Press "Enter" to skip to content

Distribusi Bahan Bakar AS Bakal Normal Beberapa Hari Lagi

Distribusi bahan bakar lewat jaringan pipa Colonial kembali aktif Rabu 12 Mei 2021, pukul 17.00 waktu setempat. Rangkaian antrean panjang kendaraan bermotor diharapkan tidak terjadi lagi. Meski begitu, diingatkan bahwa distribusi ini perlu beberapa hari sebelum berlangsung normal kembali.

Sejak awal pekan ini hingga Rabu pagi, ratusan pengendara di Virginia, Georgia, North Carolina dan South Carolina, harus antre berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Bahkan di Washington DC, Florida, Maryland dan Tennessee banyak pompa bensin tutup total.

”Saya harus putar-putar mencari pompa bensin,” kata Vinda warga Virginia. ”Sudah lima pompa bensin tutup,” tutur Vinda warga AS berdarah Jawa itu. Jaringan whatsapp komunitas Indonesia di AS, berisi keluhan sulitnya menemukan pompa bensin yang buka. Bahkan Sophie Sukadi, ibu Vinda, harus berebut antrean dengan pembeli lain.

Kepanikan memborong bensin terjadi setelah Presiden Joe Biden mengumumkan terjadinya serangan cyber atas jaringan komputer The Colonial Pipe. Perusahaan swasta berkantor di Alpharetta, Georgia itu, terpaksa menghentikan penyaluran 3 juta barel bahan bakarnya setiap hari, ke kawasan Pantai Timur. Pipa sepanjang hampir 9 ribu kilometer yang membentang mulai Houston, Texas hingga Linden, New Jersey itu lumpuh total. Gubernur Virginia, North Carolina dan Georgia mengeluarkan perintah keadaan darurat.

The Colonial Pipeline terpaksa menyewa ratusan truk pengangkut bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan ribuan pompa bensin di sejumlah kota. Langkah itu pun tidak mampu menahan ulah pemilik kendaraan bermotor yang memborong bahan bakar minyak seperti bensin, diesel dan lainnya. Bahkan banyak di antaranya terlihat membawa jerigen, sampai 5 buah

Padahal sebelumnya, Menteri Energi AS Jennifer Granholm telah mengeluarkan imbauan agar penduduk tidak menimbun bahan bakar. Dan, harga bensin pun melonjak dari semula di kisaran $ 2.00 melonjak menjadi $ 3.00 per galon (sekitar 4 liter).

Biro Investigasi Federal, FBI mengungkapkan, serangan cyber itu dilakukan oleh DarkSide. Kelompok peretas asal Rusia ini diduga keras menyerang sejumlah jaringan dunia yang tidak menggunakan papan ketik berbahasa Rusia. Belum jelas negara mana lagi yang terkena serangan itu selain AS.

Ada kabar, kelompok peretas DarkSide ini minta tebusan jutaan dolar, untuk meloloskan jaringan komputer The Colonial dari cengkeraman perangkat lunak Ransomware, milik DarkSide. Namun hal itu dibantah lewat sebuah pernyataan: ”Tujuan kami bukan memeras atau menimbulkan masalah bagi masyarakat umum,” tulisnya.

Bantahan itu, tentu saja, akal-akalan DarkSide agar mereka tidak dicap buruk di mata dunia. The Colonial Pipeline konon memberikan sejumlah uang tebusan yang dikirim lewat berbagai mata uang digital, seperti yang diminta DarkSide. ”Kami tidak menawarkan upaya agar The Colonial mengirim uang tebusan agar pengiriman bahan bakar pulih kembali,” tutur Anne Neuberger, wakil penasehat keamanan nasional Gedung Putih. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *