Press "Enter" to skip to content

Jacob Oetama: Wartawan itu Dipanggil Bapa ke Surga

Menurut rencana, Jakob Oetama yang wafat di usia ke-88, dikebumikan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Kamis 10 September 2020. Jakob menerima Bintang Utama kelas III tahun 1973, karena jasanya mengimbangi kekuatan Partai Komunis Indonesia, PKI dengan mendirikan harian Kompas pada 1963.

 

Jakob Utama yang dipanggil Raden Bagus To ini, lahir di Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 September 1931. Putra pertama dari 13 bersaudara dari Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah ini sempat menempuh pendidikan di seminari untuk menjadi pastor.

Ia mengawali kariernya sebagai seorang guru, bahkan sempat mengecap pendidikan calon pastor di sebuah seminari. Jakob Oetama kemudian kuliah Ilmu Sejarah dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta, serta Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Mada.

Jakob Oetama muda (Kompas.com)

Awal karirnya menjadi wartawan dimulai saat bertemu Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur. ”Guru sudah banyak. Wartawan masih langka,” kata Oudejans. Lalu Jakob bertemu dengan Petrus Kanisius Ojong di sebuah kegiatan jurnalistik. Keduanya mendirikan majalah baru bernama Intisari pada 1963.

Mereka berhasil mengajak sejumlah politikus kondang untuk mengisi majalahnya itu. Seperti Nugroho Notosusanto (kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Orde Baru), Soe Hok Djin yang kemudian berganti nama menjadi Arief Budiman, Soe Hok Gie adik Soe Hok Djin yang dikenang sebagai aktivis mahasiswa 1966, dan Kapten Ben Mboi (kelak menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur).

Atas permintaan Jenderal Ahmad Jani untuk mengimbangi kekuatan Partai Komunis Indonesia, mereka diminta membuat harian yang diharapkan menjadi media jalan tengah. Awalnya majalah itu bernama ‘Bentara Rakyat’ namun oleh Bung Karno nama itu diminta diganti menjadi Kompas. ”Tahu toh apa itu artinya?,” kata Pemimpin Besar Revolusi Soekarno. ”Pemberi arah dan jalan saat mengarungi lautan dan hutan rimba,” sambung Si Bung Besar.

Bersama PK Ojong yang menjalankan bisnis, Jakob Oetama mengurusi keredaksian. Dan setelah PK Ojong meninggal dunia 1980, beban Jakob semakin berat. ”“Saya harus tahu bisnis. Dengan rendah hati, saya akui pengetahuan saya soal manajemen bisnis, nol! Tapi saya merasa ada modal, bisa ngemong! Kelebihan saya adalah saya tahu diri tidak tahu bisnis.” katanya.

Jakob kiri, dan PK Ojong belakang bersama Adi Subrata dan Irawati, genrasi awal Intisari (Kompas.com)

Ia pernah ditawari menjadi menteri di era Soeharto, tetapi ditolaknya. Ia merasa lebih bahagia menjalani misi hidupnya dengan mewartakan kemanusiaan dan ke-Indonesiaan yang majemuk melalui tulisan-tulisannya sebagai wartawan. Ia lebih senang dan bangga disebut wartawan, daripada pengusaha.

Belakangan, di usianya yang sudah kepala delapan, kalimat yang tidak pernah putus diucapkannya di setiap kesempatan ia bercerita tentang perjalanan hidupnya adalah, “Bersyukur dan berterima kasih. Semuanya adalah providentia Dei, penyelenggaraan Ilahi,” kata Jakob dalam sebuah wawancara.

 

Kini Kompas berkembang cukup pesat meninggalkan sesama media massa. Harian itu mampu memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia di jaman milenial dengan berbagai media elektronik, seperti Radio Sonora dan Kompas TV di bawah bendera Kompas Gramedia Group.

Selain itu, sejumlah publikasi dan penerbitan buku juga masih berjaya sementara usaha penerbitan lainnya, harus berjuang hidup. (Artikel ini disarikan dari Refleksi 85 Tahun Jakob Oetama oleh Visual Intraktif Kompas)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *