Press "Enter" to skip to content

Tony Bennett Berhenti Manggung Akibat Terserang Alzheimer

Tony Bennett harus mengakhiri aksi panggungnya Jumat 6 Agustus 2021, karena penyakit Alzheimer yang dideritanya sejak belasan tahun lalu.

‘’Tidak ada konser lanjutan lagi,’’ tutur Danny Bennett, produser acara yang digelar di Radio City Hall, New York itu.  ‘’Keputusan yang sulit dilakukan, mengingat beliau penyanyi panggung yang handal, tapi mau bagaimana lagi,’’ lanjut Danny, yang juga putra Tony Bennett. Sehingga acara pergelaran musik berjudul “One Last Time: An Evening With Tony Bennett and Lady Gaga” terpaksa dibatalkan. Dalam kesempatan terakhirnya itu, Lady Gaga menahan tangis di saat akhir lagu yang mereka bawakan. 

Para penggemarnya tak bisa lagi menyaksikan aksi panggung penyanyi legendaris berusia 95 tahun tersebut. Akibat penyakit Alzheimer yang dideritanya, konon Tony tak mampu lagi menyesuaikan nyanyian dengan musiknya. Majalah AARP, majalah khusus manula di AS, melaporkan, Tony tak lagi mampu mengingat peristiwa yang baru saja dilaluinya. ‘’Bagaimana kondisi cuaca hari ini,’’ tanya Tony. Padahal ia baru saja olahraga jalan kaki di sekitar rumahnya di sebuah apartemen mewah lantai atas di kawasan Manhattan. Bahkan, Tony lebih banyak diam dan terlihat bingung saat ditanya pemain musik atau orang lain.

Alzheimer menjadi momok bagi penduduk lanjut usia di AS. Tercatat sekitar 5 juta penduduk lanjut usia di AS menderita penyakit ketuaan ini. Artinya satu dari delapan manula mengidap Alzheimer, sehingga tercatat sebagai satu dari 10 penyakit mematikan di AS. 

Penyanyi yang kondang lewat lagu ‘’I left My Heart in San Francisco’’ itu dilahirkan di Queens, New York dengan nama lengkap Anthony Dominic Benedetto. Ia adalah cucu seorang imigran Italia dari Calabria yang kemudian hijrah ke AS bersama ratusan ribu imigran lainnya. Ayahnya penjual sayuran yang meninggal dunia akibat serangan jantung saat Tony berusia 10 tahun.

Tony dan tiga orang saudara kandung hidup miskin karena ibunya tak mampu membiayai hidup mereka. Karena itu Tony keluar dan bekerja sebagai pesuruh di sebuah kantor sambil menjadi pelayan dan vokalis sebuah band gurem di New York.

Saat berusia 18 tahun ia bergabung menjadi tentara di brigade artileri dan dikirim ke Eropa dalam Perang Dunia II. Pengalamannya sebagai tentara mendorong Tony lebih banyak terlibat dalam isu warna kulit, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penyanyi kulit putih yang ikut Gerakan Martin Luther King jr dan aksi persamaan hak Selma di Alabama.

Setelah kembali ke AS, ia pun ditawari menjadi penyanyi di Shangri-La di Astoria, New York. Nasibnya berubah saat bertemu penyanyi Pearl Bailey. Tony ditawari Bob Hope ikut main di sebuah shownya. Karena penampilannya yang elegan Bob Hope tetap menamainya Tony Benett. Tidak seperti penyanyi lain yang biasanya diganti namanya agar lebih kondang.

Sejak kondang dengan lagu ‘’I Left My Heart in San Francisco’’, Tony meraih 40 piala Grammy, termasuk A Lifetime Achievement Award. Sejumah lagu jazz dinyanyikan bersama sejumlah penyanyi kondang lainnya. Di antaranya lagu From Rags to Rich; Fly Me to the Moon; The Shadow of Your Smile; Because of You; For Once in My Life dan lainnya.

‘’Kami bukan khawatir beliau tidak bisa menyanyi lagi, tetapi kami risau dengan kondisi tubuhnya,’’ tutur Danny Bennett. ‘’Ayah saya berusia 95 tahun,’’ sambungnya. (DP)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *