Press "Enter" to skip to content

Butuh Perubahan Total, Bukan Cuma New Normal

Oleh: Mohamad Irfan

New Normal, inilah istilah yang sedang ramai dibicarakan banyak orang di seantero dunia, dari pejabat negara sampai masyarakat biasa, saat pandemi bahkan belum berhenti. Ada yang mengartikannya sebagai Kenormalan Baru’, ‘Kebiasaan Baru’, ‘Kebudayaan baru, bahkan sampai ada yang mengartikannya sebagai ‘Tatanan Baru.’

 

Apa yang baru? yang baru ya cuma itu yakni beraktifitas diluar rumah dengan menjaga jarak fisik, memakai masker dan cuci tangan dengan sabun atau sanitizer. Selebihnya ya tidak ada yang baru, sama seperti sebelum pandemi, “back to normal”, malah bisa jadi makin menjadi jadi.

Kembali membuang sampah atau limbah seenaknya seperti biasa, hutan-hutan terus digunduli atau diganti dengan tanaman komersial seperti biasa, bahan bakar fosil terus mengotori udara dan langit seperti biasa. Bisa jadi eksploitasi sumber daya alam dan manusia semakin gila-gilaan, demi menggenjot pertumbuhan ekonomi karena selama pandemi ekonomi merosot tajam. Bila ini terjadi maka kerusakan alam semakin buruk dan membahayakan kehidupan semua makhluk di bumi.

Merebaknya masalah rasisme di seluruh dunia, imbas dari kasus George Floyd, memperlihatkan bahwa pandemi Covid 19 tidak berdiri sendiri. Kita tahu bahwa lebih dari 1,7 juta orang AS telah terinfeksi covid 19. Sebanyak 103.000 orang lebih telah meninggal. Data dari Centers for Disease Control menunjukkan bahwa orang kulit hitam lebih banyak dirawat di rumah sakit karena virus corona.

Ketidaksetaraan ekonomi, kurangnya akses ke pelayanan kesehatan berkualitas, kualitas pangan, ketidakadilan struktural lainnya, berkontribusi pada orang kulit hitam yang paling terkena dampak pandemi secara tidak proporsional. Orang kulit hitam juga lebih banyak menjadi korban penembakan di AS. Padahal populasinya di AS kurang dari 13 persen.

Bahkan gelombang unjuk rasa belakangan berkembang menuntut reformasi kepolisian AS. Di Inggris demonstrasi anti rasisme berkembang menjadi demonstrasi anti kolonialisme dan anti White Supremacy. Dengan demikian gelombang unjuk rasa di hampir semua negara bagian di AS juga memperlihatkan bahwa rasisme dan ketidak adilan adalah lebih jauh lebih berbahaya daripada virus corona.

Meledaknya isu rasisme dan demonstrasi-demonstrasi anti rasisme di seantero dunia yang diilhami kasus pembunuhan George Floyd, warga afro-amerika oleh polisi di Amerika Serikat, di masa pandemi dan isu new normal, bisa dijadikan isu dan agenda yang lebih besar, bukan hanya isu rasisme, tapi juga isu-isu global yang lain seperti perubahan iklim, penipisan ozone, sistem ekonomi yang lebih adil, fair trade, fair industrial relation, fair and safe labor migration, lands, perempuan, masyarakat miskin kota dan desa, dan sebagainya.

Dalam situasi krisis biasanya selalu muncul gerakan-gerakan sosial dan politik yang menginginkan perubahan yang lebih baik. namun krisis juga bisa dibajak oleh politisi-politisi oportunis yang menggunakan isu ras, nasionalisme, isu-isu populis. Maka tidak mengherankan bila saat itu muncul gerakan-gerakan fasis, nazisme di banyak negara eropa, bahkan bisa merebut kekuasaan, misalnya Nazisme Hitler di Jerman, Fasisme Mussolini di Italia dan Jendral Franco di Spanyol.

Bahkan ketika eskalasi unjuk rasa anti rasisme meluas, Trump malah mengeluarkan pernyataan-pernyataan provokatif bahkan mengancam akan menerjunkan militer dengan menggunakan UU pemberontakan. Trump menganggap kaum demonstran yang tak punya tujuan memberontak, hanya menyuarakan keadilan bagi warga kulit hitam, sebagai pemberontak/pengkhianat atau memberontak terhadap negara, dan pantas dihadapi dengan militer.

Di Indonesia, pemerintahan Presiden Joko Widodo, menurut survei dari barometer politik menunjukkan ketidakpuasan masyarakat atas situasi demokrasi yang merosot. Memang masa darurat pandemi membuat banyak negara menjadi kurang demokratis, kekuasan negara menguat yang dapat digunakan untuk membungkam suara-suara kritis dengan alasan darurat pandemi.

Bila krisis ini berakhir, kita berharap agenda-agenda perubahan global mampu membuat setiap sudut dunia menjadi tempat yang lebih baik, lebih adil, lebih egaliter, dan aman dari penyakit-penyakit, aman dari iklim yang ekstrim dan aman dari perang.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *