Press "Enter" to skip to content

Membangkitkan Bisnis di Tengah Pandemi Covid-19

Di tengah pandemi Covid-19 keadaan ekonomi di berbagai penjuru dunia mengalami penurunan. Peraturan pemerintah yang membatasi kontak sosial tentu memiliki peran besar dalam hancurnya salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia tersebut. Sejumlah perusahaan baik perusahaan kecil maupun besar banyak yang terpaksa gulung tikar. Namun hal itu tidak berlaku untuk bisnis yang dijalankan oleh Oemi Hadijah. Sejak tahun 1976, Oemi bersama suaminya mendirikan sebuah toko besi di Kota Depok, Jawa Barat. Toko yang menjual bahan material tersebut menjadi pemasok utama dalam memenuhi kehidupan rumah tangganya. Melihat penyebaran virus Corona yang semakin merajalela di zona merah tempat ia tinggal, perempuan yang tahun ini mamasuki usia 73 tahun ini memutuskan untuk menutup tokonya. Akibatnya, sebagai pebisnis, tentu ia mengalami kerugian, ditambah keprihatinan terhadap karyawannya yang tidak sanggup ia gaji. Maka dari itu, Oemi kembali membuka toko besinya dengan mematuhi segenap protokol kesehatan, seperti menertibkan jaga jarak antar pembeli, menyediakan alat sanitasi, seperti tempat cuci tangan dan hand sanitizer, serta menggunakan masker. Hingga saat ini, bisnis yang telah menghidupinya selama kurang lebih 44 tahun tersebut tetap ramai dikunjungi pembeli, sehingga Oemi-pun dapat menggaji dan memberi THR kepada 30 karyawannya.

Lain halnya dengan Oemi, Dinda Ayu Anggaraini, ibu rumah tangga yang berusia 33 tahun ini mengalami peningkatan dalam bisnisnya semenjak pandemi Covid-19. Berawal dari hobinya yang suka memasak, Dinda membuka bisnis kecil-kecilan sejak 2018 lalu. Melalui mulut ke mulut, juga akun media sosialnya, Dinda memasarkan barang dagangannya, yaitu aneka makanan pencuci mulut. Tak disangka, semenjak wabah yang datang dari negeri tirai bambu tersebut memuncak di Indonesia, bisnis yang berawal dari omset 3-4 juta perbulan tersebut meningkat mencapai angka 11 juta. Kewajiban untuk menjalani PSBB (Peraturan Sosial Berskala Besar) membuat para konsumen lebih memilih untuk melakukan belanja online. Hal ini tentu berimbas baik untuk ibu dari 3 anak tersebut. Hari Raya Idul Fitri tahun ini yang menjadi masa kejayaan untuk Dinda sebagai pebisnis yang menjual berbagai makanan manis. Dinda dibanjiri pesanan oleh para pelanggan Jabodetabeknya yang ingin mengirimkan bingkisan kepada para kerabat untuk menyambut Hari Raya kaum Muslim tersebut. Sejumlah pesanan terpaksa Dinda tolak akibat kewalahan menjalankan bisnisnya yang hanya ia kerjakan seorang diri tersebut.

Alfi Agustina atau Fifi adalah salah satu dari jutaan korban PHK akibat pandemi virus jenis SARS-CoV-2 atau Covid-19. Penurunan ekonomi tentu dirasakan oleh ibu 2 anak ini. Dalam keadaan demikian, keterampilan tangan yang telah Fifi tekuni sejak dahulu sangat berperan besar dalam membangkitkan kembali keadaan ekonomi keluarganya. Dari karir sebelumnya yang bergerak dalam dunia fashion, Fifi memutuskan untuk banting setir ke bidang APD. Permintaan masker yang terus meningkat dan persediaan pasar yang semakin menipis memberi Fifi peluang untuk memproduksi salah satu alat perlindungan diri yang dapat mencegah infeksi virus Corona tersebut. Dengan kreativitasnya, Fifi membuat masker dengan bahan yang nyaman dan model yang cantik, sehingga dapat menarik target pasarnya, yaitu kalangan perempuan remaja hingga dewasa. Dibantu kerabatnya, perempuan asal Solo, Jawa Tengah ini berhasil menjual 100 masker dalam jangka waktu 2 minggu.

Etika tolong menolong yang membuahkan hasil. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Rika Wulandari, seorang ibu rumah tangga yang menjadi reseller dari sebuah bisnis yang terkena dampak wabah Covid-19. Keprihatinan melihat bisnis yang mulai rapuh sejak pandemi ini menggerakkan perempuan yang aktif di komunitas arisan tersebut untuk turun tangan membantu menghidupkan kembali bisnis ayam penyet milik kerabatnya. Permintaan semakin meningkat sejak ayam dijual dalam bentuk frozen sehingga praktis dan ringkas. Rika yang awalnya hanya menyimpan barang dagangannya di kulkas rumahnya, kini membeli lemari es tambahan akibat pesanan yang terus bertambah. Dengan memanfaatkan jaringannya, Rika mampu menjual 400 ekor ayam dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Ditambah lagi semenjak perempuan yang aktif di sosial medianya tersebut mengubah kemasan ayam penyet menjadi lebih menarik, yaitu dengan menggunakan besek bambu dan pita cantik, sehingga banyak pembeli yang menjadikan hidangan tersebut sebagai hadiah lebaran.

Pencapaian dari keempat pebisnis di atas menunjukkan bahwa di masa terpuruk ini, manusia dapat memanfaatkan kreativitas dan jaringannya untuk bertahan hidup. “Jika ada kemauan, pasti ada jalan”, itulah semboyan yang dipegang oleh para pejuang yang bertahan di masa pandemi Covid-19.

Penulis: Almas Fakhrana

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *