Press "Enter" to skip to content

Usung Masker Batik Betawi, Demi Bertahan di Masa Pandemi

Pandemi yang berkepanjangan justru memberikan celah bisnis baru. Alih-alih meratapi usaha yang nyaris mandek, Anisah justru menangkap peluang bisnis baru.

Tak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup seseorang. Paling tidak  terlihat dalam perjalanan Anisah atau akrab disapa Nisa yang lahir sebagai anak Betawi yang kini berkecimpung bisnis dengan ragam berbau Betawi. Di masa pandemi ini, Nisa banting setir membuat masker bercorak Batik  Betawi.

Pandemi memporakporandakan  rencana bisnis Nisa  yang memiliki brand Nisaa Fashion yang mengusung busana muslim dan etnik.  “Rencana mengikuti event dan bazaar di berbagai daerah Kalimantan, Sumatera, bahkan ke Malaysia buyar,” katanya membuka percakapan.

Namun begitu Nisa tak menyerah. Dia sibuk mencari celah agar  tetap bertahan. Sejak  Maret pandemi melanda Indonesia, Nisa masih tenang bisa berjualan. Beda cerita ketika sudah masuk April sejak berlakunya PSBB hingga sekarang pandemi tak surut juga, dia harus putar otak untuk bertahan.

Mall Basura tempat dia bersama beberapa UMKM binaan Walikota Jakarta Timur men-display produk-produknya tutup. Otomatis dia tidak bisa dapat berjualan seperti biasanya.  Dia hanya mengandalkan order  online via WA dan sosial media (Instagram).

“Awal April saya mendapat order membuat masker dari Pemda DKI sebanyak 4.000 masker. Saya diberi pola dan desainnya. Saya bersama tiga orang penjahit mengejar target menyelesaikan order tersebut, “ jelas Nisa lulusan IISIP Humas 1987 ini ramah.

Sejak menerima order masker membuatnya berpikir  juga untuk mulai membuat masker saat pandemi. Lanjutnya, “Para langganan yang biasanya memesan baju saya tidak ada lagi yang membeli. Saya paham banyak kebutuhan lain lebih mendesak di masa krisis ini.”

Ibu yang memiliki tiga anak ini tak mau menyerah dan terus mencari ide.  “Kalau masker biasa sudah banyak yang membuat. Akhirnya, saya mencoba membuat masker batik Betawi. Jadi masker saya unik dan etnik. Kebetulan saya asli Betawi dan tergabung dalam binaan Walikota Jakarta Timur,”  tambah Nisa yang hobi traveling dan hunting bahan-bahan untuk produksi fashion-nya ini.

Dia mulai semangat membuat masker. Dia share ke berbagai grup Whatsapp dan Instagram. Salah satu posting IG @nisaafashion78  tentang masker batik Betawi-nya di-tag  oleh seorang pelanggannya ke akun Instagram Pemda DKI.  Ternyata banyak orang yang menyukainya. Ada pembeli maskernya dan sudah dikirim ke kerabatnya di Amerika dan Korea. Corak ber-ikon DKI Jakarta seperti Monas, ondel-ondel, delman, penjual pikulan, oplet, becak, menjadi ciri khas masker buatannya.

“Sebelum dilarang, saya mendapat pesanan masker scuba dari beberapa perusahaan.  Jumlahnya bisa mencapai 10.000 masker berlogo pemesan. Membuat masker profitnya kecil tetapi dengan jumlah pesanan yang banyak hasilnya lumayan.  Dari order masker scuba itu saya bersyukur, karena saya dapat  membayar kuliah semester anak saya,” paparnya.

Untuk membuat masker batik Nisa membeli batik Betawi di beberapa tempat. Ada dua jenis batik yang digunakan yaitu batik cap dan batik tulis. Batik tulis harganya lebih mahal.  Satu masker Batik Betawi model 3D dijual Rp 30.000 per lembar sedangkan jenis lainnya dijual Rp20.000.

Dia melanjutkan, “Saya mesti hati-hati saat memotong pola masker agar sedikit kain terbuang. Saya juga  harus belanja karet dan pelapis masker ke pasar untuk kelengkapan masker. Namun, tetap memperhatikan protokol kesehatan.”

 

Tak Sengaja

Sepak terjang Nisa di bisnis fashion  terhitung panjang. Nisa telah  10 tahun menggeluti dunia fashion muslim dan etnik. Dia mengakui tidak sengaja terjun ke dunia fashion.

Saat ia mengantar anaknya sekolah atau mengikuti majelis taklim ibu-ibu di daerah Tebet. Dia kerap ditanya busana yang dikenakannya. Tidak sedikit para ibu  ‘kepo’ menanyakan kalau  bajunya bagus dan jarang dilihat  sama dengan yang ada di pasaran. Intinya baju-baju muslim yang dia pakai terhitung unik.

Maklum saja saat itu Nisa memang sudah menyenangi dunia menjahit, tapi hanya untuk dirinya sendiri. “Sebetulnya sudah hobi tetapi tidak digeluti serius. Setelah kuliah saya sempat lama bekerja di salah satu perusahaan. Jadi saya memang senang bekrerasi dan menjahit sendiri,” katanya.

Sejak itu mulai ada satu dua orang ibu memesannya. Dia mulai membuat desain dan menjahit. Namun kadang dia menjahitkannya ke orang lain,  tapi tetap dengan arahannya. Dari pengajian itu Nisa juga sudah mulai menerima pesanan menjahit baik untuk personal maupun baju seragam untuk berbagai acara.

Perlahan  kian banyak ibu yang memesan busana muslim karyanya. “Lama-lama saya berpikir kenapa enggak saya tekuni saja ya dan jadikan peluang bisnis,” cerita Nisa.

Akhirnya dia mulai memproduksi beberapa busana muslim, seragam ibu-ibu pengajian, panitia pernikahan, dan lainnya. Perlahan dia tertarik ikut  ke beberapa ajang bazaar berbayar  baik di perkantoran, departemen, atau event lainnya. Awal bazaar Nisa masih menjual beragam produk seperti baju remaja dan dewasa. Hal ini sesuai dengan permintaan bazaar untuk mencoba memenuhi ragam kebutuhan pembeli.

Saat merintis bisnis dengan ikut bazaar tak selalu mulus. Batu sandungan kerap menghadang langkahnya.  Di antaranya dia harus membawa banyak barang dagangan  saat bazaar ke sana ke mari. Kadang mendapat tempat di halaman parkir yang panas.  “Begitu juga kalau hujan turun, juga harus cepat memindahkan  busana-busana itu  agar tidak basah,”tambahnya mengingat awal perjalanannya.

Namun ada satu bazaar  membuatnya begitu terkesan saat dia ikut bazaar di Kampus STEKPI (Kalibata).  Mulai dari pagi jam 06.00 hingga jam 11.00  berjualan dagangannya sudah laris manis.

Waktu berjalan, dia tambah semangat, dan kian percaya diri karena hasil jahitannya itu mulai menarik lebih banyak minat ibu-ibu. Beberapa malah sudah menjadi langganannya.  Tak sedikit para ibu pejabat di kalangan departemen juga sudah tertarik dan mulai membeli busananya.

Naik Kelas

Ketika Bazaar, Nisa selalu menyediakan kartu nama yang membuat banyak orang dapat menghubunginya langsung. Apalagi ketika para ibu ini melihat sendiri hasil produk busana karyanya yang  serba fashionable, trendy sekaligus berkualitas tinggi mereka tidak ragu membelinya.

Singkat cerita Nisa diminta seorang ibu mengikuti kurasi yang diadakan di Walikota Jakarta Timur. Ternyata dia lolos kurasi. Sejak itulah setiap ada event atau pertemuan Nisa diajak pameran.

“Pemeran yang saya ikuti ada yang bersubsidi jadi tidak peru membayar mahal untuk ikut pameran. Saya pernah pameran di berbagai kota di Indonesia hingga ke Johor (Malaysia).  Malah kadang ada yang free. Saya akhirnya tercatat sebagai anggota binaan Walikota Jakarta Timur,” ungkapnya.

Jalan berbisnis fashion kian lebar ketika dia juga diminta kurasi di Departemen Perindustrian, Kemenperaf, dan lainnya.

“Saya banyak tambah ilmu dari pelatihan-pelatihan yang diberikan pemerintah. Mulai dari strategi bisnis, soal hak cipta, keuangan, produksi, pemasaran, digital marketing, dan lainnya. Pelatihan itu tanpa biaya. Kalau awalnya saya berkarya baju muslim saya juga terjun ke busana etnik, ” ungkapnya bersyukur.

Malah untuk wilayah Jakarta Timur, dia bersama beberapa IKM (Industri Kecil Menengah) telah mendapat tempat di Mall Basura.  “Ini wujud dukungan tingkat walikota Jakarta Timur untuk memajukan industri kecil. Tidak perlu membayar. Sayangnya sejak pandemi mall tutup tidak bisa jualan.”

Saat ini Nisaa Fashion bergabung sebagai Binaan Dinas PPKUKM (Perdagangan Perindustrian Koperasi Usaha Kecil Menengah ),  Dekranasda DKI Jakarta, Ok Oce, Jakpreneur. Dinas PPKUKM itu gabungan dari  Kementrian Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi.

Uniknya saat pandemi ini justru mendatangkan pelanggan baru. “Karena pelanggan lama saya sedang tidak pesan baju, justru saya mendapat pelanggan baru dari  Instagram. Banyak yang menanyakan dan membeli produk saya. Ada beberapa pesanan justru dari pelanggan saat pandemi ini.”

Nisa tak tinggal diam saat pandemi ini. Tak hanya berkutat di urusan masker dan fashion. Dia ikut membantu menjual beragam  kue khas Betawi yang diberi merek Ganyengan Betawi, seperti kue sagon, akar kelapa, pencok kentang, dan lainnya hasil beberapa UMKM.  “Saya juga ingin banyak orang yang terbantu dan bertahan di masa sulit ini,” ujarnya.

Dengan beragam ilmu yang dimilikinya Nisa pun tidak pelit ilmu untuk berbagi. Bila ada sosok yang baru terjun biasanya dia segera sarankan untuk mendaftar menjadi mitra binnisa  mulai dari tingkat kecamatan, walikota dan seterusnya. Jadi lingkup bisnisnya naik kelas.  Bertambahnya ilmu, pengalaman, relasi baru ternyata membuat bisnis kian berkembang cepat.

“Dengan pengalaman dan gemblengan selama ini saya bisa tegar berbisnis. Saat ini saya memang bertahan dengan membuat masker, cukin (selendang Betawi pria), dan  tote bag batik. Masih ada pesanan baju walau jumlahnya tidak banyak. Saat ini saya sudah mempunyai beberapa ide karya busana yang akan saya buat ketika pandemi berlalu,” ungkap kelahiran 1968 ini.

Satu hal walau masa krisis ini ia tidak berputus asa. “Terpenting terus berkarya dan semangat, saya yakin selalu ada jalan. Pokoknya apa pun saya coba lakukan untuk bertahan dan berharap pandemi cepat berlalu,” pungkasnya.

Henni T. Soelaeman

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *