Press "Enter" to skip to content

Jastip, Jawaban Kangen Rasa Ori

Jasa Titip (Jastip) menjadi solusi bagi yang “ngidam” barang atau makanan original dari Amerika-Indonesia, pun sebaliknya.

Ngincer tas original atau ori merek Coach atau boot Balenciaga desain terbaru dari Amerika? Ngidam Gudeg atau Sate Ratu asli Yogyakarta? Tapi masih kuatir Covid-19, belum ada waktu bepergian, atau ongkos terbang masih tiarap?

Jastip atau Jasa Titip memungkinkan kita memiliki barang atau makanan idaman asli dari daerah asalnya, tanpa ribet dan capek. Kita hanya perlu memilih barang yang disukai dari berbagai belahan bumi yang berbeda, biarkan orang lain yang memburunya. Hal itu dirasakan betul oleh Helenita Gratia, 36 tahun.

“Buat aku, Jastip sangat membantu, apalagi di masa pandemi (Covid-19, red) gini, belum berani keluar rumah,” ungkap hot mama yang sedang menantikan kelahiran anak keduanya ini, via telepon genggam dari Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021.

Jastip merupakan salah satu ekses dari berkembangnya fenomena belanja online. Jasa ini terus mekar seiring semakin mainstream-nya platform media sosial. Lalu semakin menjamur dimasa Pandemi Covid-19. Menurut BBC News, belanja online dicetuskan pertama kali oleh bos Redifon Computers dari Inggris, Michael Aldrich, pada 1978.

“Konsepnya adalah dapat membeli apa pun tanpa meninggalkan kursi Anda,” kutip BBC News.

Potensi pasar yang dibidik dari bisnis ini adalah para pengguna internet, tepatnya, komputer yang dihubungkan dengan jaringan telepon. Kala itu jumlahnya masih terbatas. Namun, menurut Survey Hootsuite 2021 angka pengguna internet di seluruh dunia terus merangkak naik.

“Jumlahnya kini mencapai 4,66 miliar jiwa. Sebanyak 4,44 miliar-nya pengguna media sosial,” lapor We Are Social dari Inggris, dalam “Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital” per 11 Februari 2021.

Dari jumlah itu, pengguna internet di Indonesia sendiri mencapai 202,6 juta dengan penetrasi 73,7 persen, dimana 170 juta diantaranya menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, pun TikTok. Termasuk WhatsApp dan Youtube. Sebanyak 96,4 persen mengaksesnya dengan smartphone.

Helenita sendiri tak bisa lepas dari smartphone-nya. Meski tidak ada waktu khusus berbelanja online, termasuk lewat Jastip, namun dia “rajin” memantau aktivitas para penyedia Jastip melalui smartphone-nya, terutama jika ada barang yang diidamkan.

“Aku suka pantau mereka yang live dari Amerika, Turki, Belanda, misalnya. Jadi kita tahu mereka di mana, masuk ke toko apa, ada produk atau merk (brand, red) apa saja. Dan barangnya “betulan” (original, red). Kalau ada yang sesuai, kita bisa nge-grab duluan,” papar pemburu Coach, Kate Spade, Michael Kors dan Gucci, itu, penuh semangat.

Memang, seperti diakuinya, sejumlah brand ternama sudah dapat ditemukan di tanah air. Namun, berbelanja melalui Jastip bisa menyelamatkanya dari ancaman “kanker” (kantong kering, red) dan “kalap mata” karena semua ingin dibeli.

“Selain itu banyak produk baru yang belum masuk ke Indoensia, kan. Malah ada yang tidak bisa masuk, karena limited edition. Dan harga di sini lebih mahal,” ujarnya memberi alasan lebih memilih Jastip.

Jastip Amerika-Indonesia
Peminat barang berkualitas, apalagi limited edition dari brand terkenal, begitu meruah di tanah air. Bahkan dimasa Pandemi Covid-19 ini, dikala semua kegiatan “dipaksa” online, termasuk berbelanja. Maka, bisnis Jastip pun bermunculan. Salah satu pemainnya adalah Spesial Belanja di Amerika (Jastip USA).

Foto: koleksi @spesialbelanjadiamerika

Almost 5 years, ya. Awalnya ngebantuin teman-teman dari Indonesia yang mau nitip and surprisingly, bisa jadi lebih dari itu sekarang,” ungkap Riama Agustina, owner Jastip USA, melalui pesan WhatsApp, Jumat, 11 Juni 2021.

Saat ini, jumlah pelangganya lebih dari 800 orang. Tak kurang dari 400-800 kilogram “belanjaan” per bulan dikirimnya dari Negeri Paman Sam. Barangnya bervariasi, dengan harga mulai Rp60.000 saja.

“Sejauh ini kami memanfaatkan platform media sosial Instagram dan Facebook. Juga (marketplace) Shopee dan Tokopedia,” ungkap Riama yang memakai akun Instagram @spesialbelanjadiamerika dan group Facebook Lapak Serba Ada USA untuk Jastip-nya.

Menurutnya, guna membantu memenuhi kebutuhan pelanggan, pihaknya menerima pesanan apa pun dengan respon cepat. Asalkan, sesuai aturan di kedua negara. Jastip yang dikelolanya pun melayani berbagai kalangan. Mulai dari artis, pengusaha, reseller, sampai ibu rumahtangga biasa.

“Awalnya kami hanya (Jastip) makanan. Kebetulan customer kita variatif. Sekarang we accept any request selama itu nggak melanggar hukum. Jika ada yang order barang murah sekalipun akan kami layani,” terangnya.

Tak heran, jika pelanggan loyalnya tetap terjaga hingga kini. Mereka adalah yang kerap melakukan repeat order.

“Diperkirakan 90 persen pelanggan adalah loyal customer,” paparnya.

Dari laman akun Jastip-nya, Riama memang menawarkan banyak ragam dan label produk dari Negeri Paman Sam. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, dompet, perhiaasan, kosmetik dan parfum. Baik untuk wanita, pun pria. Ada label Michael Kors, Karl Lagerfeld, Puma, Tory Burch, Mark Jacob, Hermes, Dior, dan masih banyak lagi. Dia kerap melakukan live shopping setiap minggunya.

“Kami menjadi VIP member sejumlah merek ternama, jadi banyak dapat diskon dan itu mempengaruhi harga jual kita, bisa makin murah tentunya. Pelanggan bisa belanja barang di Amerika berasa di Mangga Dua,” ungkapnya berpromosi keunggulan Jastip-nya.

Tak hanya melayani Jastip barang-barang dari Amerika, namun juga dari tanah air. Pelanggannya ada bule, ada pula diaspora atau keluarga Indonesia yang tinggal di Amerika. Mereka umumnya memesan obat-obatan, bumbu-bumbu dan makanan khas daerah Indonesia.

Jastip Kuliner Lokal

Di Tanah Air, selain fashion, produk kuliner lokal pun menjadi incaran pelanggan Jastip, terutama bagi mereka yang kangen akan citarasa makanan khas daerah. Termasuk yang dialami Ikhwan Maulana (47). Imajinasi langsung terbang ke Yogyakarta, saat foto sepiring sate berwarna merah lengkap dengan sambal, serta acar-nya muncul di grup WhatsApp keluarga.

Ikhwan hanya satu dari sekian orang yang ngiler melihat foto itu. Banyak yang mengalami hal serupa. Tapi tak perlu resah jika Anda berada di lain kota. Kini banyak penyedia Jastip lokal, termasuk Jastip khusus kuliner yang dikelola Sari Vanduwati dan beberapa kawannya.

“Biasanya kami sebar foto di grup-grup media sosial, seperti WhatsApp, Viber, Telegram. Eh, responnya bagus,” ujarnya memulai kisah lewat ponsel.

Foto : Koleksti Store Sate Ratu

Ngidam Sate Ratu. Tapi apa daya, jarak memisahkan. Apalagi situasi masih begini (ancaman Covid-19, red),” ujar pria yang tinggal di Provinsi Banten ini. pesan elektronik.

Prospek Jastip kuliner ini, katanya, terbilang menguntungkan, meski saingannya juga banyak. Nyaris sama dengan Jastip lainnya, Sari mengambil keuntungan sekitar 15-25 persen.

“Tergantung itemnya, tak bisa dipukul rata. Gambaran per bulan saja dengan 2-3x Jastip  pada sekitar 200 item kuliner, bisa mendapatkan Rp3,5 juta hingga Rp 6 juta,” ungkapnya.

Keuntungan lainnya, bisa jalan-jalan, menikmati kuliner gratis, pun banyak kenal vendor makanan dan customer. Diakuinya, selama terjun ke dunia Jastip, dia belum pernah rugi, paling lebih ke omset, kadang naik turun.

“Bisnis Jastip kini menjamur, harga juga bersaing. Bahkan, beberapa store bisa kirim paket via paxel,” kata penyedia Jastip makanan khas Bogor, Bandung, Cirebon, Yogjakarta, Solo, Semarang, Malang, Purwokerto, Medan, Bali, itu.

Meski begitu, dia tetap optimis, karena Jastipnya memberikan perlakuan khusus. Dan menurut pengamatannya, tidak semua store menyediakan packing yang baik, seperti box styrofoam dan icegel. Padahal ketersediaan dua hal tersebut, bisa mepengaruhi kualitas makanan yang dikirim.

Foto : koleksi Store Mie Tiongsan 1973

“Ujungnya, kalau dihitung, kadang pesan ke Jastip ada yang lebih murah,” ujarnya lagi.

Kualitas adalah segalanya. Apalagi yang dititip adalah makanan. Mungkin berkat perlakuannya itu, Jastipnya terus berkembang. Awalnya hanya 150-200 item, lebih banyak ke lauk, seperti bandeng presto, empal gentong. Kini sudah lebih banyak dan beragam. Ada lumpia, wingko babad, moavi, yangko, bumbu petis, babat gongso, dan banyak lagi.

“Kami menetapkan sendiri itemnya. Namun bisa request juga, tapi harus dilihat dulu jenis makanannya. Apakah aman dibawa ke luar kota,” katanya berkisah.

Guna meningkatkan pelayanan, Sari menerapkan sistem PO (Pre-Order, red) dengan kuota, sehingga tidak ada lagi penumpukkan pesanan dan rush hour. Kini, jadwal belanja, packing dan delivery pun sesuai target.

“Sejauh ini, jumlah keluhan hanya sekitar 5 persen. Sementara loyal customernya bisa mencapai 50 persen,” kisahnya sumringah.

Menurutnya, selain memberikan pelayanan ramah, Sari selalu cepat tanggap saat pelanggan bertanya. Pun menjelaskan produk dengan lengkap, dan mengirimkan produk dalam kemasan rapi serta tepat waktu. Tak heran, jika kini bisnis Jastip-nya dengan menitipkan pesan ke no Whats app- +62 82213102057, ini mulai dilirik pelanggan Manca Negara.

Jadi teringat pernyataan Ricky Joseph Pesik, yang pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Barekraf) periode 2015-2019. Beliau mengatakan, agar penyedia Jastip turut mempromosikan produk dalam negeri, seperti tenun, batik, perhiasan perak, dan lain-lain.

“Itu, kan, luar biasa kalau bisa kita lakukan,” ungkapnya seperti dikutip haibunda.com beberapa tahun silam, seraya berharap para Diaspora Indonesia turut menjadi resiprokal atau sarana Jastip di luar negeri.

Nah, Anda ngidam barang dan kuliner favorit dari Amerika atau dari daerah lain di tanah air? Tinggal Jastip saja!

PENULIS : Susandijani / Yangski
FOTO : koleksi @spesialbelanjadiamerika, Koleksi Store Sate Ratu, koleksi Store Mie Tiongsan 1973

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *