Press "Enter" to skip to content

Aksi Demo dan Diskusi Anti Kekerasan Etnis Asia-Amerika di Philadelphia

Aksi kekerasan berlatar belakang kebencian terhadap etnis Asia-Amerika masih terus berlangsung hingga pekan lalu. Kasus paling baru menimpa dua remaja asal Indonesia yang ditampar dua remaja berkulit gelap, di Stasiun Kereta Bawah Tanah Center City, Philadelphia.

Kepada stasiun televisi NBC, remaja yang tak ingin diketahui identitasnya itu bercerita, bahwa ia dalam ‘’Kondisi shock dan tak merasa aman lagi bepergian menumpang kereta bawah tanah,’’ katanya. Peristiwa Minggu 21 Maret 2021 itu terjadi ketika mereka berjalan di dalam stasiun Center City Hall untuk pulang. 

Tiba-tiba empat remaja hitam membully mereka dengan kata-kata rasialis. Satu di antaranya mengenakan wig rambut merah hitam, dan terekam di dalam kamera korban. ‘’Satu di antaranya menampar pipi kanan dan satu lagi memukul kepala saya,’’ tutur salah satu korban. 

Ia menambahkan bahwa ada belasan penumpang lain yang menunggu kereta, tapi mereka mengarah ke warga Indonesia saja, sebelum akhirnya menyerang kedua korban. ‘’Kenapa menangis,’’ tutur korban yang waktu itu menangis. Kedua korban merasa, kasus pemukulan itu bermotif kekerasan rasialisme anti etnis Asia-Amerika.

Belum jelas motif sebenarnya, karena pihak kepolisian Philadelphia maupun kepolisian transportasi SEPTA, tengah mengusut kasus kekerasan yang semakin meningkat dewasa ini. Ada dugaan kasus pemukulan itu bagian dari aksi ‘Play I Dare You’ (tantangan) yang banyak dilakukan remaja AS.  ‘’Polisi SEPTA masih bekerjasama dengan kepolisian di seluruh negeri untuk mengambil langkah   penanggulangan yang jitu untuk  menanggulangi kasus kriminal berlatar kebencian rasial ini,’’ tutur Andrew Busch, jurubicara SEPTA.

Aksi kekerasan terhadap warga Asia juga terjadi di lorong jalan S. 7th Street, Philadelphia. Di jalan sempit yang banyak dihuni warga Indonesia, Kamboja, Vietnam dan Myanmar ini, seorang remaja kulit hitam berpakaian punk membetot rambut remaja Asia dan memukuli wajah korban. Uniknya, aksi itu terjadi tepat di sebelah mobil polisi. Entah ke mana petugas polisinya.

Setelah puas menjambak sambil memukul wajah korban, pelaku melarikan diri menyeberang dan menghilang. Seorang remaja lelaki Asia tampak hendak membantunya, namun tidak sempat mengejar pelakunya.

Aksi demo di Philadelphia (Foto: Deddy Raksawardana for Indonesianlantern.com)

Pihak Konsulat Jenderal RI New York yang membawahi kawasan Philadelphia telah mengontak kepolisian Philadelphia dan menanyakan tindak lanjut kasus kekerasan dua remaja asal Indonesia itu. ‘’Sikap pemerintah setempat sangat baik, serius dan bersedia mengungkapkan hasil penyelidikan,’’ tutur Arifi Saiman, Konsul Jenderal RI New York.

Kepala Kepolisian Philadelphia, Danielle M. Outlaw menuliskan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi atas sejumlah kejadian vandalisme dan aksi kebencian di Chinatown dan South Philadelphia. ‘’Retorika rasisme dan aksi kekerasan seperti ini tidak bisa ditoleransi. Kami menolak aksi kebencian terhadap individu dan kelompok tertentu,’’ tulisnya.

Demo di Philadelphia (Foto: Deddy Raksawardana for Indonesianlantern.com)

Pekan lalu, Indonesianlantern.com telah menggelar diskusi daring yang melibatkan sejumlah pemuka agama dan masyarakat Indonesia di Philadelphia. Dalam diskusi berjudul: Menghadapi Aksi Kebencian Asia-Amerika: Kita mau apa? dihadiri 30 lebih peserta, di antaranya sejumlah anggota Diaspora dari California, New York, San Francisco dan negara bagian lain. 

Beberapa pembicara meminta agar ada langkah nyata untuk membantu warga Diaspora Indonesia agar terhindar dari aksi kekerasan. Seperti yang diutarakan Yo Kim An asal Makassar yang mengusulkan agar warga Diaspora menggelar aksi menuntut aksi kekerasan ditentang keras. ‘’Kalau bisa digelar di Washington DC, saya akan hadir,’’ tutur mantan pendeta yang kini bernama Jokiman dan tinggal di Los Angeles.

Aksi demo di Philadelphia (Foto: Deddy Raksawardana for Indonesianlantern.com)

Randy Duque, Acting Executive Director at Philadelphia Commission on Human Relations mengungkapkan, data PHCR menunjukkan bahwa kasus aksi kekerasan terhadap etnis Asia Amerika tidak begitu besar jumlahnya dibandingkan negara bagian lain di AS.

Meski demikian, serangkaian aksi demo tetap digelar oleh komunitas Asia-Amerika di kantor Walikota Philadelphia. Mereka menuntut agar pemerintah setempat segera bertindak tegas, membasmi aksi kriminal yang meresahkan komunitas Asia Amerika.

‘’Mari kita berani melapor dan membela komunitas kita,’’ bunyi surat edaran dari Komunitas Indonesia di Philadelphia. Pengaduan bisa disampaikan kepada Lilian Christaka, Komisi komunitas Asia Amerika kantor Walikota Philadelphia, juga ke Aldo Siahaan, Pemimpin Gereja PPC, Dewi Broadhurst, komisi Walikota Philadelphia dan Sinta Penyami Storms, Modero & Company.

Sementara itu, Pemda New York menurunkan polisi berdarah Asia untuk membasmi kejahatan rasial ini. Kantor berita Reuters mengabarkan mulai akhir pekan ini, petugas polisi berpakaian preman akan ditempatkan di sejumlah lokasi strategis. Di antaranya di stasiun bawah tanah, di toko-toko makanan dan kawasan rawan lainnya.

‘’Siapapun yang melakukan aksi kriminal bermotif SARA akan kami ciduk,’’ ujar Dermot Shea, kepala kepolisian New York. ‘’Kami tidak akan mentoleransi aksi kekerasan terhadap mereka yang berbeda warna kulitnya, agamanya, gender dan lainnya,’’ sambung Dermot Shea. Sepanjang tahun 2021 ini, tercatat ada 26 kasus anti-Asia. Satuan Khusus Asian Hate Crime Task Force bertanggung jawab mengusut kasus-kasus tersebut.

Hari Sabtu 27 Maret 2021, pihak KBRI dan KJRI New York menggelar diskusi bertema ‘’Bincang-bincang Virtual Perlindungan Preventif: Tindak Kekerasan terhadap Etnis Asia dan Tindak Pidana Penipuan Melalui Media Daring’’. Acara diskusi ini mengndang nara sumber Brigjen Pol. Ary Laksmana Widjaja, Atase Kepolisian di Washington DC. dan pembicara lainnya. (DP & Foto-foto: Deddy Raksawardana for Indonesianlantern.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *