Press "Enter" to skip to content

Proses Pilpres AS Melalui Dua Tahap dan Diumumkan Januari 2021

Setelah debat terakhir calon presiden Kamis malam 22 Oktober 2020 lalu, siapakah yang akan memenangkan pemilihan presiden AS kali ini?

 

Sebenarnya ada delapan pasangan yang maju dalam pemilihan presiden AS kali ini. Selain pasangan Partai Republik Donald Trump-Michael Pence, dan pasangan Partai Demokrat Joe Biden-Kamala Harris, ada enam parti lain yang ikut meramaikan pilpres 2020.

Di antaranya pasangan Partai Libertarian bernama calon presiden wanita Jo Jorgensen dan wakilnya Spike Cohen. Juga ada satu pasangan lain yaitu Partai Hijau yang dimotori pasangan Howie Hawkens dan Angela Walker. Namun keenam pasangan terakhir itu, tidak banyak disebut dalam perebutan tiket ke Gedung Putih.

Siapa yang akan muncul sebagai pemenang, tergantung dari hasil pemungutan suara yang mulai digelar 3 November 2020. Tidak seperti pilpres di tanah air yang mengandalkan jumlah suara rakyat, Pilpres AS melewati dua prosedur, sesuai dengan Konstitusi AS. Yakni penghitungan suara pada 3 November 2020 dan pada 14 Desember 2020 nanti.

Pada 3 November nanti, 156 juta pemilih atau voters akan memberikan suaranya. Sebuah kenaikan signifikan dari 2016 yang 139 juta pemilih. Mereka ada yang telah mengirim lewat pos dan banyak pula yang langsung datang ke tempat-tempat suara. Hasil penghitungan suara merekalah yang menentukan siapa calon yang akan dimunculkan sebagai pemenang dari Partai Republik atau Demokrat dalam sebuah negara bagian.

Partai Libertarian

Setiap partai kemudian menunjuk beberapa Electors (wakil pemilih) untuk mewakili partainya masing-masing ke Washington DC. Sebab, untuk memenangkan seorang presiden, dibutuhkan minimal 270 dari 538 Electors. Mereka mewakili 50 negara bagian, plus tiga dari daerah istimewa Washington DC. Bukan jumlah suara terbanyak pemilihnya.

Hal inilah yang membuat Hillary Clinton kecewa. Pada tahun 2016 silam, Hillary meraih sekitar 2,9 juta suara pemilihnya. Namun karena ia hanya mendapatkan 227 suara dan Donald Trump meraih 304 suara, maka yang dimenangkan adalah Donald Trump.

Proses penghitungan suara para Electors dilakukan pada 14 Desember 2020, dan akan diumumkan pemenangnya pada minggu pertama Januari 2021. Bisa saja seorang calon presiden akan menang di saat-saat terakhir, walau suaranya lebih banyak dari saingannya. Namun, sekali lagi, yang menentukan adalah 538 Electors dari 50 negara bagian tadi.

Partai Hijau

Sesuai ketentuan Konstitusi, Electors adalah wakil partai yang sangat dipercaya partainya. Kesetiannya sangat diyakini para sesepuh parti. Bahkan banyak yang diumumkan namanya dengan maksud agar mereka bakal malu apabila tiba-tiba loncat pagar dan menyeberang ke partai lain. Seorang Electors atau wakil pemilih tidak boleh berasal dari pejabat tinggi di pemerintah federal, dan harus pejabat lokal.

Bagaimana dengan pilpres tahun ini? Miftahul Qorib, dosen statistik di University of the District of Columbia meramalkan, ”Donald Trump tidak terlalu cerah tahun ini, karena tengah dilanda masalah bertubi-tubi,” kata Qorib. ”Tapi, tahun depan nasibnya akan berubah bagus,” lanjut Qorib warga Indonesia yang pernah meramalkan Presiden Joko Widodo lewat perhitungan statistiknya itu.

Apakah Trump akan muncul namanya sebagai pemenang di minggu pertama Januari 2021 nanti? Masih menjadi teka-teki besar. Masing-masing kubu mengklaim bahwa pihaknya yang akan menang dan berhak menduduki Gedung Putih untuk empat tahun ke depan. DP

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *