Press "Enter" to skip to content

Covid-19 Memuncak, Harga Oksigen Naik 5 Kali Lipat

Melonjaknya kembali kasus Covid-19 di Indonesia, membuat kelangkaan oksigen di sejumlah daerah. Harganya pun naik hingga 5 kali lipat.

Ternyata kepanikan tengah menyelimuti keluarga dari ibu dua anak ini. Salah satu kerabatnya di kawasan selatan Jakarta pun tak luput dari amukan Covid-19.

“Sepupu saya positif. Kami nyari oksigen susah lho,” ungkap Hera, sapaan Octaviera, ketika dihubungi via telepon genggam, Senin, 12 Juli 2021.

Dari ceritanya, kala itu adalah hari ke-empat kerabatnya dinyatakan positif hasil test Antigen. Dia disarankan isolasi mandiri (Isoman) di rumah, namun kemudian mengalami sesak napas dan membutuhkan bantuan oksigen.

“Kami telah menghubungi sejumlah Rumah Sakit terdekat agar dapat dirawat, namun masih penuh,” ujarnya, “akhirnya kami coba mencari oksigen sendiri.”

Hera paham betul, dari informasi yang diperolehnya di sejumlah media, oksigen dikabarkan langka. Terjadi antrean panjang di sejumlah vendor penjual atau penyedia isi ulang oksigen. Kendati pun tersedia, harganya meroket hingga lima bahkan enam kali lipat dari harga normal.

“Kami cari oksigen kesana-sini. Memang benar-benar susah, langka,” sambungnya seraya berharap mendapat informasi valid terkait vendor oksigen.

Selain Hera di Jakarta, kesulitan mencari gas penunjang respirasi manusia ini pun dialami oleh Kanda Sudiana di Bandung. Berbeda dengan Hera, dia memilih “berburu” langsung dari toko ke toko.

“Tapi hasilnya nihil. Terakhir “dapet” (oksigen, red) dua hari lalu, harganya 450.000 (Rupiah, red) untuk yang tiga kubik. Biasanya 45.000 (Rupiah, red) per kubik,” ujar Kanda via telepon dari Bandung, Senin, 12 Juli 2021.

Kelangkaan oksigen di area Bandung ini, ungkap Kanda, mulai dirasakan setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali resmi diterapakan. Ditambah maraknya pemberitaan antrean oksigen.

“Sejak itu, oksigen benar-benar nggak ada. Dari kemarin kami keliling Bandung, belum dapat-dapat. Ini sedang nyari-nyari (oksigen, red), sampai ke Soreang dan Cimahi,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk memberlakukan PPKM Darurat Jawa-Bali mulai 3-20 Juli 2021. Kebijakan ini disampaikan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis, 1 Juli 2021, menyusul terus naiknya jumlah kasus harian Covid-19 di tanah air. Dan kemudian diperpanjang sampai 25 Juli 2021.

Menurut Presiden, seperti dikutip Tempo.co sehari sebelumnya, di kedua pulau tersebut terdapat 44 kabupaten/kota di enam provinsi yang nilai asesmennya 4. Nilai asesmen 4 dan 3 ini merujuk pada penambahan kasus Covid-19 di atas 10.000 per harinya secara nasional, alias Zona Merah.

Per 30 Juni 2021, di website-nya, Covid19.go.id, Satgas Covid-19 mencatat seluruh wilayah DKI Jakarta adalah Zona Merah, kecuali Kepulauan Seribu. Sementara di Jawa Barat ada 11 Zona Merah, termasuk Kota Depok, Bekasi, dan Cimahi. Sedangkan di Banten terdapat empat Zona Merah, termasuk Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.

Dari penelusuran yang dilakukan ke sejumlah toko penjual dan penyedia isi ulang oksigen di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bandung, kelangkaan oksigen memang terjadi. Sejumlah agen oksigen yang dihubungi mengatakan kosong atau tidak memiliki stok.

“Nggak ada. Kosong. Coba ke Toko Bayu, di Kota (Tangerang, red) dekat Cimone,” ungkap seorang pekerja di agen penjual oksigen di Tangerang, yang tak mau disebut namanya. Toko Bayu pun ternyata tutup.

Menurut General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa (DD), dr. Yeni Purnamasari, memang terjadi kelangkaan oksigen di sejumlah wilayah di tanah air saat ini. Penyebab utamanya lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi.

“Kalau dilihat dari lonjakan kasus (Covid-19, red) saat ini, memang sangat tinggi dibandingkan dengan puncak gelombang pertama pada 2020,” ujar Yeni melalui voice note, pada Sabtu, 17 Juli 2021.

Covid-19 Information Center mencatat, per 15 Juli 2021 kasus aktif hariannya mencapai 56,757 kasus. Dari Worldometer, dapat diketahui bahwa kasus aktif harian Covid-19 di Indonesia pada 15 Juli 2021 itu adalah yang tertinggi di dunia.

Pada 2020, kasus harian tertinggi terjadi pada 3 Desember dengan 8,369 kasus. Sejak itu, trennya cenderung naik hingga mencapai 14.518 kasus pada 30 Januari 2021. Namun tren kasus harian kembali melandai menjelang puasa dan Lebaran hingga hanya 2.385 kasus per 15 Mei. Setelahnya, corona seperti melonjak hingga memuncak di 15 Juli 2020 itu.

Menurut Yeni, lonjakan tersebut membuat pasien dengan gejala sedang dan berat datang ke Rumah Sakit pada saat bersamaan. Mereka datang dengan gejala sesak napas, saturasi oksigen menurun, dan memerlukan perawatan dengan oksigen.

“Kebutuhan oksigen pun meningkat, hampir empat kali lipat hingga lima kali lipat,” terangnya.

Yeni merinci, sebelumnya, kebutuhan oksigen ini hanya 400 ton per hari. Dan, menurut Menteri Kesehatan, imbuhnya, sekarang ini kebutuhannya sudah menjadi 2000 ton per hari.

“Kebutuhannya meningkat, perputarannya belum merata, juga ada problem distribusi, di mana beberapa wilayah mengalami penyekatan. Sehingga (oksigen, red) menjadi sesuatu yang kompleks,” paparnya soal kelangkaan oksigen di masyarakat.

Aksi Peduli Oksigen

Dalam kegamangan akibat langkanya oksigen di tanah air, sejumlah aksi untuk membantu pemenuhan oksigen bagi pasien Covid-19 pun bermunculan dari berbagai kalangan. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satunya adalah aksi #DaruratOksigen yang dimotori oleh Dompet Dhuafa (DD). Program ini mengajak masyarakat patungan Rp50.000 untuk pengadaan tabung oksigen, lalu menyalurkannya ke sejumlah Rumah Sakit rujukan Covid-19. Ada juga aksi #SedekahOksigen DD.

Istimewa, Koleksi Dompet Dhuafa

“Fakta di beberapa Rumah Sakit jejaring kami, permintaan oksigen saat ini sangat tinggi, bahkan mengalami kekosongan, sehingga mereka harus menutup sebagian layanan atau tidak menerima pasien baru sampai pasokan oksigen tersedia lagi,” ujar Yeni mengenai latar belakang DD menjalankan aksi tersebut.

Aksi yang sudah dimulai sejak awal Juli 2021 ini menargetkan 50 tabung per hari dengan perputaran di sejumlah Rumah Sakit dan pasien yang terdampak. Jumlah itu dialokasikan untuk wilayah Jabodetabek, serta beberapa daerah di Jawa Barat.

“Secara keseluruhan, kami menargetkan seribu tabung dalam tiga bulan ke depan,” ungkapnya optimis.

Sejauh ini, aksi #DaruratOksigen dan #SedekahOksigen DD telah menyalurkan bantuan ke RSUD Kebayoran Lama dan Depok. Berikutnya, RSUD Matraman dan sejumlah RSUD yang sudah mengajukan, serta masyarakat umum, yakni pasien Isoman yang lolos asesmen oleh Tim Medis Crisis Center DD.

“Dalam sehari, permintaan dari masyarakat mencapai 50, namun baru lima sampai sepuluh tabung yang terpenuhi karena pasokannya masih terkendala. Harganya pun meningkat hingga lima kali lipat,” ujarnya.

Ke depan, imbuh Yeni, DD akan mengupayakan stasiun mini pengisian oksigen. Harapannya, perputaran kebutuhan pengisian tabung oksigen yang ada bisa lebih cepat terpenuhi dan terdistribusi ke Rumah Sakit serta masyarakat yang membutuhkan.

Rumah Zakat pun mengajak masyarakat patungan untuk berbagi tabung oksigen. Sementara dari ranah kampus, sejumlah alumni Perguruan Tinggi menggalang aksi serupa. Ada IKA-UNPAD dan IA-ITB, Bandung, misalnya.

Setali tiga uang dengan DD, aksi mereka terhambat oleh langkanya ketersediaan oksigen di pasaran. Kalaupun ada, harganya melonjak. Karenanya, layanan pinjam-pakai oksigen saat ini diutamakan untuk keluarga besar dan alumnus terlebih dulu.

“Kami mohon maaf, karena keterbatasan oksigen, maka prioritasnya untuk keluarga besar UNPAD dulu. Sedangkan layanan lain seperti alat obat-obatan, ambulance dan sembako relatif normal,” ujar Kanda yang turut menjadi Tim Lapangan aksi peduli IKA-UNPAD untuk pasien Covid-19 di Bandung.

Istimewa, Koleksi IKA UNPAD

Dari puluhan agen penyedia oksigen di Jabodetabek dan Bandung yang direkomendasikan melalui WhatsApp, nyaris semuanya tak berhasil dihubungi. Ada yang tidak diangkat, lalu nomornya dialihkan, ada pula yang tidak dapat dihubungi sama sekali.

Seolah menjawab harapan masyarakat akan hadirnya kembali oksigen, bantuan isi ulang ditawarkan Depo Pemeliharaan 70, Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara. Aksi ini digelar dalam rangka HUT Bhakti TNI AU ke-71. Masyarakat dapat mengisi oksigen gratis di Lapangan Udara Sulaiman, Bandung, pada 19-24 Juli 2021.

Hal serupa ditawarkan PT Migas Hulu Jabar melalui anak perusahaannya, PT Energi Negeri Mandiri. Rumah Sakit, Unit Layanan Kesehatan, dan Pemerintah Daerah dipersilakan mengajukan permohonan. Pengisian oksigen dilakukan di Cilegon Banten, secara cuma-cuma, sesuai mekanisme yang ditentukan.

Dari luar negeri, Sea Group selaku perusahaan induk Shopee dan Garena yang bermarkas di Singapura, memberikan bantuan kepada Pemerintah RI berupa 1000 tabung oksigen dan 1 juta dosis vaksin Covid-19. Bantuan tersebut diberikan secara virtual dari Co-Founder Sea Group, Ye Gang, kepada Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi, pada Senin, 12 Juli 2021.

Selain yang dilaporkan di atas, banyak dukungan dan aksi peduli oksigen lainnya digelar. Meski demikian, Hera mengingatkan untuk berhati-hati dengan melakukan cek-ricek.   Belakangan, Hera mengaku telah mengalami hal tak diinginkan.

Ketika dihubungi via telepon genggam, Hera bercerita, alih-alih mendapatkan oksigen yang dibutuhkan, keluarganya malah tertipu. Uang Rp900.000 untuk paket oksigen tiga kubik yang dipesannya pun melayang.

“Kami dijanjikan satu set oksigen, kami sudah transfer, tapi barangnya tak kunjung tiba sampai hari ini,” gundahnya, “sekarang, vendor itu tak bisa dihubungi, nomornya mati.”

Menanggapi kasus yang dialami Hera, Yeni mengatakan, mungkin saja ada oknum yang tidak bertanggung jawab, yang menjadikan bantuan oksigen ini tidak tepat dan menjadi penipuan di sosial media.

“Yang jelas, ini tidak membuat pihak-pihak yang peduli akan kebutuhan pasien berhenti. Kami tetap mengupayakan untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” optimis Yeni.

Apalagi, Pemerintah juga terus mengupayakan ketersediaan oksigen. Seperti dinyatakan Presiden bahwa Pemerintah mengerahkan seluruh sumberdaya dalam menanggulangi pandemi ini. Termasuk meningkatkan kapasitas Rumah sakit, Fasilitas Isolasi Terpusat, ketersediaan obat, alat kesehatan hingga oksigen.

“Pemerintah terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen secara nasional, dan kita telah bekerjasama dengan industri-industri di dalam negeri untuk mengamankan pasokan dan distribusi oksigen untuk medis,” ujar Presiden Joko Widodo selepas meninjau PT Aneka Gas Industri di Kawasan Pulo Gadung, Jakarta, seperti dikutip Presidenri.co.id, situs resmi Biro Pers, Media dan Informasi dari Sekretariat Kepresidenan, Jumat, 16 Juli 2020.

Presiden sangat mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan anak usaha dari PT Samator, itu dalam memenuhi dan terus menambah kebutuhan oksigen medis dengan mengonversi hampir 90 persen produk oksigen untuk industri menjadi oksigen untuk medis.

“Jika semua produsen oksigen dalam negeri digerakkan saya kira bisa membantu. Krakatau Steel, misalnya, pabrik-pabrik pupuk kita, industri petrokimia kita semua bisa membantu,” tambah Kepala Negara, seperti dikutip Kompas.com, Minggu, 18 Juli 2021.

Tiga pabrik PT Aneka Gas Industri di Pulo Gadung, Cikande dan Cibitung sendiri, memiliki kapasitas produksi total 460 ton oksigen per hari untuk Jawa bagian barat. Dan, 1.000 ton per hari untuk seluruh Indonesia. Selain itu, Pemerintah juga mengupayakan pembelian 20.000-30.000 oksigen konsentrat.

Sebuah titik terang disampaikan salah satu agen isi ulang oksigen di Bandung, yang berhasil dihubungi. Tokonya yang sempat tak aktif, karena “keringnya” pasokan, kini mulai beroperasi lagi sejak awal pekan ketiga Juli 2021.

“Pasokan mulai datang lagi, tapi masih sedikit. Hanya 25-30 (kubik, red) per hari, biasanya ratusan. Harganya juga normal, 45.000 (Rupiah, red) per kubik,” ungkap Diki, salah satu pengelola Atoz Gas di area Rancaekek, Bandung, via telepon genggam, Rabu, 14 Juli 2021.

Penulis: Susandijani & Yangski

Foto: Dompet Dhuafa, IKA UNPAD.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *