Press "Enter" to skip to content

Putu Wijaya: Setahun Saya Dihajar Menelan Disiplin Sebelum Bisa Bernafas Puas

Untuk memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Majalah TEMPO ke-50 yang berlangsung sepanjang tahun 2021 ini, Dramawan Putu Wijaya ingin mengisahkan perjalanan karirnya di Majalah TEMPO. Berikat ini tulisan panjangnya ang dikirim khusus ke Indonesianlantern.com

Jakarta 1967.

Pertama kali mengikuti diskusi para budayawan Majalah Horison, di Jakarta, saya terpesona. Goenawan Moehamad, Arief Budiman, Salim Said, Rendra, dan lainya, seperti mahluk dari planet lain yang memaparkan argumentasinya dengan cerdas, penuh berbagai referensi yang membuat saya minder. Karena terasa daftar bacaan mereka begitu luas. Dua tahun kemudian, setelah meninggalkan Yogya, saya bergabung dengan mereka di majalah mingguan berita EKSPRES. Tapi baru ngantor jalan dua tahun, majalah terbelah.

Sayap Marzuki Arifin meneruskan EKSPRES dan Goenawan bersama belasan karyawan lain, termasuk saya, mendirikan TEMPO. Ibu Gedong Bagus Oka (Bu Oka) direktur SMAN Singaraja saya, wanti-wanti, setelah  keluar dari sayap Rendra, sekarang Anda masuk ke bawah sayap besar yang lain, nanti sulit berkembang, tulis beliau. Baru 20 tahun kemudian, saya ikuti saran beliau.

Pada 1991, saya menghadap Pak Harjoko, untuk pamitan tinggal setahun di Kyoto, Jepang, karena dapat Profesional Fellowship dari The Japan Foundation. Sekembalinya ke Jakarta, ingin fokus pada teater, sastra dan film

Senen Raya No 83,1971.

Selama menjadi karyawan TEMPO,1971-1991 (dengan bolong 12 bulan di Kyoto/Ittoen, Shugakuin, Jepang dan 1985-1988 di Amerika Serikat – Fulbright: Madison, Ithaca, Middle Town, AS), berdampingan dengan GM, Fikri Djufri, Bur Rasuanto, Christianto Wibisono, Usamah, Syubah Asa, Bastari Asnin, Salim Said, Toeti Kakiailatu, Isma Sawitri, Zen Umar Purba, Lukman Setiawan, Ed Zoelverdi, banyak pelajaran yang saya tenggak. Terutama bagaimana menulis di bawah semangat jurnalisme kelompok.

Sehingga penyair Darmanto Jt. pernah menembak saya dengan pertanyaan: ”Bagaimana mungkin Anda sebagai sastrawan bisa bertahan dalam rumah yang mempraktekkan jurnalisme kelompok?” Karena sejak awal saya tak punya masalah tentang itu. Saya tak menjawab. Tapi seperempat abad kemudian, hari ini, saya ingin menjawab. Ya, namanya juga belajar. Tapi Darmanto sudah pergi.

Di TEMPO saya cari makan, bekerja dan tanpa saya sadari ditatar dan belajar. Dimulai dengan terpesona oleh baris puisi GM : “Bersiap kecewa bersedih tanpa kata-kata,” (Di Beranda Ini Angin Tak Berembus Lagi), saya berlatih bekerja gotong-royong dalam sebuah tim. Di bawah pengawasan berlapis ganda: Redaktur Pelaksana (Syubah Asa,) dan Pemimpin Redaksi (GM), saya yang sudah menulis lakon ‘Lautan Bernyanyi’ dan novel ‘Bila Malam Bertambah Malam’, ditatar habis dengan ABC menulis. Karena merasa tertantang dengan bersemangat saya ikuti proses sebagai murid yang baik. Membiasakan terbiasa menghadapi tekanan deadline.

Bertanggungjawab atas kehadiran dan isi rubrik yang saya jaga. Menjamin laporan tidak basi untuk seminggu ke depan setelah majalah terbit. Menata bahasa dan cara bertutur yang dapat dicerna oleh publik dari level menteri sampai tukang becak. Dan mengawinkan sastra dan jurnalistik.

Yang paling saya suka adalah formula: bagaimana menuturkan sesuatu yang sulit dengan mudah dan mengharamkan melaporkan yang sederhana sebagai sesuatu yang pelik. Akrobatik itu buat saya dahsyat. Setahun saya dihajar menelan semua disiplin itu sebelum akhirnya bisa bernafas puas, karena laporan saya sudah tidak lagi dicencang atau di-rewrite.

Sebagai bonusnya, saya tak pernah lagi bengong, kehabisan bahan, tak pernah tak tahu, apa lagi yang layak ditulis. Karena semua, semua, apa saja, bisa ditulis. Karena masaalahnya, bukan lagi apanya, tapi bagaimana kita menuliskannya. Itulah yang akan membuat “sampah” pun layak ditulis.

Tapi setelah tak punya masalah lagi dalam teknis menulis, ada lagi yang masih harus dipelajari. Perihal mengenyampingkan emosi personal ke dalam tulisan. Sesuatu yang sangat penting diintegrasikan dalam karya fiksi/sastra. Ada contohnya. Pada suatu hari Minggu, saya sendirian di kantor menulis laporan diskotik setelah semalaman observasi di diskotik Tanamur.

Tiba-tiba kakak misan tempat saya menumpang di Kebayoran, menelpon menyuruh pulang dan langsung berangkat ke Bali. Karena ayah meninggal. Saya terkejut karena tak pernah diberi tahu ayah sakit. Otak saya langsung berhitung, kenapa dan pasti saya akan tenggelam dalam upacara di Bali.

Tapi cepat saya tutup. Seluruh perasaan saya tunda. Saya tuntaskan dulu laporan. Baru setelah tulisan selesai dan menaruhnya di meja Syubah Asa, saya kembali ke berita duka berpulangnya ayah, yang baru sekali sempat saya kirimi wesel gaji dari TEMPO sebesar Rp1250.00. Pengalaman berikutnya. Selama sebulan  memyelenggarakan upacara ngaben di Bali, Mbak Isma Sawitri titip penugasan harus meng-cover parawisata di Bali. Langsung saya ke lapangan.

Balik ke Jakarta saya bawa hampir 10 halaman laporan dan sebundel berkas dari berbagai hotel. Saya bangga merasa sebagai pahlawan. Tapi begitu TEMPO terbit, laporan utama hanya memakai satu kalimat dari saya. Itu pun mungkin hanya basa-basi untuk menghargai teman. Saya kecewa, untung kemudian terhibur karena GM bilang: di Majalah TIME kasus yang sama,  kerap terjadi.

Dalam laporan  utama soal narkotika mereka, misalnya. Meskipun banyak bahan penting, tapi terpaksa diabaikan karena tak cocok sebagai berita majalah.Tapi kemudian diterbitkan sebagai buku. Jadi sebenarnya tak ada yang sia-sia. Saya suka sekali kalimat itu.

Bersama para redaktur TEMPO di Kantor Proyek Senen, tahun 1990.

Sebetulnya awal kantor TEMPO di Glodok. Hanya sebentar, kemudian pindah ke sebuah gedung tua di Senen Raya 83. Seluruh redaksi dan reporter menempati lantai 2. Karena lantai bukan beton tapi hanya bertulang kayu, lantai ngeper kalau diinjak. Awalnya semua terteror, karena takut lantai runtuh dan kami mati konyol bukan sebagai wartawan.

Tapi kemudian karena terbiasa, terlupa. Dibandingkan dengan lokasi pertama di Glodok yang gedungnya bocor, di Senen lebih nyaman. Semua siksaan yang merampas ego pun lama-lama malahan terasa nikmat karena menimbulkan perasaan berarti.

Sebagai majalah baru yang ingin membuktikan eksistensi, kami di masa itu berjuang militan. Saya kerap tidur di atas meja di kantor dengan bantal buku telepon. Bukan kerja lembur, tapi karena saya bersama karyawan TEMPO (Syubah Asa, Ety Asa, Sutharno SK, Zubaedi, Ali Said, Rajul Kahfy, Mustapa) mendirikan dan latihan Teater Mandiri di kantor, saat kantor sudah tutup. Kami main sandiwara untuk TVRI .

Bersama dalam satu ruangan dengan meja bersebelahan, tiap hari ada diskusi menarik. Meskipun saya selalu menutup kuping dengan headset untuk mendengar musik, semua percakapan mau tak mau saya ikuti. Dari masaalah agama, ekonomi, kriminalitas, politik, olahraga, gosip, kesehatan dan sebagainya, membuat saya ikut teraktualisasi memperhatikan keadaan sehari-hari.

Walhasil pengetahuan jadi nambah mencakup bidang lain. Kondisi itulah yang membuat kantor bukan hanya tempat bekerja menunaikan tugas, tapi tempat memulung pengetahuan. Bagai perpustakaan terbuka, kantor menjadi sekolah. Dan setelah tamat, kita ingin terjun sendiri menghadapi hidup masing-masing. TEMPO bukan tujuan terakhir tapi sekolah.

Menjelang 20 tahun saya digojlog di TEMPO, saya diundang makan siang oleh Mbak Tuty Adhitama di kantornya, majalah EKSEKUTIF. Setelah ngobrol santai ke sana ke mari habis makan siang bersama teman-teman di sana, di antaranya ada Jasso Winarto, tiba-tiba beliau sambil lalu, memberi komentar: “Saya perhatikan, Anda dan teman-teman semua di TEMPO, kok sama. Cara berbicara. bahkan joke-joke Kalianget, ternyata sama?”

 

Majalah ZAMAN. Jakarta 1980.

Setelah 9 tahun berdiri, ada selentingan di kantor majalah TEMPO (yang saat itu sudah pindah dari Glodok ke Senen Raya 83, pindah lagi ke Blok Proyek Senen kemudian nantinya ke daerah Kuningan), mau membuat majalah umum untuk keluarga.

Saya yang sudah ikut GM sejak di majalah EKSPRES (jalan 2 tahun), tergoda. Di depan kamar kecil, lokasi saya sering jumpa dengan Pak Harjoko Trisnadi (biasanya hanya di kantor Direktur beliau, kalau merayu minta kas bon). Saya tanyakan apa kabar burung itu betul. Ketika Pak Direktur, membenarkan, saya tembak langsung. Saya tidak menolak kalau dilempar ke situ.

Tak terduga diplomasi depan WC itu, beliau goreng dan hasilnya, saya pun ditunjuk jadi Redaktur Pelaksana majalah ZAMAN. Disepakati saat itu, ZAMAN akan mencoba menerobos pasar yang sedang dikuasai oleh majalah wanita seperti FEMINA dan KARTINI

Kami tidak ingin bertanding dengan mereka. ZAMAN hanya mencoba menyulut lagi jurus seperti yang pernah dengan gemilang dipakai majalah STAR WEEKLY. Ada berita, cerita, olahraga, film, ruangan remaja, konsultasi, wawancara, tokoh, kuliner dan sebagainya. Pokoknya gado-gado komplit yang terbit setiap Minggu.

Karena tata muka akan satu dapur dengan TEMPO, mekanisme produksinya lebih kurang akan/harus sama. Tantangannya adalah perlu tim yang kuat. Fokus, berdesiplin, militan, tidak takut sama dead line, menguasai penulisan kreatif dan kompak. Dimulai dengan Bang Sori Siregar yang direkomendir GM, saya menjemput Danarto dan Nano Riantiarno. Setelah keduanya saya beri kecap bahwa Teater Mandiri yang saya dirikan tidak terganggu aktivitasnya meskipun saya tiap hari mencangkul di TEMPO, kedua penulis yang saya anggap akan mampu diajak kerja keras itu siap.

Saya juga berusaha rnenjemput Emha Ainun Najib di Yogya agar bergabung ke Jakarta, tapi tak berhasil. Namun kami sudah punya Mbak Nur, yang kelak akan jadi Ibu Negara mendampingi suaminya. Sudah punya Ibu Dewi Rais, Ibu Tini Hadad, Mbak Ananda Mursid, Mbak Kun Hidayat, Dokter Faisal Baraas, Abdul Rachman Saleh SH, yang kemudian diperkuat lagi dengan kehadiran Mbak Tuti Indra, Jim Supangkat. Serta disempurakan oleh Rita Sri Hastuti, Yan Triasmoro, Afrizal Anoda, Syarief Hidayat, Syafrial Arifin, Sutomo R Panambang, Bowo Soemaji, Lee Chen Min, Seno Gumira Ajidarmo, Kemala Atmojo, Jim Bary Aditya, Budi, Susthanto, Leopold Gan, Uun Lestari, Ieke Hesti, Imam, Mbak Essi dan lain-lain.

Momok dead line sebagai tantangan terberat bagi Mingguan baru yang digandeng mekanisme produksi TEMPO yang sudah terlatih 9 tahun, berhasil kami jinakkan. Tapi oplag yang awalnya terasa menjanjikan ternyata jalan di tempat. ZAMAN kalau tak salah, hanya bisa mencapai 10 ribu, sementara TEMPO sudah tembus 100 ribu.

Para penulis kreatif yang mendukung ZAMAN dengan suka rela dan ikhlas mengurangi egonya, untuk bekerja sebagai sebuah tim. Toh mereka kewalahan juga diajak rapat perencanaan tiap minggu. Apalagi kalau sudah mau  menghadapi percepatan terbit menghadapi hari raya/besar/tahun baru/dan lain-lain. Mereka menjuluki saya maniak rapat. Saya terima saja, karena saya juga tak suka kebanyakan rapat.

Meskipun dalam rapat banyak hiburan. Mas Danarto, dalam rapat menentukan isi majalah, bila prosesnya berjalan alot, biasa tertidur. Tapi kalau sudah ada voting untuk mengambil keputusan, beliau langsung bangun ikut menentukan. Dan pendapatnya tepat. Ajaib memang.

Setelah beberapa lama terbit, sejarawan yang juga pengamat budaya DR. Ong Hok Ham berkomentar bahwa kehadiran ZAMAN tak ubahnya bagai sekumpulan Woody Allen (sutradara film AS, yang beken karena satirenya yang menggigit), bersama-sama membuat sebuah film. Itu boleh dinikmati sebagai pujian karena kami pekerja ZAMAN dianggap Woody Allen pribumi. Tapi sekaligus juga satire karena, walau kreativitas kami sudah tercurah habis, tapi majalahnya tak laku, karena terlalu nyeleneh, mulai dari cover sampai ke cerita wayangnya (banyak ditulis oleh Djaduk Djajakusuma)

Memang banyak yang unik di ZAMAN. Mas Danarto sekali lagi,  pernah tiba-tiba minta cuti panjang untuk naik haji. Tentu saja kami semua ikut gembira dan mendukung, meskipun akan agak kerepotan karena nanti harus menggarap tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Apalagi cita-citanya membuat kami deg-degan.

Beliau ingin meninggal di Tanah Suci. Berarti kami, pembaca, akan kehilangan kehadirannya dalam beberapa materi penting isi majalah  Zaman dan terutama ilustrasinya yang khas untuk cerita wayang. Sehingga ketika Haji Danarto pulang segar bugar, kami sangat bahagia. Bahkan catatan perjalanannya menunaikan ibadah diterbitkan oleh Grafiti dengan judul Orang Jawa Naik Haji. Kemudian menyusul terbit tulisan berkala Dokter Faisal Baraas, BERANDa KITA, serta reportase panjang kehidupan para wadam di Taman Lawang oleh Kemala Atmojo.

Suasana kerja di Zaman kendati dikejar dead line selalu asyik. Karena tamu TEMPO sesekali ngendon ke Zaman. Arief Budiman sempat singgah karena putrinya nitip buku minta ditandatangani. Akhirnya jadi seminar dadakan tentang sastra kontekstual yang hangat di masa itu, karena beliau adalah salah seorang penggagas sastra kontekstual bersama Ariel Heryanto.

Sementara Presiden RI ke-4, Gus Dur, yang waktu itu kolomnis TEMPO yang naik skuter butut, sesekali menjemput Mbak Nur, kerap kami kerubuti. Ceritanya selalu segar, lucu dan penuh kejutan. Beliau pengamat bola dan pembaca cerita silat lebih dari kami.

Tapi pada suatu hari, saya terpaksa menyelinap keluar, lari dari kantor lewat pintu belakang tembus kantor Medika. Masalahnya ada militer di ruang tamu mencari saya. Trauma oleh kejadian di TEMPO saya berpesan pada Ike, sekretaris redaksi, agar menanyakan secara rinci, apa masaalahnya dan langsung bilang saya cuti dan belum tahu kapan kembali dari Bali.

Malamnya saya tidur di hotel. Besoknya saya tanya Ike, apa sudah ditegaskan saya cuti panjang dan belum tahu kapan kembali? Sudah! Apa dia menanyakan alamat rumah saya? Tidak! Apa dia mau datang lagi? Tidak! Mau apa dia sebenarnya? Mau nanya apakah Mas Putu bersedia jadi juri lomba baca puisi Hari Proklamasi? Saya terkejut. Cepat telepon beliau! Mau! Bilangin saya sudah kembali! (Putu Wijaya)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *