Press "Enter" to skip to content

Parsel, Bisnis Yang Makin Menggurita Saat Ramadan

Tahun ini merupakan Lebaran kedua kalinya dalam kondisi pandemi Covid-19. Pemerintah kembali melarang masyarakat mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahim. Namun, sejatinya makna Lebaran tak berkurang meski tak bertemu wajah. Silaturahim tetap bisa berjalan secara online. Teknologi komunikasi yang makin canggih membuat jarak ribuan kilometer pun bukan lagi kendala. Selain bertumpu pada kecanggihan teknologi, kehangatan dan kasih sayang pada orang-orang tercinta pun dapat diwakili dengan kehadiran parsel atau hampers.

Ya, bisnis hampers saat Ramadan menjadi berkah yang mendatangkan pundi-pundi uang bagi para pelaku bisnis yang bergerak di bidang ini. Tradisi mengirim hampers muncul pertama kali tahun 1066 pada zaman pemerintahan William I atau raja Inggris pertama yang berasal dari bangsa Norman.

Catatan tersebut memuat hampers pertama kali dikenalkan orang Prancis kepada masyarakat Inggris. Saat itu hampers berisi makanan dan minuman untuk memberi sumbangan untuk keluarga yang membutuhkan.

Waktu bergulir tahun 1200 hampers juga dikenal dengan istilah hanaper, yang dipakai untuk membawa dokumen penting. Setelah itu istilah hampers meluas artinya.

Pada 1706, orang-orang Perancis dan Inggris mulai melakukan perjalanan dengan menggunakan stagecoach. Stagecoach ini merupakan sebuah kereta beroda empat yang ditarik oleh kuda dengan memuat beberapa penumpang.

Hampers kala itu menjadi populer karena penumpang akan makan dan minum selama perjalanan. Pada masa ini, hampers juga digunakan untuk membawa bekal saat musim berburu tiba.

Adanya rel kereta api pada akhir 1800-an mengubah cara orang bepergian dan membawa barang. Kereta api membuat tradisi mengirim hampers natal sebagai hadiah berkembang pesat. Mereka bisa mengirimkan hadiah Natal kepada keluarga dan teman dengan mudah meskipun jaraknya jauh.

Hingga sekarang, tradisi mengirim hampers hampir dilakukan untuk segala hari raya dan perayaan, seperti Idul Fitri, Natal, dan Imlek. Tidak lagi memakai keranjang, tetapi ada yang terbungkus kain atau kardus dengan desain yang menarik

Ada berbagai jenis parsel yang bisa dijadikan pilihan saat ini. Mulai dari pelengkapan ibadah, cookies Lebaran, bunga segar, rangkaian bunga kering, beragam tea set, peralatan makan keramik, porselen, atau peralatan makan kayu, perlengkapan teh atau kopi, makanan tradisional Lebaran (opor ayam, ketupat, lengkap sajiannya, aromatherapy, perlengkapan melukis, kumpulan podcast atau music, tanaman hias, ada juga ragam prozen food.

Adanya pandemi ini menjadi pilihan parsel lebih beragam. Kali ini banyak yang menjajakan ragam frozen food. Makanan beku yang dapat disimpan di freezer dan bisa dipanaskan untuk dinikmati.

Fahira Idris selaku Ketua Asoasiasi Pengusaha parsel Indonesia, seperti dikutip detik.com mengatakan bahwa parsel dan hampers memiliki makna sebagai hadiah untuk orang tersayang dengan tujuan menjaga silaturahmi.

Ada sedikit pergeseran tentang parsel saat ini. Kalau dahulu parsel lebaran identik dengan berbagai barang atau produk mahal dan ukurannya besar-besar. Kini parsel atau hampers yang lebih kecil, harga produk atau barang tidak terlalu mahal, dan bahkan bisa dibuat sendiri.

Adanya marketplace memudahkan siapa pun untuk mencari produk. Jadi ada yang membeli produknya, lalu disusun di keranjang, atau wadah unik lainnya diberi sentuhan unik dan berbeda.
Kini bila kita perhatikan lebih banyak variasi dan juga beragam produk lokal dengan sentuhan tradisional atau pun etnik ikut bersaing. Tidak sedikit pilihan parsel ataupun hampers, tampil apik dengan sentuhan lokal, material-material eco green dengan sentuhan modern yang tampil cantik.

Hantaran Unik Rujak Aceh untuk Buka Puasa dan Lebaran
Salah satunya yang unik bisa dilihat di Kunkarsa yang memberikan pilihan hantaran unik. Bisnis yang dirintis ini terhitung setahun sejak pandemi Covid-19.
“Saat bekerja di rumah membuat saya mencari kesibukan agar tidak bekerja di depan komputer berjam-jam. Waktu itu saya memulai beli oven saya mencoba membuat aneka roti. Namun, proses lama dan lumayan effortnya,” jelas Nabila Mecadinisa membuka percakapan.
Nabila termasuk suka mencoba beragam makanan. Salah satu yang ia sukai kimchi dengan rasa manis, pedas, gurih, dan lezat. Hanya saya di supermarket harganya lumayan mahal.
Saat itu dia mau mencoba membuat kimchi. Hanya saja untuk membuatnya tidak bisa sedikit jadi dia membuatnya agak banyak. Setelah jadi kimchi ia bagi ke beberapa teman dan mereka suka. “Sejak itu mereka meminta saya untuk membuat dan menjualnya,” ungkapnya. Nama Kunkarsa Food Atelier (IG @kunkarsafood.atelier) diambil dari singkatan rumahnya di Kuningan dan pacarnya yang tinggal di Jagakarsa.
Ketika awal pandemi Covid-19 itu banyak orang melakukan aktivitasnya di rumah atau WFH. Nah ketika itu banyak orang yang suka nonton drama Korea. Jadi kimchi cocok buat menemani pecinta drakor.
Untuk Nappa Cabagge Kimchi ukuran 500 gram dijual dengan harga Rp 40 ribu. Harga tersebut relative lebih murah ketimbang harga kimchi di supermarket. Karena respon bagus dari teman-temannya sejak April tahun lalu ia pun memberanikan untuk mulai menjual produk kimchi ke pasar yang lebih luas. Sistem yang dilakukannya adalah dengan open PO, sistem order. Jadi ia membuat berdasarkan pesanan.
Sebelum terjun ke bisnis parsel, Nabila sempat menjajal berbagai produk makanan lainnya, seperti pudding dan kopi jelly. “Dengan beberapa pertimbangan pudding tidak saya teruskan, mengingat harga materialnya mahal. Karena saya hanya memakai bahan premium,” tutur Nabila.
Setahun berjibaku dengan bisnis berbagai produk olahan makanan, pada Oktober lalu Nabila mencoba ide bisnis dengan membuat paket bundling. Jadi dalam satu paketnya terdiri dari dim sum somay, lumpia dari @laukibu dan es kopi jelly yang dikemas dalam shopping bag @bydianapuspita. Ternyata paket ini banyak yang suka. Banyak dikirim sebagai hadiah ke temen-temen. Ia terus kembangkan penjualannya di marketplace Tokopedia.
Natal tahun lalu, Nabila mengepakkan sayap bisnis ke parsel. Beberapa paketnya adalah Paket Kimchi terdiri napa cabbage 500 gram dan di-sobagi 500 gram yang dikemas dalam gift box seharga Rp 99.000. Lainnya Paket Dessert berupa iced coffee jelly original , iced coffee jelly banana, gift boc dan card yang dibanderol Rp 135.000.
Ada juga Paket Soju Mocktail dengan harga Rp 149 ribu terdiri dari Soju non alkohol, soda tonic, Yakult 2, lemon 1, sloki glass 2 dan gift box.
Lebaran ini Nabila menyediakan hampers berupa Paket Tea Seat dengan isi 2 cangkir enamel, I teko enamel, 5 coffee drip espresso blend, 5 mix organic tea (classic tubruk tea, mint, black tea with dried organge, chamomile tea), hang tag, greeting card dengan decorative box, dengan harga Rp 199.000.
Paket lainnya dalah Coffee Break Package Rp 60.000 yang terdiri dari 5 espressso drip, 5 organis tea, gift box, hangtag dan greeting cards. Paket Kimchi tetap dijual saat Lebaran ini.
Selain paket hantaran tersebut, Nabila juga mengembangkan produk lain yakni Rujak Aceh Mangga Kweni Kolang-kaling. “Saya kangen rujak aceh buatan Nenek tapi setelah mencoba kok tidak sama. Akhirnya saya cari resep, coba-coba, dan akhirnya saya temukan rasa yang saya inginkan,” katanya.
Saat Ramadan ini, Rujak Aceh buatan Nabila laris manis. Rujak Aceh ukuran 500 gr yang dipatok harga Rp 60.000 dan 1 liter Rp 95.000 ini banyak diminati. Rujak serut dengan buah-buah segar ini menurutnya sangat cocok dijadikan hantaran buka puasa. Dan ternyata banyak yang suka. “Saya senang karena ini ada taste dan tradisi lokal yang serba segar,” katanya.
Beberapa makanan baru adalah classic kroket, mozzarella bomb, pastel dan classic risol. Dan dia juga menjualnya dalam bentuk hampers. Bisa untuk buka puasa atau camilan saat Lebaran.
Nabila juga mengembangkan beberapa produk lainnya seperti frozen food yang bisa digabung sebagai hantaran unik. “Ke depannya saya tetap akan kembangkan bisnis. Satu sisi lain yang membuat saya terus jualan ini saya bisa membantu beberapa orang yang bertugas mengantar barang kiriman. Dari mereka ada yang sedang tidak punya pekerjaan, jadi saya senang melalui usaha ini saya bisa membantu beberapa orang meski dalam skala kecil,” paparnya.

Ina Cookies:Legenda Kue Kering Lebaran

Menyebut Ina Cookies pasti hampir sebagian kaum Hawa Tanah Air sudah mengenalnya. Ya, ragam kue kering asal Bandung ini sudah menjadi legenda untuk urusan kue lebaran.

Tak hanya itu beberapa produk Ina Cookies berhasil menjadii salah satu trendsetter bisnis kue kering di Indonesia. Dan memiliki banyak peminat dari seluruh Indonesia.

Beberapa kue kering yang populer ini adalah nastar, kastengel, putri salju, kue kering almond, dan kue kering coklat mede. Produknya sendiri memiliki varian reguler, jar, mini, gold, kombinasi, dan mini.

Ina Cookies yang memulai usaha pada 1994 ini tak menyangka bisnisnya menjadi besar seperti sekarang ini. Ia memulai dari skala kecil dan dia jual dari mulut ke mulut yang ternyata ampuh.

Awalnya Ina terjun bisnis kue kering, karena saat itu dia mengalami kegagalan bisnis jahe. Akhirnya dia membuat kue seperti yang sudah dilakukan kakak iparnya. Semula membuat 5 macam kue kering yaitu Kastengels, Nastar, Putri Salju, Cornflake Putih, dan Koko Krunch.

Pada saat ia memulai dia menghabiskan 1 karung terigu per bulan dengan 5 karyawan . Tahun 2018 Ina sudah menghabiskan 2.600 karung lebih atau sekitar 65 ton per bulannya dengan jumlah karyawan 600 orang.

Kini penjulan Ina Cookies terus meluas dengan lebih 100 cabang toko di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Tak hanya itu, penjualannya saat ini juga dilakukan secara online dan marketplace.

Satu hal yang selalu membuat Ina senang menjalani bisnis ini, karena dia dapat membantu memberikan pekerjaan bagi banyak orang. Ini merupakan ibadah bagi Ina.

Mesti tahun ini masih mengalami pandemi, Ina Cookies tetap bergeliat. Dibanding tahun lalu kini kondisinya sedikit lebih baik. Hal ini ditandai adanya permintaan kue kering lebih banyak.

Ina Wiyandini selaku Owner Ina Cookies & Komisaris PT Bonli Cipta Sejahtera (BCS) dalam suatu kesempatan, meyakini menghadapi situasi sulit seperti ini para pelaku UMKM tetap dituntut inovasi dan kreatif.

Seperti inovasi yang dilakukan Ina Cookies sekarang ini adalah dengan membuat varian kue kering mini dan dalam pouch. Selain itu menghadirkan cafe cookies. Di cafe ini, konsumen bisa berbelanja sambil memakan cookies. Selain itu, juga ada sejumlah varian teh, seperti teh bunga telang, dan lain-lain.

Parsel Produk Lokal Unggulan UMKM Alumni Unpad

Salah satu pemain yang ikut meramaikan pasar parsel adalah PBA (Perkumpulan Bumi Alumni) dan UMKM Alumni Universitas Padjajaran (UNPAD).

Parsel Lebaran yang satu ini unik karena merupakan variasi produk yang dijual dari UMKM UNPAD. Di sini para alumni UMKM UNPAD sejak tahun lalu bergabung untuk menyatukan langkah mengembangkan bisnisnya.

Kumpulan alumni ini menyediakan hampers Lebaran produk brand kolektif Lupba (keripik pisang aneka varian rasa, keripik batang pisang, kopi premium, kopi premium siap seduh dalam cup, bawang goreng, madu dan sambal).

Produk ini tak tampil sendiri namun dikolaborasikan dengan berbagai produk makanan UMKM Alumni UNPAD lainnya. Di antaranya kue kering, kue bolu jadul, aneka keripik, lapis legit, abon, wedang dalam cup dan lain-lainnya.
Hampers tersebut dipercantik dengan produk non makanan seperti kain tenun Baduy, pernak pernik batik, mukena, kreasi daur ulang, dan masker brokat.
Hampers ini dibuat untuk memberikan solusi bagi keluarga, rekan, kolega, dan konsumen umum yang menginginkan hampers yang tidak biasa.
“Hingga sekarang kami telah memiliki sekitar 125 produk. Kami juga sudah ada dua kade kafe yang menjadi tempat menjual beragam kuliner atau produk para alumni UNPAD,” jelas Prima Dewi sebagai Koordinator Marketing Lupba dan Humas Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD. Menurut Prima, melalui parsel ini mereka memperkenalkan produk anggota UMKM Alumni UNPAD yang saat ini anggotanya mencapai 790 orang.
“Jadi dalam pembuatan parsel Lebaran ini kami memang membuat variasi produk dari para alumni. Selain itu kami juga membuatnya dengan variasi harga dari yang sangat terjangkau hingga ada yang mencapai jutaan rupiah,” jelas Prima yang juga punya bisnis Kain Print Bandung bersama beberapa temannya dan berkembang sukses tiga tahun ini.
Peluang penjualan hampers saat ini harusnya bagus, lanjut Prima. Mengingat masih adanya larangan mudik atau kerumuman. Masyarakat dapat berinisiatif menjalin silaturahim dengan saling mengirimkan hampers kepada keluarga, sahabat, kolega dan lainnya sebagai pengganti kehadiran fisik.
Terdapat 16 jenis Parsel Lebaran yang dijual dengan arrange harga mulai Rp 185.000 hingga Rp 1.005.000.
Paket 1 seharga Rp 385 isi 1 Lupba Royall Coffee, 1 Lupba keripik pisang keju family pack. Paket 2 Rp 185.000 terdiri 1 bungkus bwang goreng , 1 bungkus keripik pisang ukuran family pack dan personal, keripik tebang.
Paket 15 terdiri dai keripiki pisang, mukena batik, sajadah, royal coffee, bawang goreng, sambal goreng Daimata, madu kuning Baduy, tempat tidu batik dengan harga Rp 1.005.000.
“Ternyata yang digemari adalah parsel yang ditempatkan di wadah bakul . Dari penjualan parsel Lebaran ini memberi kami ide untuk kami teruskan membuat parsel yang tidak hanya untuk perayaan agama saja. Kami menyediakan beragam parsel untuk dikirim kapan saja,” jelas Prima.
“Di tengah pandemi seperti ini kami senang bisa saling membantu bila ada yang sedang kondisinya tidak baik. Alumni yang tidak membuat produksi, mereka bisa ikutan menjadi reseller. Ke depannya kami ingin terus mengembangkan bisnis sambil terus menjaga silaturahim sesama alumni UNPAD,” tambahnya.

Penulis: Henni T. Soelaeman
Foto: Koleksi Kunkarsa, InaCookies, LupbaParsel UMKM Alumni UNPAD

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *