Press "Enter" to skip to content

Rochayat Salbani Tutup Usia Akibat COVID-19 di Philadelphia

Upacara pemakaman Bani Mariadi, di Friends Southwestern Burial Ground, PA, berlangsung khidmat, Sabtu 15 Mei 2021. Sekitar 50 orang anggota Masjid Al Fallah Philadelphia dan warga Indonesia lain menghadiri acara pelepasan jenasah Bani Mariadi atau Rochayat Salbani, yang wafat akibat COVID-19 di Philadelphia, dua pekan lalu.

 

Tak ada yang menyangka putra Nganjuk, Jawa Timur itu harus menutup mata Selasa 11 Mei 2021 lalu. Jenasahnya baru dimakamkan empat hari kemudian karena terikat protokol kesehatan COVID-19.

Maklum, sejak muda, Bani dikenal sebagai pekerja keras dan rajin berolahraga. ”Fisiknya kuat. Setiap hari suami saya bisa lari sejauh 8 kilometer. Bahkan di ruang basement ada treadmill untuk olahraga,” tutur Pranitha Lo, istrinya.

Bersama keluarga (koleksi pribadi)

Sejak akhir April lalu, Bani ikut tes virus mematikan itu di lapangan sebuah SLTA di kawasan South Philadelphia. Meski Pranitha Lo dan kedua putrinya negatif, namun Bani dinyatakan positif. Maka mulailah langkah isolasi mandiri di rumah, meski esok hariya masih berangkat bekerja menjaga toko menjual makanan Deli B&N Food Mart di bilangan Utara Philadelphia.

”Saya sudah ajak ke dokter, tapi dia nggak mau,” kata Pranitha yang akrab dipanggil Nita itu. Kondisi badannya masih normal pada hari Minggu itu, meski batuk terus menerus dan sesak nafas, hingga Bani harus latihan bernafas pada tengah malam.

Saat dibawa ke Rumah Sakit Methodis di South Philadelphia, Bani harus diberi oksigen dan selama 2 hari mengalami pneumonia, atau infeksi di paru-paru. Meski suaranya masih jelas saat berbincang lewat zoom dengan istri dan kedua putrinya, kondisi Bani mulai melemah sehingga harus menjalani inkubasi dan mulai dibius.

Setelah dirawat hampir seminggu, dokter pun mengabarkan bahwa bakteri telah masuk ke dalam darah. Akhirnya pada hari Selasa 11 Mei lalu, telepon Nita berdering pagi hari, isinya mengabarkan Rochayat Salbani menutup mata di usia 43 tahun.

Upacara pemakaman yang diorganisasi oleh Aditya Setyawan, Ketua Pengurus Masjid Alfalah berlangsung lancar. Penyelenggara pemakaman Muslim Khadijah Alderman Funeral Services, mengurus seluruh upacara mulai memandikan jenasah, penutupan kain kafan, pengurusan dokumen, penutupan peti (sesuai prosedur prosedur COVID-19), hingga penghantaran jenasah ke pemakaman Chelten Hills Cemetery. ”Seluruh proses penguburan dan penutupan makam dilakukan oleh teman-teman Masjid Al Falah di bawah pengawasan Mas Aditya,” tutur Nita, istri mendiang Bani Mariadi.

Bersama keluarga (koleksi pribadi)

”Kami tidak pernah mempersolkan perbedaan agama kami,” tutur Nita, yang beragama Kristen dan menjadi umat Bethany Miracle Center Philadelphia. Kedua putrinya, Amalia dan Adelyn dibebaskan untuk memeluk agama Islam. ”Setiap malam Minggu mereka ikut pengajian di Masjid Al Falah,” tutur Nita yang bertemu mendiang suaminya saat berkunjung ke Hershey Park, Taman bermain,  milik pabrik permen cokelat Hershey di Pennsyilvania tahun 2000-an.

Untuk menghormati panitia dan kerabat dekat Keluarga Bani Mariadi, Nita menggelar acara makan bersama di FDR Park, South Philadelhia. Sejumlah jemaah Muslim Al Falah dan warga Gereja Bethany Miracle Center tampak hadir menikmati santapan berbagai makanan buatan B&N Food Mart.

Sifatnya yang ringan tangan dan suka membantu seringkali dirasakan teman-temannya. Hal itu diungkapkan oleh Betty Yu. Pemilik Sky Cafe, salah satu rumah makan Indonesia di Philadelphia ini mengenal Bani sejak 12 tahun. ‘’Saya kenal Bani sejak kami membuka restoran,’’ tuturnya. ‘’Dia ramah dan suka membantu,’’ tambahnya. Bahkan di saat pandemi, ‘’Bani sering menelepon dan memberitahu informasi tentang bantuan dana bagi pengusaha kecil dan menengah dari Pemerintah Philadelphia,’’ tutur Betty Yu.

Demikian juga yang dirasakan Iwan Santoso. Pemilik Toko Pendawa, toko penjual makanan Indonesia terbesar di Philadelphia ini sempat diberi semangat agar tetap mengurus bantuan keuangan dari Pemda Philadelphia. ‘’Padahal saya sudah hampir menyerah karena syarat-syaratnya agak rumit,’’ kata Iwan.

Iwan Santoso (koleksi ribadii)

Iwan yang juga mengenal Bani cukup lama pernah dibantu membeli masker dengan harga murah. ‘’Padahal saat itu, sekitar tahun lalu, ‘’Masker  sedang mahal-mahalnya,’’ kata Iwan Santoso. ‘’Saya merasa kehilangan dengan teman dekat saya,’’ sambungnya.

Kesan serupa diutarakan Aditya Setyawan. ”Di kalangan komunitas Indonesia Mas Bani sangat dikenal dengan murah senyumnya, dermawan dan selalu suka membantu sesama yg membutuhkan pertolongan,” tutur Aditya, pengurus senior Masjid Al Falah Philadelphia.

Di setiap kegiatan masjid Bani juga selalu datang. ”Yang tak pernah kita lupakan adalah di saat kegiatan membersihkan  Masjid Al-Falah atau kegiatan gotong royong dan kerja bakti untuk perbaikan prasarana kegiatan ibadah, almarhum mas Bani tidak pernah absen sekalipun,” kata Aditya Setyawan.

Bani Mariadi (kedua dari kiri atas).

Beliau tidak hanya ikut berkeringat menyingsingkan lengan baju, malah almarhum tidak segan-segan mengosongkan kantongnya untuk membelikan semua kebutuhan material yang akan digunakan untuk perbaikan Masjid Al Falah.  ”Pokoknya setiap kali ada kerja bakti almarhum selalu memastikan semua yg ikut kerja terjamin juga makan minumnya,” ujar Aditya Setiawan yang mengurus seluruh penguburan Bani Mariadi pekan lalu.

Rabu siang 19 Mei 2021, Konjen RI New York, Arifi Saiman berziarah ke makam almarhum Bani Mariadi. (Video: Aditya Setyawan & Foto-foto koleksi keluarga Bani Mariadi/DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *