Press "Enter" to skip to content

Ramadan, Bisnis Kuliner Naik Hingga 200 Persen

Ramadan saat pandemi ternyata memberi berkah pada beberapa usaha di tanah air. Utamanya bisnis kuliner. Ada yang penjualan naik hingga 200 persen.

Bayangkan kegurihan nasi bakar, yang di atasnya ditabur cumi cabai hijau, cakalang rica, sambal udang, dan taburan teri medan. Perpaduan rempah bawang, daun salam, jeruk, sereh, dan air kaldu itu dominan terasa di lidah. Hidangan yang dikemas dalam daun pisang itu, pun benar-benar sesuai namanya, Nasi Gurih.

Itulah salah satu andalan @Kitchenatea, sebuah bisnis kuliner yang dijajakan online di Instagram. Meski belum seumur jagung, bisnis kuliner yang menyajikan hidangan khas leluhur itu, langsung moncer.

Sang pemilik, Lina Ibrahim memulai bisnisnya pada 2020. Saat pandemik dimulai dan semua orang #dirumahsaja, Lina mulai menawarkan paket lauk (seafood dan ayam). Semua resepnya dipelajari dari sang nenek yang berasal dari Tanah Sunda, Bandung.

Awalnya, hasil olahannya itu dikirim pada teman dekatnya. “Responnya positif, akhirnya mencoba berjualan di Instagram,” ujarnya berkisah. Dan menu pun kemudian bertambah. Selain nasi gurih tadi, ada nasi bakar, nasi kuning, nasi uduk, tumpeng dan lain sebagainya. Untuk memasaknya, Lina juga menggunakan bahan-bahan yang aman. Seperti minyak bakatul, minyak zaitun, dan minyak kelapa tanpa penyedap.

Yang menarik lagi di Instagramnya, semua menu ditampilkan menggoda dan menggugah selera. Padahal semua dipostingnya sendiri hanya dengan menggunakan kamera ponselnya.

Bayangkan saja, salah satu menu takjilnya, misalnya. Bubur sumsum yang dipadu dengan bij salak dan klepon, tampil begitu memikat. Dengan menggunakan teknik slow motion, klepon dan biji salak itu meluncur seksi pada mangkuk berisi bubur sumsum. Selanjutnya cairan gula aren, membuat lidah berdecap tak sengaja.

Hampir semua hidangan yang disajikan pun begitu. Nasi Gurih, misalnya, disajikan berjejer dalam tampah anyaman kayu. Sementara di sebelahnya hidangan pelengkap tampil dalam mangkuk daun yang menampilkan bentuk sekaligus perkiraan rasa yang bakal dinikmati para konsumennya. Selanjutnya di gambar lain, nasi bakar itu (masih dalam slow motion) dibuka bungkus daunnya, dan tampillah nasi bakar itu lengkap dengan segala topingnya. Siapa tak tergoda? “

Menurut Lina, konsep dan design memang dibantu sahabatnya yang memang berbakat di urusan food styling. Tapi masalah rasa dan menu, Lina yang bertanggung jawab. Dan bisa ditebak, selain ‘etalase’ produknya berhasil menggoda, rasanya pun membuat konsumen selalu repeat order.
Jadi tak heran jika hidangan yang juga sering dipesan para pejabat dan menteri-menteri kabinet, ini memang menjadi buruan penggemarnya. Apalagi pada Ramadan kali ini.

“Penjualan pada Ramadan naik, kurang lebih 150-200 persen dari bulan-bulan normal,” ujar Lina yang dihubungi via pesan elektronik.

Apakah @Kitchenatea kewalahan? “Tidak signifikan sih. Lebih pada pengaturan slot yang padat. Tidak adanya material. Juga kendala kurir yang tidak on time karena jalanan macet,” katanya.

Tapi bukan Lina Ibrahim namanya jika tak menemukan solusinya. “Pegawai ditambah, juga sewa kurir khusus selama Ramadan,” ujarnya santai.

Bahkan, Lina pun menciptakan Paket Spesial Ramadan yang bisa dipilih. Ada Paket Nasi Bakar dan Bubur Sumsum yang jadi andalan dan banyak lagi. Semua ditawarkan per paket, dari paket personal, berdua, sampai berempat. Atau paket berdasarkan permintaan. Harga tak usah khawatir, masih bersahabat, antara 15K sampai 70 K per porsi makanan.

Keberhasilan yang sama juga dialami Kedai Bakwan Pontianak, yang sempat viral beberapa waktu lalu. Salah seorang pemiliknya Irfan yang dihubungi lewat pesan elektronik, menyebutkan bahwa penjualan naik hingga 150-200 persen. “Biasanya, per hari hanya 3000 pieces. Sementara di bulan Ramadan ini bisa sampai 8000 hingga 9000 peaces, atau lebih,” tulisnya.

Kenaikan penjualan itu terjadi di gerai pusat yang berada di kawasan Kebon Kacang, Jakarta. Di gerai lainnya yang tersebar di Jabodetabek, termasuk Banten dan Bandung, juga naik, tapi tak tidak sebesar di cabang utama tadi.

Bakwan Pontianak ini memang cukup fenomenal. Karena berhasil menembus pasar jabodetabek, justru saat pandemi. Padahal selama ini, bakwan yang dikenal masyarakat Jakarta, adalah bakwan yang dijual abang-abang gorengan di pinggir jalan. Yaitu campuran berbagai sayuran (wortel, tauge, kol) dicampur terigu kemudian digoreng. Bentuknya biasanya mirip peyek, karena pipih, dan di ujung-ujungnya krispy menggoda.

Sementara Bakwan Pontianak, adalah campurannya terigu dan irisan daun kucai, kemudian di atasnya ditabur udang kering (rebon), atau teri. Digoreng dengan cetakan, sehingga bentuk seragam, bundar. Kemudian dihidangkan dengan saus sambal kental.

Dengan keunikannya itu, Bakwan Pontianak mampu menggaet banyak konsumen di Jabodetabek. Bahkan gerainya kini ada di Banten dan Bandung.

Banyak keistimewaan bisnis UMKM ini yang patut dicontoh. Saat awal buka, pada Mei 2019, gerainya yang didirikan di kawasan macet Kebon Kacang ini, mengusung konsep drive thru. Mereka memasang ‘pengumuman’ di gerainya : ‘Bakwan Pontianak satu boks Rp 10.000 isi 5 pcs kami siap antar hingga jendela mobil’.

Kemudian, para pemiliknya pun berjibaku dengan rajin posting di media sosial. Yaitu dari posting testimoni konsumen di media sosialnya. Reposting unggahan para konsumennya dan berbagai media yang meliputnya. Semua dalam bentuk storytelling singkat, tapi cukup informatif.

Kenaikan angka penjualan itu pun bukan tanpa kendala. Seperti diceritakan Irfan, bahwa kendala utama gerai dengan konsep street food dan take away, ini ada pada saat peak time, yaitu pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. “Saat orderan membludak kita agak keteteran melayani orderan, padahal, pekerja dan peralatan sudah ditambah,” katanya. Akibatnya antrean pembeli memanjang dan tak jarang pembeli jadi tak sabar dan kesal karena menunggu cukup lama.

Karena itulah, menurut Irfan, agar tetap sukses bisnis di bulan Ramadan ini, sebisa mungkin memberikan customer service dan produk yang baik. “Variasikan kemasan agar lebih menarik, dan menjalin kerjasama dengan influencer agar exposure produk lebih luas,” tambahnya.

Untuk menarik konsumennya pada Ramadan ini, Bakwan Pontianak pun merilis, paket lebaran dengan kemasan khusus, isi 1 paket 20 pieces dengan pilihan topping rebon dan topping teri. Jurus yang satu ini, mungkin bisa membuat penganan Lebaran Anda lebih bervariasi.

Selain menu yang lebih khusus pada Ramadan ini, berbagai bisnis lain yang diamati di Instagram juga menawarkan berbagai produk dengan harga special.

Seperti NAH Project yang salah satu produk andalannya sepatu sneakers. Dalam tayangannya yang diunggah 2 Mei 2021 di akun Instagramnya, misalnya, mereka menawarkan diskon 50 persen untuk semua produknya. Program menggoda dari produk yang pernah viral gara-gara sneakers-nya dipakai Presiden Jokowi, ini tampak banyak diminati penggemarnya. Bahkan banyak yang tak kebagian, karena ukurannya tak sesuai. Soal keuntungannya di bulan Ramadan, mungkin bisa menebaknya dari banyaknya respon para followernya itu.

Penulis: Susandijani
Foto:koleksi @kitchenatea dan @bakwan.pontianak.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *