Press "Enter" to skip to content

Pendeta Lukas Kusuma, Gereja Bethany, Philadelphia,” Kita Harus Mendukung Korban Rasisme Agar Berani Berbicara”

Kasus kebencian terhadap warga Asia di Amerika masih terus terjadi. Setelah kasus penembakan terhadap 6 warga Asia di Atlanta, warga Indonesia dikejutkan dengan terjadinya kasus kekerasan terhadap 2 WNI di Philadelphia. Seperti diberitakan oleh banyak media, termasuk Indonesian Lantern, Dua remaja Indonesia itu dilaporkan diserang secara fisik dan verbal oleh sekelompok remaja, ketika sedang menunggu kereta api bawah tanah di Stasiun City Hall, Philadelphia pada Minggu (21/3).

Aksi demo di Philadelphia (Foto: Deddy Raksawardana)

Menanggapi maraknya kasus kekerasan ini, Pendeta Lukas Kusuma dari Gereja Bethany, Philadelphia, menghimbau agar para korban berani melapor ke polisi dan tokoh komunitas agar mendapat bantuan.” Budaya orang Asia yang merasa malu jika menjadi korban kejahatan, harus diubah,” tambahnya dalam diskusi dengan Kompas TV itu (2/4).

Pendeta Lukas menambahkan bahwa selama sekitar 20 tahun tinggal di Philadelphia, dia sudah membantu puluhan wni yang menjadi korban kejahatan. Salah satunya adalah Wiharta Lim, salah seorang pengurus aktif gereja Bethany. Pria yang akrab dipanggil Anyen ini menjadi korban penusukan di dalam Starbucks di wilayah selatan Philadelphia di th 2007. Saat itu, menurut pria yang bekerja di bidang IT ini, ada sekitar 11 orang yang ada di kedai kopi itu, tetapi hanya dia yang diserang. Anyen mengalami luka parah di bagian muka, terutama bibir yang terbelah dua, dan dada, karena ditusuk sebanyak kurang lebih 10 kali. “ Saya berdarah banyak sekali dan paru-paru saya sempat collapse,” tambah ayah 2 anak itu.

Wiharta Lim korban penusukan di Starbuck 2007

Bagi Wiharta, kejadian yang menimpanya itu bukan sekedar kejahatan biasa tapi merupakan hate crime atau kejahatan kebencian karena faktor rasial. “Jika pelaku sekedar sakit jiwa, mengapa hanya saya yang diserang dan waktu itu hanya saya satu-satunya orang Asia di situ,” tambahnya.

Pendeta Lukas mengakui bahwa lawyer si pelaku menggunakan alasan “sakit jiwa” agar pelaku mendapatkan keringanan hukuman. “Banyak sekali kasus rasialisme yang tidak dianggap sebagai kasus rasialisme, termasuk kasus penembakan Atlanta, agar si pelaku mendapatkan kemudahan hukuman,” tandas Lukas Kusuma.

Menurut Lukas, sudah banyak kasus diskriminasi di AS yang akhirnya tenggelam karena berbagai alasan yang melemahkan. “Para korban harus berani tampil untuk menentang hal ini. Karena itulah saya salut kepada Wiharta Lim yang berani bicara,” tambahnya.

Bagi Anyen sendiri, ada hikmah lain dari kejadian penyerangan itu karena setelah menjalani proses persidangan yang cukup lama akhirnya Wiharta bisa mendapatkan visa U (Visa korban kejahatan). Dengan Visa U itu, dia dan istrinya (waktu itu) akhirnya bisa mendapatkan green card dan menjadi penduduk tetap Philadelphia hingga kini.

Menurut Lukas, keberanian korban untuk bicara di media, adalah hal yang positif karena bisa membantu para korban lainya yang tidak berani berbicara di muka umum. “Itu akan menolong orang Asia lain juga untuk ikut berani mencari keadilan jika menjadi korban diskriminasi.” tambahnya. (Indah Nuritasari)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *