Press "Enter" to skip to content

Paket “Wisata Vaksin” dari Indonesia

Sejumlah agen perjalanan wisata di Indonesia pun menawarkan paket wisata ke Amerika dengan bonus mendapatkan vaksin. 

Virus Corona penyebab Covid-19 menjadi momok semua orang. Tidak terkecuali warga negara Indonesia, termasuk Citra Octaviany (31 tahun). Student Recruiter Manager ini termasuk yang “parno” terhadap virus ini. Karenanya, tunduk dengan imbauan Pemerintah untuk stay home adalah mutlak baginya. 

“Takut ketepaan (tertular, red). Anak saya masih kecil,” ungkap ibu satu anak itu dari Bali, ketika dihubungi via telepon pada Jumat, 28 Mei 2021. 

Untuk itu, dia menghentikan jadwal bootcamp olahraga setiap minggu. Pun acara “ngemall” atau makan di luar bersama anak dan suami, yang biasanya juga dilakukan setiap minggu. Sudah lebih dari setahun nggak piknik. Mereka lebih banyak di rumah, fokus ke penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), juga meal plan. 

“Jadi, kalau nggak penting-penting amat, nggak keluar rumah,” tegasnya. 

Kekuatiran Citra dan warga lainnya sangat beralasan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) mencatat, per 29 Mei 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di tanah air telah melampaui 1,8 juta kasus. Terdapat 1.659.974 sembuh, sedangkan 50.262 jiwa tidak tertolong dan meninggal dunia. 

Namun dibanding awal 2021, kasus baru Covid-19 harian di tanah air per 29 Mei 2021 tersebut, jauh lebih rendah. Dari JHU CSSE Covid-19 Data, dapat dilihat, jika per 30 Jan 2021 kasus barunya mencapai 14.518, maka per Juni 2021 jumlahnya 6.565 kasus. 

Hal itu tak lepas dari berbagai upaya Pemerintah RI dalam menekan kasus penyebaran virus yang terus berevolusi ini. Termasuk kesigapan membeli dan mengamankan vaksin untuk masyarakat, sejak dini. Dari laman Instagram @jokowi, Presiden RI Joko Widodo (akrab disapa Jokowi, red) mengabarkan, hingga pekan terakhir Mei 2021, Indonesia telah memiliki 75,9 juta dosis vaksin Covid-19 dalam bentuk jadi. 

“Jika setiap orang menerima dua dosis suntikan vaksin, maka jumlah itu cukup untuk 37,5 juta orang,” ungkap Jokowi.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.01.07/Menkes/12758/2020 tentang Penetapan Jenis vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, terdapat tujuh vaksin yang akan digunakan. Ketujuh vaksin tersebut adalah CoronaVac-Sinovac, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, PT Bio Farma, Novavax, Pfizer-BioNTech, dan Moderna. 

Bagaimana realisasinya? Pemberiannya kepada masyarakat dilakukan secara bertahap. Sejauh ini, ungkap Jokowi, program vaksinasi massal pemerintah telah mencapai 26,9 juta dosis. Sebanyak 16,3 juta orang telah menerima dosis pertama, dan sekitar 10,6 juta jiwa menerima vaksin kedua. Selebihnya masih menunggu giliran.

Di tengah harapan itu, kabar badai Covid-19 kedua yang melanda sejumlah negara, kembali membangkitkan kekhawatiran berbagai pihak (lagi). Terlebih maraknya informasi terkait varian baru virus Corona dan berita negatif seputar dampak dari vaksin yang digunakan di tanah air.

Seperti dikutip Kontan.co.id, di Indonesia setidaknya terdeteksi tiga varian baru, yakni varian Inggris B117 yang lebih menular dan sirkulasinya di Asia Tenggara. World Health Organization (WHO) mencatat berbagai peningkatan kasus sampai 49 persen varian ini. Varian lain adalah B1617, yang dikenal dengan varian Covid-19 India, serta B1351 (varian Afrika Selatan). 

Detik.health.com, pada 29 Maret 2021, melaporkan, Satgas Penanganan COVID-19 Sulawesi Utara menyebut dari 3.990 warga yang disuntik vaksin AstraZeneca, ada yang mengalami efek samping seperti demam, menggigil, nyeri badan, nyeri tulang, mual, dan muntah. Kompas.com, pada 11 Mei 2021, menyebutkan, seorang pemuda di Jakarta dikabarkan meninggal dunia setelah menerima dosis pertama vaksin tersebut. 

Akhir April 2021, Kompas.com melaporkan, kasus Covid-19 di cluster perkantoran DKI Jakarta, meningkat seusai menjalani vaksinasi. Dan pekan ini, media massa di tanah air dihebohkan penyebaran Covid-19 yang bergerak cepat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Detik.health.com, pada 1 Juni 2021,  melaporkan, ada 42 desa di Kudus yang menjadi zona merah Covid-19, dengan kasus aktif mencapai 1200-an. 

“Kekuatiran pasti ada. Sekarang ini tetap ikutin Prokes (Protokol Kesehatan, red), (mengonsumsi) vitamin, dan higienis. Pola hidup sehat. Kami masih harus nunggu giliran (mendapatkan vaksin, red),” ungkap Citra penuh harap, sekaligus cemas.

Paket “Wisata Vaksin” dari Indonesia 

Antrean untuk mendapatkan vaksin dan kecemasan masyarakat ini pun, ditangkap oleh sejumlah agen perjalanan wisata di tanah air. Mereka menawarkan paket “wisata vaksin”, tepatnya paket wisata ke Amerika Serikat dengan bonus mendapatkan vaksin. Salah satunya adalah ATS Vacations (ATS), yang berkantor pusat di Kawasan Jakarta Barat.  

“Kami menyediakan jasa perjalanan wisata ke Amerika, kebetulan di Amerika sedang digiatkan pemberian vaksin dan tidak dikenakan biaya, sehingga kami atur satu hari dimana tamu berkesempatan jika ingin mendapatkan vaksin disana,” ungkap Josephine Nathania, Marketing ATS, di Jakarta, Senin, 31 Mei 2021.

Menurutnya, tidak ada alasan khusus dibalik penawaran ini.  ATS merupakan wholesaler perjalanan wisata yang lini bisnisnya menyediakan jasa perjalanan wisata. 

“Intinya adalah berwisata ke Amerika, dan pada perjalanan tersebut peserta berkesempatan mendapatkan vaksin,” tegas Josephine.

ATS memiliki paket USA West Coast dengan pilihan 7-10 hari. Menawarkan jalan-jalan ke Los Angeles, Las Vegas, dan tujuan lain di pantai barat dengan bonus vaksin Johnson & Johnson (J&J). Harganya mulai dari Rp19,9 juta bersih, termasuk asuransi perjalanan. 

“Tidak ada batasan usia (untuk wisata, red), tapi untuk vaksin harus di atas usia 18. Harus PCR dan negatif Covid-19. Bagi yang ingin vaksin, dianjurkan berkonsultasi dokter dulu bila mempunyai penyakit bawaan,” paparnya terkait syarat-syarat peserta tur. 

Josephine menambahkan, target dari trip ini adalah mereka yang sudah memiliki Visa Amerika Serikat, atau yang visa-nya expired kurang dari 48 bulan (4 tahun), karena dapat diperpanjang tanpa interview dan prosesnya lebih singkat. 

“Kami siap membantu proses perpanjangannya. Sedangkan bagi yang belum memiliki Visa, harus bersabar, karena jadwal interview baru available September dengan kuota terbatas,” jelas Josephine. 

Setali tiga ulang, Destination Tour pun menawarkan paket serupa, yakni USA Health Tourism. Syaratnya yang kurang lebih sama dengan ATS. Namun, selain vaksin J&J, agen perjalanan yang bermarkas di Jakarta Pusat ini, menawarkan pilihan bonus vaksin Pfizer. Harganya mulai Rp9,7 juta dengan minimal peserta 2 orang. 

“Selain untuk wisata, paket ini dibuat untuk mengupayakan percepatan masyarakat Indonesia mendapatkan vaksin, dan ada kesempatan untuk vaksin di Amerika secara resmi, dengan bukti resmi,” terang Admin Contact Centre Destination Tour melalui pesan daring

Hanya saja untuk vaksin Pfizer, katanya, wisatawan harus mengambil paket wisata lebih lama. Hal ini disebabkan vaksin tersebut diberikan dalam dua tahap dengan jeda 21 hari. 

“Disarankan untuk tetap stay disana selama menunggu vaksin kedua,” imbuhnya. 

Indonesia telah memulai program vaksinasi untuk penanggulangan pandemik Covid-19 sejak Januari 2021. Presiden Jokowi menjadi orang pertama yang mendapatkannya. Di tanah air, vaksin J&J dan Pfizer belum digunakan. Menurut Kompas.com, saat ini pemerintah baru menggunakan tiga jenis vaksin, yakni CoronaVac- Sinovac, Oxford-AstraZeneca, dan Sinopharm.

Di tanah air, ketiga jenis vaksin tersebut memiliki tingkat efikasi atau kemanjuran bervariasi. Sinovac, misalnya, efikasinya 65,3 persen. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut efikasi AstraZeneca sebesar 62,1 persen. Menurut BBC, 18 Januari 2021, Sinopharm memiliki efikasi antara 79-86 persen. 

Sementara tingkat efikasi vaksin PT Bio Farma adalah 65,3 persen, Novavax 89,3 persen, Pfizer 95 persen, dan Moderna 94 persen.  Vaksin J&J tidak termasuk dalam tujuh jenis vaksin yang akan digunakan di tanah air, namun Badan Makanan dan Obat Amerika serikat (FDA) menyatakan bahwa bahwa vaksin tersebut telah memenuhi syarat untuk izin pakai darurat. Dengan tingkat efikasi 66,9-72 persen, vaksin J&J ini cukup diberikan satu dosis saja.  

Menanggapi maraknya paket wisata ke Amerika dengan bonus mendapatkan vaksin, praktisi perhotelan dan pariwisata dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Lice Sari, mengatakan hal tersebut sah-sah saja. Terlebih bagi masyarakat yang memiliki dana berlebih dan ingin berlibur ke tempat yang relatif aman. 

“Amerika, kan, salah satu negara yang telah bebas masker, ya. Jadi relatif lebih aman untuk berwisata,” ungkap Lice Sari di Jakarta, Jumat, 28 Mei 2021, melalui sambungan telepon.

Terlebih bagi masyarakat yang belum mengetahui kapan akan mendapatkan vaksin di Indonesia. Dan masih menunggu antrian. 

“Ada uang, ada paket (wisata, red) ke Amerika yang harganya menggiurkan, dapat akomodasi memadai, dan bisa di-vaksin pula. Menarik, sih,” katanya. 

Namun, Lice memprediksi, paket ini kemungkinan besar akan banyak diminati para orangtua yang berencana menyekolahkan anaknya ke Amerika, ketimbang yang sengaja jalan-jalan. Demand-nya akan melonjak menjelang Tahun Ajaran baru di Negeri Paman Sam untuk Fall intake yang biasanya dimulai Agustus/September.

“Ini big deal banget buat para orangtua yang anaknya akan belajar ke Amerika. Apalagi kalau mereka sudah harus segera berangkat karena jadwal sekolah atau kampus, misalnya, tapi belum dapat giliran vaksin di sini. Mereka bisa sekalian vaksin di sana,” pungkas Lice.

Penulis : Susandijani/ Yangski

Ilustrasi: unsplash.com Daniel Schludi, stil

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *