Press "Enter" to skip to content

7 Tips Penting Mudik ke Indonesia di Masa Pandemi

Home is the tranquility we return to when the world turns into a confusion. Rumah adalah tempat kita mencari kedamaian, ketika dunia sedang dilanda kebingungan. Itulah yang ada di benak saya ketika memutuskan untuk mudik lebaran tahun 2021. Saya tahu perjalanan lintas negara di masa pandemi ini sangat rumit. Apalagi kasus Covid di India yang sangat parah membuat negara Asia lain memperketat perbatasan mereka. Namun tekad saya bulat: ibu saya sudah tua dan sakit. Kalau tidak disempatkan sekarang, kapan lagi? Saya perlu kebahagian batin itu setelah 14 bulan bekerja dari rumah, memakai masker dan menahan diri dari banyak aktivitas. Toh saya sudah divaksinasi lengkap. Karena itulah, 13 Mei kemarin, ketika anak sudah selesai kuliah dan larangan mudik sudah hampir berakhir, saya memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Seperti sudah diduga, meski planning sudah dilakukan dengan teliti dan penuh perhitungan, ada saja hal kecil yang bisa menjadi disaster, kalau kita tidak hati-hati. Pengalaman di bawah ini semoga bisa berguna untuk teman-teman yang akan pulang ke tanah air.

  1. Pertama, cek paspor Anda. Pastikan paspor Anda aman untuk masuk Indonesia (masih berlaku) dan untuk kembali ke negara Anda (untuk saya karena saya akan pulang ke Amerika, saya harus pastikan Green Card saya masih valid dan ada di tas agar saya bisa masuk lagi ke AS). Untuk anak saya, karena dia punya paspor Indonesia dan AS, ketika check-in di airlines untuk terbang ke Indonesia, kami harus menunjukkan kedua paspor itu, terutama paspor Indonesia. Ketika check-in untuk pulang ke Amerika, tentu paspor Amerika akan ditanya. Saat ini untuk pemegang paspor asing, ijin masuk Indonesia belum dibuka secara bebas, jadi sebaiknya konsultasi dulu dengan KBRI/KJRI sebelum bepergian, untuk mendapatkan visa. Visa on arrival selama pandemic ditiadakan.
  2. Ketika sudah masuk Indonesia, Anda diwajibkan melakukan karantina atau isolasi mandiri di hotel atau di Wisma Atlet selama 5 hari, di sana Anda harus menjalani 2 kali PCR test, setelah hasilnya negatif baru Anda bebas dari karantina. Perlu menjadi perhatian bahwa daftar hotel untuk karantina ini berubah terus setiap beberapa bulan. Pastikan Anda punya konfirmasi yang valid dari hotel Anda. Reservasi yang dilakukan sebelum masuk Indonesia, memudahkan proses Anda keluar dari bandara yang saat ini sistemnya sangat ketat dan berlapis. Saya pribadi memilih Holiday Inn (sekitar 10 juta untuk 2 orang, sudah termasuk PCR) dan cukup puas dengan servisnya. Harga paketnya termasuk paling murah dari sekitar 25 hotel dalam daftar pemerintah. Teman saya memilih Wyndham hotel dan cukup senang meskipun kata dia internetnya sering lemah. Dan hotel bintang 5 yang mahal belum tentu memberi servis yang baik: teman lain yang memilih hotel B di Jakarta, kecewa dan akhirnya pindah ke hotel lain. Padahal tarifnya 3,5 juta rupiah per malam!! Jangan lupa memilih non-smoking floor jika Anda tidak merokok. Sangat menyebalkan jika tidak suka bau rokok tetapi terpaksa menghirup bau asap rokok dari tetangga kamar Anda
  3. Tes PCR harus dilakukan within 72 hours of departure, artinya dilakukan tidak boleh lebih dari 72jam sebelum tanggal keberangkatan (bukan tanggal kedatangan di negara tujuan ya). Lebih baik sekitar 48 jam sebelum keberangkatan, untuk memastikan Anda bisa mendapatkan hasilnya sebelum keberangkatan. Pastikan juga Anda memiliki formulir yang tepat, dan petugas atau dokter yang mengisi formulir itu menuliskan tanggal dengan tepat, nama lengkap dokter, tanda tangan dan jenis tes yang diambil. Saya mengalami kesulitan di Jepang karena dokter saya lupa menuliskan nama lengkapnya (hanya tandatangan) dan lupa menuliskan tanggal di bagian atas formulir. Meskipun di hasil test jelas terlihat “negative”, petugas imigrasi di Jepang sangat mempertanyakan kesahihan formulir itu. Ketika saya mencoba mendapat info lebih lanjut dari website kliniknya, akses ke portal pasien ternyata diblok di Jepang. Setelah berdiri lebih dari 1,5 jam dan menghadapi pertanyaan dari sekitar 10 petugas, akhirnya anak saya menghubungi temannya di Philadelphia, meminta dia mengakses portal pasien untuk anak saya dan saya dan men-screenshot infonya lalu mengirimkannya ke email kami. Untunglah informasi itu akhirnya diterima oleh para petugas ini. Saya dan anak saya menjadi orang terakhir yang diizinkan check-in. Selama menjalani pertanyaan yang menyelidik dari petugas, di sebelah kanan saya, seorang pria bule berambut cepak, membentak petugas ketika ditanya untuk apa dia ke Indonesia. “saya petugas militer Amerika, saya tidak bisa memberitahu untuk apa saya ke Indonesia. Itu rahasia negara. Yang saya bisa kasih tahu adalah bahwa saya punya semua dokumentasinya. Silakan dicek,” katanya dengan galak. Di sebelah kiri saya, seorang mahasiswa Indonesia berjilbab, Amanda, mengatakan bahwa dia mengalami kesulitan karena hasil tes PCR nya dari CVS tidak menyertakan nama lengkap dokternya.” Aduh kok begitu saja dipermasalahkan ya. Mereka minta saya telepon ke kliniknya, padahal di Amerika sekarang kan malam, kliniknya tutup. “ katanya sedih.
  4. Setelah lolos dari pemeriksaan, di pesawat si pria bule militer itu duduk di depan saya di pesawat dan terdengar sedang curhat dengan 1 orang wanita dan pria bule.” Waduh, saya sempat nervous sekali karena saya sempat dideportasi ke Atlanta. Masak mau dideportasi lagi? Katanya kepada dua orang itu. Dia mengaku hanya melakukan test antigen karena tidak tahu dan gara-gara itu dia dipulangkan karena dia tidak bisa bertahan di Jepang (Jepang tertutup untuk turis) dan dia tidak diizinkan masuk Indonesia oleh petugas imigrasi Jepang. “Saya akhirnya balik ke Atlanta, dites dan terbang lagi ke Narita, “tambah si militer dengan nada gemas.

“Kalau saya tadi sempat dipersulit soal visa saya, padahal sudah jelas saya punya visa dari pemerintah Indonesia,” kata pria bule bertubuh gemuk yang duduk di sisi kanan saya. “soal test, daripada pusing, saya ambil antigen dan PCR, toh asuransi gratis karena pakai asuransi,” katanya sambil tertawa. Ketika saya menceritakan pengalaman kami, mereka semua tambah geleng kepala, apalagi setelah tahu bahwa saya berpaspor Indonesia.

5. Jangan lupa mengisi EHAC lewat website atau aplikasinya, 1 hari sebelum keberangkatan dan men-screen shot barcodenya. Kalau tidak, ketika di airport dan internet di sana lemah, Anda harus berulangkali mengisinya, karena datanya hilang setiap internetnya melemah. Bikin pusing kepala!

Ketika mendarat di Jakarta, penumpang digiring dalam barisan dan telah disediakan kursi dengan formulir Health Examination Result ((HER) lihat foto untuk lebih jelasnya). Kita diwajibkan mengisi formulir ini lalu menunjukkan EHAC kita ke petugas yang akan mengecek keduanya. Setelah itu kita maju interview dengan petugas depkes sesuai giliran. Di sini sudah mulai ditanya apakah pernah ke India atau Pakistan selama 14 hari terakhir, sudah punya akomodasi untuk karantina atau belum, dll. Kalau kita menunjukkan konfirmasi hotel, kita akan mendapat tanda yang dikalungkan, untuk memudahkan pemantauan. Kalau Anda memilih fasilitas gratis di Wisma Atlet, Anda harus mengisi formulir dan mengikuti prosedurnya. Setelah beres dan dapat cap di formulir HER, kita maju ke Imigrasi, ambil bagasi, cek di petugas customs, baru bisa keluar. Biasanya petugas hotel sudah menunggu di sana dengan papan nama kita.

6. Bawa uang rupiah secukupnya, untuk naik taxi, kasih tips, atau jajan. Money changer banyak yang belum/tidak buka di airport

7. Jangan lupa bawa snack dan botol minum yang bisa diisi air di bandara. Banyak bandara yang buka tidak dalam kapasitas penuh seperti bandara Narita, dan susah sekali mendapatkan makanan atau minuman yang cocok dengan selera kita

Bawa barang secukupnya saja karena dengan banyaknya pemeriksaan, Anda tidak mau dipusingkan dengan beban tambahan jika membawa barang-barang yang berpotensi memberikan kesulitan kepada Anda (uang tunai berlebihan, barang elektronik yang masih dalam kemasan, makanan yang tidak ada infonya di kemasannya (seperti rendang buatan sendiri), dll

Meskipun berliku dan cukup melelahkan, semua kerepotan terbayar tuntas dengan kebahagian ketika kita menginjakkan kaki di bandara Sukarno-Hatta.

If you know you are going home, the journey is never too hard.

Selamat Mudik ke tanah air!

Penulis: Indah Nuritasari
Foto: Pribadi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *