Press "Enter" to skip to content

Kasus Riziek Shihab Ditulis di Koran Prestisius Jerman, Süddeutsche Zeitung

Seorang fanatisme Islam berambisi mengubah negara multi-etnis setapak demi setapak menjadi negara Islam. Ancaman buat golongan minoritas dan masalah besar buat Presiden Joko Widodo.

Baru beberapa hari tiba di Indonesia sejak pelariannya ke Saudi Arabia, Riziek Shihab, kembali mucul dengan orasi pidato-pidatonya yang kontroversial. Di depan para pendukungnya Riziek menyebut “Revolusi Moral” sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan di tanah air yang aman dan sentosa.

Orasi yang keluar dari mulut Riziek itu (Solche Wörte aus dem Munde Rizieqs, dalam bahasa Jerman) bernada kampanye yang biasanya juga diiringi janji-janji. Namun Süddeutsche Zeitung (SZ) koran prestisius dan kredibel di Jerman itu,  tidak melihatnya begitu.

Dalam artikelnya berjudul ”Kembalinya Pengkotbah Kebencian” 19 November lalu, koran dengan oplah hampir 400 ribu per hari itu, menilai orasi Riziek lebih sebagai ancaman daripada janji. Terutama bagi kalangan liberal dan sekuler Indonesia.

Itu karena sejak sebelum pelariannya ke Saudi Arabia pun, Riziek sudah dikenal amat berambisi mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang muslim Riziek beranggapan akan bisa menggalang mereka untuk sebuah revolusi – sebagai satu-satunya cara yang mesti dilakukan untuk menggulingkan negara RI berlandaskan Pancasila dan UUD 45, yang melindungi hak-hak warga negara Indonesia yang plural (ras dan agamanya).

Seperti mau membuktikan omongannya, pertengahan November lalu Riziek menghadirkan 10.000 orang di acara perkawinan anak perempuannya, yang dibikinnya persis di hari kelahiran Nabi (Maulid Nabi). Puluhan ribu masyarakat muslim hadir memenuhi undangannya untuk memperingati maulid Nabi sekaligus pesta perkawinan anaknya itu.

Padahal Presiden Jokowi sudah melarang kerumunan orang seperti itu selama pandemi. Maka insiden seperti ini terang memalukan pemerintah. Pejabat kepolisian yang mengeluarkan surat izin untuk itu. dipindahtugaskan. Sementara Riziek tetap bisa menggelar perhelatan akbar karena sudah menggantongi surat izinnya. Walaupun dengan resiko, melejitnya jumlah angka korban infeksi virus Covid 19, sehingga tugas pemerintah untuk mengatasi virus ini, juga jadi semakin berat.

Logis saja, dalam kerumunan orang sebanyak itu susah untuk menjaga jarak (social distancing). Ditambah lagi mereka tidak menggunakan pelindung mulut dan hidung (mask). Tapi buat Riziek itu bukan soal serius. Dengan enteng ia mengatakan, “Semoga Allah membebaskan Indonesia dari virus.” Seolah pertolongan Allah bisa datang begitu saja tanpa manusia lebih dulu berbuat sesuatu.

Di Indonesia, menurut SZ, banyak orang-orang yang dulu mendukung Jokowi dan sekarang diam-diam tidak puas dengan pemerintah. Terutama para penganut islam religius yang konservatif. Jokowi dianggap terlalu dekat dengan militer, yang pada pemerintahan Soeharto melanggar HAM dan tidak dihukum. Tidak tegas dalam menangani demo soal RUU Cipta Kerja. Jokowi juga dianggap gamang dalam menangani Corona di tanah air. Selalu ragu dan penuh dengan ketidakpastian.

Orang-orang yang resah dan tidak puas pada pemerintah ini, melihat Riziek bak magnet. Yang punya daya tarik kuat lewat orasi-orasinya yang kontroversial dan kharismatik memanipulasi usaha-usaha pemerintah yang berhasil, apalagi yang tidak. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya merekalah yang justru menjadi sasaran empuk Riziek.

Ia memanfaatkan orang-orang seperti ini. Bermacam aksi dilakukan untuk menarik perhatian para penganut islam yang religius-konservatif ini, diantaranya dengan memerintahkan aparat FPI (Front Pembebasan Islam) memporak-pondakan sebuah klub malam, seolah sedang melancarkan “revolusi moral” untuk menegakkan agama.

Riziek juga yang, menurut SZ, mendongkel Ahok dari jabatannya sebagai gubernur DKI pada 2017. Dalam orasi-orasi kebenciannya, ia menghasut dan menuding Ahok sebagai penista agama islam, sehingga hasutannya itu berhasil membuat masyarakat muslim murka dan mendorong pemerintah untuk menjebloskan Ahok ke penjara.

Karir politik Ahok berhenti disini, dan pengalaman buruknya menjadi tekanan dan rasa tidak aman bagi kalangan minoritas. Terutama yang beragama kristen dan keturunan Cina seperti Ahok. Sekarang Riziek menambah-nambah ketakutan mereka dengan orasinya yang mengatakan, agar orang-orang yang dulu menghujatnya dieksekusi.

Pusat studi politik Institut Lowy, Australia, menganalisa kepulangan Riziek itu sebagai upaya menggalang kekuatan agar bisa terpilih sebagai kandidat presiden pada Pemilu 2024. Sejauh ini politik islam memang tidak berperan di parlemen, tetapi dari analisa institut itu, kekuatannya sekarang cenderung tumbuh. Apalagi dengan adanya agitasi kelompok garis keras yang dilakukan Riziek. Riziek menggunakan agama sebagai alat untuk berpolarisasi, yakni dengan menciptakan suasana, bahwa yang baik dan benar adalah kelompoknya, dan buruk bagi yang bukan.

Sebelum tinggal 3 tahun di Saudi Arabia, Riziek terlibat kasus pornografi. Ia dituduh menjahili perempuan. Dalam chat-chatnya di WhatsApp, ia meminta perempuan pengikut kelompoknya itu, mengiriminya foto dirinya dalam keadaan telanjang. Indonesia mempunyai UU Pornografi yang tegas, begitu tulis SZ, maka kasus Riziek diusut pihak kepolisian dan diproses di pengadilan.

Tetapi belakangan kasus ini tidak berlanjut, karena menurut polisi tidak ditemukan bukti cukup. Bisa jadi inilah yang menyebabkan Riziek bisa melenggang pulang ke tanah air, karena kasusnya sudah ditutup. Pada awal November lalu Bandara Cengkareng luber manusia yang menyambut dan mengelu-elukan kedatangannya.

Selama wabah Corona Presiden Jokowi tetap melarang segala bentuk perhelatan yang bisa menghadirkan kerumunan orang. Tapi Riziek mengabaikan imbauan pemerintah ini. Ia tetap berencana menggelar pertemuan demi pertemuan muslim besar berikutnya.

“Kami tidak akan mentolerir siapa pun yang melarang pertemuan muslim,” katanya lantang bernada menantang. Agaknya, tulis SZ, Riziek dan kelompoknya sengaja membuka kemungkinan “pertempuran” dengan pemerintah. Mereka siap menghadapi manufer pemerintah, jika berupaya menghentikan aksi-aksinya.

SZ menganggap, dengan orasi-orasi kebenciannya Riziek akan bisa memanipulasi imbauan pemerintah menjadi seolah larangan untuk menghadiri pertemuan besar umat muslim. Yang pada akhirnya akan berakibat “pertempuran” antara pemerintah dengan mereka yang murka karenanya. Sanggupkah pemerintah mengatasi kelompok garis keras yang jelas-jelas menentangnya?

Tutty Baumeister, Braunschweig, Jerman (Terjemahan bebas, koran Süddeutsche Zeitung)

One Comment

  1. Rina Rina November 22, 2020

    Kamu benar2 tidak mengerti apa yg sedang diperjuangkan umat islam ‘ umat islam didunia selalu melawan kemungkaran dan kamu tidak mengerti apa artinya kemungkaran yg berdampak buruk dan mendatangkan murka Allah atau Tuhan for all human kind’ kamu tidak tau apa2 apa yg sedang diperjuangkan Habibana tapi kamu sok tau dan sok pintar serta penyebar fitnah yg nyata. Tunggu di akhir hayat mu Tuhan akan meminta pertanggung jawaban fitnah kamu’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *