemi COVID-19. 

Saat itu, di awal pandemi, masker sangat jarang ditemui di pasaran. Kurangnya masker medis untuk tim tenaga kesehatan saat itu membuat kami ikutan ber “kampanye” agar yang sehat sebaiknya menggunakan masker kain,” ujar Anne yang dihubungi lewat pesan elektronik.  Awalnya Anne membuat maskernya dari bahan katun Jepang, produksi masker batik baru dimulai awal Juni 2020.

Bandana Masker Batik (Foto: Koleksi Istimewa BandanaMasker)

Seperti Lepo Lerun dan BandanaMasker, Anne Surya pun membuat masker mengikuti standar pemerintah. Yaitu terdiri dari 3 lapis kain, dan di lapisan ke 3 (yang menempel dengan hidung) digunakan katun polos. “Ini agar tidak ada bahan pewarna batik yang menempel di area hidung. Lapisan ketiga ini juga berupa selipan, yang bisa digunakan untuk menambahkan tissue sehingga fungsi filter menjadi bertambah,” kata Anne.

Seperti produksi blouse batiknya yang dipasarkan secara online, masker pun demikian. “Di awal produksi kami selalu memulai hanya dengan beberapa sample kemudian memproduksi foto untuk melihat respon pasar,” ujarnya.  Rupanya  produksi maskernya mendapat sambutan baik dari para pelanggannya. Catatan Juni 2020, misalnya, Jumlah masker yang dijual mencapai angka 750 lembar.



Protokol kesehatan sepertinya menjadi perhatian utama Anne yang memulai bisnis fashionnya sejak 2015. Di area kerjanya, misalnya, telah di terapkan sesuai anjuran pemerintah, seperti pemeriksaan suhu badan harian, pemberian asupan vitamin bagi karyawan, tempat cuci tangan sebelum masuk area kerja juga masker bagi para pekerja.

Sementara untuk produknya sendiri, karena reusable masker, maka mereka menganjurkan pelanggannya untuk mencuci dulu maskernya sebelum digunakan. Ini mengingat selain ada proses produksi, juga ada proses pengiriman kurir dari tangan yang satu ke tangan lainnya.

Koleksi Masker Anne Surya (foto istimewa)

Anne juga menyebutkan bahwa menggunakan masker keluar rumah saat ini sudah menjadi kebiasaan untuk seluruh masyarakat dunia. Fungsinya juga sudah bergeser dari perilaku konsumen di bulan April (dimana motif bukan menjadi masalah) hanya fungsi kesehatan semata, menjadi bagian dari fashion di bulan Juni.

Konsumen domestik masih mendominasi konsumen tiga pegiat fashion yang terjun ke bisnis masker ini. Tapi tak menutup kemungkinan peminat dari luar pun bakal menyerbu.  Seperti disebutkan Anne, yang telah mengirimkan produknya ke Singapura. “Bahkan, kini ada konsumen di Singapura yang menjual produk bandana dan masker kami disana,” kata Anne.

Tiga pegiat fashion ini, kompak untuk terus memproduksi masker. Seperti kata Anne, masker kain ini demi terjaganya kesehatan seluruh masyarakat. “Kami sangat mendukung kebiasaan baru dengan memakai masker saat keluar rumah, dan reusable masker sangat baik untuk lingkungan juga ekonomis sehingga tepat dipakai oleh yang sehat,” katanya menutup obrolan. (Susandijani)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *