Press "Enter" to skip to content

Keunikan Desa yang Mendunia

Hampir setiap Desa di Indonesia, kini punya produk unggulan. Dari Cokelat, Gula Aren, bahkan Pasar. Tak hanya penduduknya, Desa pun mulai maju dan terkenal. Desa Anda juga?

Sejumlah foto tersebar di laman WhatsApp. Seorang perempuan muda berhijab dengan wajah berbinar memamerkan sejumlah cokelat. Ada yang digenggam, ada yang dipanjang. Sekilas nampak biasa, namun menjadi luar biasa ketika membaca caption-nya.

Arum Devita dengan Cokelat Nglanggeran

“Ini cokelat buatan desaku, lho. Aku bangga! Ayo, teman-teman, nanti datang ke desaku, ya! Selain indah dan banyak obyek wisata, kamu juga bisa nikmatin cokelat buatan kami. Nanti aku ajak lihat prosesnya juga. #PS Semoga Corona cepat berlalu. Amiiin…!”

Dia adalah Arum Devita, mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), juga warga Desa Nglanggeran. Desa terpencil di salah satu kaki Kawasan Gunung Api Purba (GAP) Provinsi Yogyakarta.

“Saya suka banget sama cokelat. Eh, ternyata disini juga ada cokelat. Buatan desa sendiri pula,” ujar Arum terdengar girang, sekaligus bangga, ketika dihubungi via telepon genggam dari Nglanggeran, Jumat, 13 Agustus 2021.

Surprise baginya. Meski sudah terbiasa tinggal di Yogyakarta hampir empat 4 tahun ini, namun ketika dipaksa “ngendon” di desa karena pandemi virus corona, anak tunggal ini tak lantas bosan.

“Iya, karena dulu kan desanya miskin, tandus, banyak orang yang merantau. Tapi sekarang berubah. Makin maju. Banyak obyek wisata. Apalagi ada cokelat,” ungkapnya haru.

Aneka produk cokelat di Desa Nglanggeran

Selain cokelat batangan, imbuh penyuka jalan-jalan dan baca buku ini, desanya pun membuat berbagai olahan dari kakao. Dari bubuk cokelat murni, sampai aneka minuman cokelat, aneka kripik dengan toping cokelat, bakpia, kue kering, dodol cokelat, dan banyak lagi.

“Pokoknya, hampir semua produk yang berbau cokelat ada disini,” katanya berpromosi.

Kisah serupa juga dialami Bestina Virgiati. Di Desa Candimulyo, Temanggung, Jawa Tengah, tempat kini ibundanya tinggal, ada Ayam Kedu dan Ayam Camani (warna hitam) yang terkenal untuk upacara dan pengobatan itu. Kemudian di desa sebelahnya, Desa Kandangan, ada gula aren terkenal. Dibuat dari penguapan pohon nira.

Besti di Pasar Papringan pada 2018

“Istimewanya, kalau sudah dicairkan, rasanya tak berubah. Sementara gula aren lainnya, bisa berubah aneh rasanya,” ujar ibu dua putera itu di ujung telepon .

Setiap desa di Temanggung, menurut Besti punya unggulan sendiri-sendiri. Dari ayam dan gula aren tadi, emping supertipis sampai tembakau.

“Selalu ada kejutan kalau pulang ke rumah Ibu,” ujar Besti sambil menyebutkan cemilan baru serupa edamame (kacang kedelai muda, camilan tradisional dari Jepang) sebagai salah satu contohnya.

Selain itu, imbuh sosok yang masih bekerja sebagai Ketua Harian Eagle Institute Indonesia Produksi Film Dokumenter di Metro TV itu, dusun-dusun di sekitar tempat tinggalnya pun kini semakin dikenal orang. Salah satunya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Pasar Papringan pada 2018

“Di sana sudah ada Pasar Papringan yang unik. Menjual produk-produk yang jarang ada di pasar lain. Harganya pun murah banget, mulai 2.000 rupiah. Padahal dulunya terkesan seram, lho,” katanya sumringah.

Faktanya, di pasar yang buka setiap Minggu Wage dan Minggu Pon pukul 06.00-12.00 WIB, itu, selain aneka produk makanan tradisional, tersedia juga barang-barang dari bambu. Seperti, tas, topi, bahkan ada radio yang dilapisi kayu, juga sepeda yang sebagian kerangkanya dari bambu.

“Sepeda dari bambu ini terkenal di seantero negeri, yang juga dibuat oleh inisiator Pasar Papringan ini,” ungkapnya.

Kini, desa ini pun terkenal dan banyak disinggahi pelancong. Dalam masterplandesa.com, pasar ini disebut sebagai salah satu upaya revitalisasi desa, yang didesain dengan memanfaatkan sumberdaya lokal, menjunjung nilai kesederhanaan, kearifan lokal, dan lingkungan.

Tak hanya di Jawa, di Sulawesi Selatan, Kamaruddin Padung dan Risal, warga desa Sukamaju, Kabupaten Sinjai, juga dengan bangga memamerkan buah naga. Di sana, buah ini menjadi primadona belakangan ini.

“Awalnya petani di sini menanam kakao. Tapi beberapa tahun belakangan ini kami gagal panen, kakao kami kena penyakit, buahnya membatu. Akhirnya petani mengusahakan buah naga dan berhasil,” ungkap Kamaruddin Padung, sang pionir.

Karena masa tanam dan panen relatif singkat, akhirnya warga lain turut menanamnya. Apalagi cara tanam dan memeliharanya pun tak sulit. Setiap rumah rata-rata menanam 50 pohon buah naga. Alhasil, selain dilimpahi buah naga, desa ini pun nampak cantik didominasi warna merah.

Produk Unggulan Desa
Cokelat, Gula Aren, Pasar Papringan, Buah Naga adalah beberapa contoh ‘kecil’ dari gerakan Produk Unggulan Desa atau Prudes yang dikembangkan sejumlah desa, atau Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) kolaborasi sejumlah desa dalam satu Kawasan.

Menurut pengelola Kawasan GAP Nglanggeran, Sugeng Handoko, cokelat yang “dipamerkan” Arum, adalah cokelat Purba Rasa. Prudes Desa Nglanggeran, yang disepakati Pemerintah Desa, warga dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa.

“Disini banyak petani kakao, namun hanya menjualnya dalam bentuk bijian. Jadi mereka tidak mendapat nilai tambah dari cokelat ini,” ujar Sugeng beralasan.

Menurutnya, pengelolaan cokelat Purba Rasa sepakat diserahkan kepada ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Melibatkan warga dari lima pedukuhan di sana. Ada tim penyedia bahan baku, yakni Kelompok Tani setempat. Ada Unit Pengelola Hasil (UPH) fermenasi dan pengeringan. Ada pula Tim Bubuk, Tim Produksi dan Tim Pemasaran.

“Ada pelatihannya. Kami bekerjasama dengan berbagai pihak. Mulai dari LIPI, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, hingga perbankan,” imbuhnya.

Selain dipasarkan di obyek-obyek wisata sekitar Desa Nglanggeran, pasar-pasar di Kecamatan dan Kabupaten, produk Purba Rasa ini dijual di Nglanggeran Mart. Bahkan bisa ditemukan di Bandara Internasional Yogyakarta dan sejumlah negara.

Selain pembangunan infrastruktur perdesaan, kini desa-desa memang gencar melakukan pembangunan sumberdaya manusia (SDM) dan kegiatan peningkatan ekonomi perdesaan. Salah satunya melalui Prudes dan Prukades, gerakan yang lebih dikenal dengan One Village One Product (OVOP).

Dalam situs yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika, indonesiabaik.id, disebutkan, OVOP merupakan pengembangan potensi Industri Kecil dan Menengah (IKM) suatu wilayah untuk menghasilkan satu produk lokal khas, berkelas global dengan memanfaatkan sumberdaya disekitarnya. Konsep ini dinilai menarik oleh banyak negara. Karenanya telah diterapkan di sejumlah negara Kawasan Asia, Afrika dan Amerika.

“Di Indonesia, OVOP mulai diterapkan pada 2007, berdasarkan Peraturan Kementerian Perindustrian (Kemenperin, Red.) Nomor 78/M-IND/9/2007,” kutip indonesiabaik.id.

Disebutkan juga, konsep OVOP ini mengadopsi konsep yang diperkenalkan Dr. Morihiko Hiramatsu di Provinsi Oita, Jepang, pada 1979. Masyarakat desa “diajak” menghasilkan barang-barang pilihan dan kompetitif di tingkat global, namun tetap memiliki ciri dari daerah tersebut.

Di Indonesia, 74 Ribu Desa Punya Keunikan
“Di Indonesia terdapat sekitar 74.000 desa yang memiliki keunikan. Mayoritas desa eksis di sektor pertanian. Dengan kultur tersebut, sangat potensial dikembangkan OVOP,” tulis ikm.kemenperin.go.id. Sementara menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki sekitar 83.900 desa tahun ini.

Menurut catatan Antaranews.com, pada 2014 saja, lebih dari 50 produk OVOP binaan Kemenperin telah berhasil memasuki pasar internasional. Di antaranya budidaya asparagus dari Bali, bawang merah dan produksi bawang goreng dari Sulawesi Tengah. Adapula lidah buaya dari Kalimantan.

“Tahun depan, kami menargetkan setidaknya dari 534 kabupaten dan kota mengusulkan paling sedikit satu IKM menjadi penghela di Setra IKM unggulan daerahnya,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, terkait target pengembangan OVOP, seperti dikutip rri.go.id, 15 Juli 2021.

Selain Kemenperin, OVOP juga turut dikembangkan oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertingga dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) melalui Prudes dan Prukades.

“Fokusnya membuat klasterisasi pada produk atau komoditas tertentu di desa menjadi lebih layak jual, atau nilai jualnya naik,” ujar Samsul Widodo, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antarlembaga, Kemendesa PDTT, melalui pesan tertulis yang dikirim via Whatsaap, Jumat 13 Agustus 2021.

Pemerintah Daerah juga punya andil besar dalam mendorong berkembangnya Prudes dan Prukades ini. Contohnya di Sumatera Barat. Pada 2014, Gubernur Sumatera Barat melansir keputusan tentang Prudes dengan pendekatan OVOP. Kebijakan itu salah satunya disambut Pemerintah Kota Payakumbuh, yang pada 2015, menetapkan empat sentra industri Prudes disana.

Dalam Keputusan Walikota Patakumbuh Nomor 530/763/WK-KUPP/VI/2015, ditetapkan Balai Panjang di Payakumbuh Selatan sebagai sentra tenun. Sedangkan Aur Kuning yang juga Payakumbuh Selatan sebagai sentra kerajinan bambu. Terakhir, sentra makanan ringan di Bulakan Balai Kandi Koto Nan Ampek dan Payolansek, Payakumbuh Barat.

“Sentra Industri Rendang (Kampung Rendang) berlokasi di Kelurahan Sungai Durian Lampasi, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori/ Latina,” seperti dikutip Keputusan tersebut.

Menurut Samsul, untuk mendorong perluasan dan peningkatan kualitas OVOP, Kemendesa PDTT misalnya, menggulirkan sejumlah inovasi percepatan OVOP melalui Prudes dan Prukades di daerah tertinggal. Salah satunya, pembinaan Prukades vanilla di 45 desa di Kabupaten Alor, NTT.

Adapula fasilitas untuk Prukades pisang di Soe, NTT, dan Bondowoso, Jawa Timur. Alpukat di Soe, NTT dan Pasaman Barat, Sumatera Barat. Juga mangga di Situbondo, Jawa Timur. Atsiri, kopra putih, VCO, dan bidang perikanan di sejumlah desa pun dibina. Hasilnya fantastis. Selain panen dan kualitasnya meningkat, harganya pun berlipat.

Samsul mencontohkan, setelah program pembinaan vanilla dilaksanakan dan ada Organic Fair Trade Vanilla Bean, harga vanilla basah dari Soe langsung naik empat kali lipat, dan terjual hingga 10 Ton senilai Rp 8 miliar. Sedangkan harga alpukat, naik lebih dari lima kali lipat dari biasanya Rp 2.000 per kilogram.

“Kami pertemukan stakeholder melalui Business Forum, seperti Kementerian dan Lembaga, Pemerintah Daerah dan Dunia Usaha. Melalui gerakan kolaborasi ini, kita tidak hanya membantu ekonomi desa, tapi juga akan mendukung kebangkitan ekonomi nasional yang saat ini terpuruk selama Pandemi COVID-19,” paparnya.

Oleh karena itu, imbuh Samsul, pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung gerakan OVOP, Prudes, Prukades, termasuk para diaspora, misalnya dalam aspek pemasaran dan peluang ekspor.

“Kami yakin, langkah kecil namun pasti dari desa yang digerakkan bersama, dapat menciptakan dampak besar dan berefek bola salju,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan tema HUT RI ke-76 ”Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” yang mendeskripsikan nilai-nilai ketangguhan dan semangat pantang menyerah untuk maju bersama. “Ekonomi Indonesia Bangkit Dari Desa!,” pungkas Samsul.

Jadi, tak hanya Nglanggeran dan Ngadimulyo, banyak desa yang telah memggenjot produk unggulan desanya. Mungkin juga desa tempat leluhur Anda berasal. Jangan heran bila Anda melihat kemajuan desa itu saat pulang kampung. Seperti dialami Arum dan Besti.

Penulis: Susandijani & Yangski

Foto: – Arum Devita Collection: Arum and Purba Rasa Chocolate
– Nglanggeran Chocolate Griya Collection: Purba Rasa Chocolate Hampers; Ancient Chocolate at the Airport
– Bestina Collection: Papringan Market 2018

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *