Press "Enter" to skip to content

Aksi Unjuk Rasa di Capitol Hill Masih Berbuntut Panjang

Aksi unjuk rasa di Capitol Hill Washington DC, berbuntut panjang. Lebih dari 50 orang ditangkap dan 4 orang meninggal dunia, satu di antaranya seorang petugas polisi yang tewas karena luka parah saat mengamankan gedung parlemen, Rabu lalu.

 

Departemen Kehakiman menahan 55 orang yang dituduh terlibat dalam aksi protes yang berubah rusuh itu. Saluran televisi CNN mengabarkan, satu di antaranya, adalah Lonnie Leroy Coffman dari Falkville, Alabama yang tiba dekat National Republican Club — atau the Capitol Hill Club, pukul 9.15 pagi. Saat digeledah polisi, Coffman membawa dua buah senjata api. Pistol 9 mm dan senjata genggam kaliber 22, bukan atas nama dirinya.

Ada pula Cleveland Grover Meredith Jr yang ditangkap karena menuliskan ancaman dan membawa senjata api ilegal dan amunisi. Dalam ancamannya, Meredith pergi ke Washington DC dari Georgia membawa ratusan amunisi. Bahkan lelaki itu hendak menembak kepala Nancy Pelosi. Saat diperiksa, di mobil trailernya, didapati ratusan amunisi dua buah pistol dan senjata laras panjang. 

Dan tentu saja Richard Bernett. Lelaki Arkansas ini dikenal di saluran televisi AS karena duduk di atas meja Ketua Parlemen Nancy Pelosi, saat kericuhan berlangsung Rabu lalu. Richard Bernett ditangkap karena memasuki wilayah rahasia di gedung parlemen tanpa ijin, juga dituduh mencuri barang milik umum dan kriminal. Richard Bernett mengambil sebuah amplop atas nama Nancy Pelosi dan membawa keluar gedung parlemen.

Sementara itu, Biro Investigasi Federal, FBI mengeluarkan imbauan bagi siapa saja agar memberikan identitas siapapun yang melakukan aksi kekerasan di Washington DC. ‘’Siapapun yang melihat aksi melanggar hukum, kami imbau untuk memberikan informasi, foto, video dan lainnya ke fbi.gov/USCapitol,” bunyi selebaran yang disebarkan lewat situs resminya.

Belum terdengar kabar siapa saja yang terjaring dalam operasi FBI kali ini. Yang pasti operasi sapu bersih ini telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Di antaranya perusahaan percetakan Navistar Direct Marketing yang memecat satu karyawannya yang ikut dalam aksi demo Capitol Hill di ibukota AS. ‘’Kami tidak bisa memberikan pekerjaan bagi mereka yang membahayakan kesehatan dan keselamatan orang lain,’’ bunyi keterangan resmi yang disampaikan ke kantor berita Associated Press.

Cogensia, perusahaan analis data di Chicago juga memberhentikan Bradley Rukstales, CEO perusahaan itu, Jumat lalu. ‘’Cogensia mengutuk peristiwa di Gedung Parlemen,’’ bunyi pernyataan resmi Joel Schiltz, CEO yang baru menggantikaan Rukstales. Bahkan seorang ahli terapi bahasa di sebuah sekolah di Cleveland juga dipaksa berhenti, karena ikut terlibat dalam aksi di Gedung Parlemen. Termasuk Andy Williams, anggota pemadam kebakaran Sanford Fire Department karena diduga terlibat dalam aksi itu juga.

Masih banyak lagi pegawai perusahaan swasta yang bisa dipecat bosnya, karena tidak tidak tercakup hak-haknya dalam First Amandement. Amandemen itu hanya berlaku bagi pegawai negeri atau federal lainnya.

Situs Yelp, yang mengeluarkan review perusahan-perusahaan kecil dan menengah mengungkapkan sedikitnya ada 20 perusahaan yang terkena dampaknya. Satu di antaranya Jenny Cudd. Pemilik toko bunga Becky’s Flowers di Midland, Texas ini mengunggah video di akun Facebooknya tentang aksi demo di parlemen. Esok harinya, banyak yang menuduhnya sebagai pengkhianat dan teroris domestik dan memberinya satu bintang. Kesalahannya, Jenny menuliskan kata ‘We’ berada di gedung parlemen. ‘’We kan bisa siapa saja yang waktu itu berada di sana,’’ katanya membela diri.

 

Dita Nasroel Chas (kanan) berama pengurus Diaspora (pribadi

Kasus sepele seperti itulah yang diingatkan Dita Nasroel Chas. Salah satu pengurus Diaspora Indonesia di AS ini mengingatkan, agar warga AS – terutama yang berdarah Indonesia — berhati-hati menggunakan sinyal atau simbol jari di akun Facebook. ‘’Salah memakai simbol jari bisa membawa kita pada proses hukum,’’ tulis Dita. 

Dalam uraiannya, Dita menjelaskan bahwa ‘’Simbol tiga jari seperti simbol Oke itu adalah simbol milik kelompok Supremasi kulit putih. Sedangkan simbol empat jari dengan ibu jari ditekuk adalah simbol grup Ku Klux Klan, yang dikenal mendorong kelompok supremasi putih bisa terwujud. Kedua simbol jari itu dilarang di AS karena dinilai sebagai simbol kebencian,’’ tulisnya.

Karena itu, Dita menyarankan sebelum berpose, selayaknya mengerti dulu arti sebuah simbol jari dan tangan. ‘’Pakai saja simbol jari yang tak memiliki hak cipta seperti tanda Victory, dua jari membentuk huruf V,’’ tulis Dita lagi.

Memang tersiar kabar, ada sejumlah kecil warga AS asal Indonesia yang hanya ikut-ikut meramaikan aksi unjuk rasa di halaman gedung parlemen, namun tidak diketahui siapa.

Walau demikian, suhu politik di AS sempat dirasakan warga AS asal Indonesia yang berada di antara komunitas Indonesia. Sejumlah kabar burung atau hoax sempat tersebar di antara warga Indonesia di Philadelhia, terutama di kalangan Kristiani. Termasuk Pendeta Lukas Kusuma. Pemimpin dan pendiri Bethany Miracle Center, BMC ini santer dikabarkan menjadi pendukung Donald Trump. ‘’Di luaran, sempat beredar isu bahwa saya mati-matian membela Trump, karena mendapat bantuan dari Presiden Trump,’’ katanya.

Pendeta Lukas Kusuma (Facebook)

‘’Itu tidak benar! Pembagian makanan yang dilakukan BMC tidak berkaitan sama sekali dengan Trump. Sejak awal berdiri tahun 2002 dan seterusnya, kami sebagai gereja tetap bersikap netral,’’ tutur Pastor Lukas Kusuma. ‘’BMC selalu bersikap netral dalam soal politik,’’ lanjutnya, seraya menjelaskan bahwa pilihan presiden merupakan masalah pribadi yang dirahasiakan. ‘’Dari rekam jejak di mimbar BMC, saya tidak pernah menyuruh jemaat untuk mendukung satu calon presiden sejak BMC berdiri 2002 sampai sekarang,’’ kata Pastor Lukas Kusuma.

Lalu, bagaimana pandangan warga AS asal Indonesia pendukung Partai Republik? August Wibowo, salah satu warga asal Indonesia yang tinggal di Los Angeles, CA mengungkapkan bahwa seluruh kebijakan Pemerintahan Presiden Donald Trump diutamakan bagi warga Amerika Serikat lebih dahulu. ‘’Bukan untuk membiayai imigran ilegal dari negara lain,’’ tulisnya. AS menurutnya bukan menjadi polisi dunia, tetapi mendamaikan dunia, menghabisi teroris dan masih banyak lagi. 

August Wibowo dan keluarga (Facebook)

Jadi bagaimana nasib Partai Republik di masa datang? ‘’Besar kemungkinan Partai Republik makin dikebiri, melihat cara-cara yang dilakukan Partai Demokrat. Mereka menghalalkan segala cara dengan kekuatan dana mereka,’’ kata August Wibowo lulusan Universitas Airlangga dan Summit Institute, West Covina ini. ”Prolife dan anti aborsi akan sırna. Pemerintah Trump selama ini meringankan beban pajak untuk rakyat AS, sebaliknya Joe Biden akan menambah beban pajak bagi rakyatnya,” tambah August Wibowo.

Herning G. Rumpak (FB)

Lain lagi pendapat Herning G. Rumpak. Pendukung Demokrat ini menilai bahwa ”Di bawah kepemimpinan Joe Biden dan Kamala Harris, AS kembali menjadi negara cinta damai. Diharapkan tidak ada lagi kerusuhan. AS kembali menjadi negara impian bagi kaum imigran,” tutur Herning G. Rumpak yang banyak bergaul dan aktif di organisasi CADEM, California Democrat di Sacramento, California.

Herning G. Rumpak menambahkan, ”Pemerintahan Joe Biden akan mengembalikan kebijaksanaan TPP yang telah dihapuskan Presiden Trump pada 2017,” katanya. Sejak tahun 2015 Indonesia tergabung dalam  TPP, Trans Pacific Partner. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *