Press "Enter" to skip to content

Waspada Perangkap Jebakan Pinjaman Online: Pengalaman Buruk Saya Jadi Korban

“DC Legal ilegal sama saja, jangan coba-coba pinjol”

Saya ibu tiga bayi juga mahasiswi Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, pandemi mengubah hidup saya, suami saya kehilangan pekerjaan dan beberapa aset yang saya miliki dijual demi bertahan menghadapi badai pandemi.

Ramadahan 2021, di IGD RS daerah kota Serang, saya membuka website OJK untuk mempelajari perihal pinjol, saya benar-benar membutuhkan pinjaman dana instan untuk biaya RS bayi kembar saya berusia 8 bulan, keduanya mengalami dehidrasi berat karena terpapar virus Campak dan infeksi saluran pencernaan. Kredivo, Akulaku dan Ceria BRI adalah tiga pinjol yang saya pilih, saya dan suami mendowload tiga injol tersebut di playstore dengan bunga yang terbilang ringan hanya saja limit awal yang diberikan sangat kecil, selain produk dana instan, tiga pinjol tersebut juga memiliki produk paylater yang bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa merchant dan e-commerce seperti Tokopedia, Shopee bahkan IKEA.

Harus saya akui, saat itu saya benar-benar merasakan manfaat pinjol. Saya sudah lama menunggak iuran BPJS kelas 1 dengan tagihan Rp. 160.000 per orang dan tagihannya mencapai Rp. 4 Juta. Saat waktu jatuh tempo tiba saya tidak mampu membayar tagihan karena tidak memiliki pendapatan rutin.  Kondisi ekonomi keluarga, kerabat dan sahabat saya juga hampir sama seperti saya, saya tidak mungkin meminta bantuan kepada mereka. Berkat pinjol bayi kembar saya bisa keluar dari RS.

Tiga bulan berlalu saya dan suami menghadapi pinjol, tanpa saya sadari bahwa saya sudah masuk kedalam perangkap yang mereka buat, gali lobang tutup lobang terus saya lakukan. Saya dan suami pun memutuskan untuk men-take over rumah KPR yang memasuki cicilan ke-12, dengan tenor 20 tahun maka harga jualnya pun rendah. Tagihan pinjol saya dan suami ternyata mencapai Rp. 11 juta. Rumah KPR kami akhirnya berhasil terjual

Alhamdulillah pada tanggal 20 Juni hutang pinjol saya lunas tanpa sisa begitupun dengan hutang pinjol suami. Lima hari setelah lunas, tepatnya tanggal 25 Juni ba’da Ashar suami mengalami kecelakaan tabung LPG 3 Kg yang jatuh menimpa kakinya dan mengakibatkan tiga jari kakinya remuk dan harus dilarikan ke faskes. Suami memang belum ikut BPJS dan saya tidak memiliki tabungan dana darurat. Jangankan untuk menabung, bisa makan setiap hari dan membeli kebutuhan tiga bayi saja kami sudah bersyukur. Saya dituntut untuk mengecilkan ikat pinggang dan memutar otak dengan bergabung menjadi dropshipper di online shop yang menjual berbagai produk pakaian, obat herbal dan perabot rumah tangga.

Karena suami membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan luka di kakinya, akhirnya kami berdua sepakat untuk kembali membuka lobang pinjol yang sudah kami tutup rapat-rapat. Atas dasar madharat dan hifz nafs, saya kembali masuk ke dalam perangkap riba dengan penuh kesadaran akan high risk yang kemungkinan besar akan terjadi.  Memutuskan untuk kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama tentu menyakitkan, saya rasa saya lebih bodoh dari keledai, tapi saya bangga karena bisa survive menerjang badai pandemi selama ini yang menurut saya tidaklah mudah, butuh perjuangan, pengorbanan dan kesabaran untuk bisa sampai di titik ini.

Juni hingga Agustus saya dan suami menumpang di rumah ibu di kampung, dengan beberapa pertimbangan, merawat tiga bayi tidaklah mudah, saya membutuhkan support system dan saya fikir biaya hidup di kampung akan lebih murah dibandingkan di kota. Saya sadar hutang pinjol kami seperti bom waktu yang suatu saat bisa meledak dengan ledakan yang sangat dahsyat. Akhir Agustus saya memutuskan untuk bekerja, keputusan yang tidak mudah karena saya harus meninggalkan tiga bayi yang masih sangat membutuhkan saya, tapi saya tidak mungkin terus menerus menggali lobang pinjol. Bekerja adalah satu-satunya jalan untuk terbebas dari jeratan pinjol.

Selama satu bulan saya di Serang, fikiran dan waktu saya benar-benar habis dikuasai oleh pinjol, saya tidak bisa konsentrasi dan berfikir jernih tiap kali jatuh tempo tiba saya mendapatan teror dari debt collector via telfon, sms dan chat whatsapp. Peranh suatu hari tagihan pinjol saya mencapai Rp. 5 juta dalam sehari dari beberapa aplikasi, sedangkan keesokan harinya juga ada tagihan pinjol yang harus saya bayar sebanyak Rp. 3 juta.  Bayangkan, uang Rp. 8 Juta harus saya cari dalam tempo 24 jam, saya pun mulai stres.

Saya mulai gagal bayar dan auto ditolak di beberapa aplikasi pinjol, karena riwayat kredit saya buruk. Tapi ada beberapa aplikasi pinjol yang mengarahkan saya untuk meminjam kepada aplikasi pinjol lain yang telah mereka sediakan, inilah yang disebut gurita pinjol, berawal dari 1 pinjol menjadi 28 pinjol, 18 pinjol di HP saya dan 10 pinjol di HP suami, dengan total tagihan mencapai 43 juta Rupiah. Tidak sebanding dengan hutang pokok dan uang yang kami terima dan gunakan selama ini.

Jebakan yang mereka buat, membuat saya seolah-olah terus menerus memiliki hutang dan harus berhutang lagi ke pinjol lain begitu seterusnya. Saking stresnya diteror debt collector dengan caci, maki, ancaman penyebaran data privasi, fitnah yang disebar kepada kontak keluarga, tawaran perpanjangan waktu seperti angin segar bagi saya, tanpa saya sadari  ternyata saya sudah menggali lobang baru. Perpanjangan waktu sama sekali tidak mengurangi jumlah hutang pokok saya, saya diminta untuk membayar tagihan Rp 300.000 untuk perpanjangan waktu selama 15 hari. Padahal 28 aplikasi pinjol yang menjerat saya dan suami adalah pinjol legal yang berizin di OJK terbukti dengan tercatatnya semua aplikasi dan nama perusahaan pinjol tersebut di www.ojk.id

Akhir September saya memutuskan untuk safari silaturahim, meminta saran kepada alim ulama, kiyai, ustadz, senior, lawyer dan beberapa sahabat saya. selama 14 hari saya mendapatkan bantuan dana bersifat pinjaman pribadi sebanyak Rp. 15 juta dan emas logam mulia. 30% bersifat pinjaman dan 70% bersifat sumbangan dan sedekah dari beberapas senior dan sahabat untuk saya. Dana sebanyak itu sama sekali tidak saya gunakan untuk belanja kebutuhan saya dan tiga bayi, semuanya saya berikan kepada pinjol, seharusnya hutang saya berkurang, ternyata tidak. Denda keterlambatan yang mereka buat itu menjadikan tagihan saya dan suami meningkat. seharusnya sisa hutang kami kurang lebih Rp. 30 juta namun sebaliknya bertambah menjadi Rp. 50 juta. Naudzubillah

Saya memutuskan untuk sharing dengan beberapa korban pinjol, saya mencoba bergabung di beberapa group korban pinjol di FB, IG dan Whatsapp. Rata-rata mantan korban pinjol menyarankan saya untuk tidak membayar hutang pinjol, karena tidak akan pernah lunas sampai kapanpun. Mereka menyarankan saya untuk un-install semua aplikasi pinjol dengan tetap mencatat nama semua aplikasinya beserta hutang pokok saya. Saya pun diminta untuk ganti Hp dan sim card agar terbebas dari teror DC pinjol dan penyalahgunaan data privasi yang ada di ponsel juga izin akses, galeri, kamera dan lokasi.

Alhamdulillah kini saya mulai bisa bernafas lega, saya mulai terbiasa menghadapi  teror DC dengan tetap tenang dan mengabaikan mereka dengan tidak menerima telfon dan tidak membaca semua teror yang mereka kirimkan kepada saya. Angin segar kembali datang dengan adanya penggerebekan yang dilakukan Polri ke beberapa perusahaan pinjol ilegal di beberapa kota besar, ditambah adanya keputusan pemerintah yang disampaikan oleh Menkopolhukam, Mahfud MD yang meminta seluruh korban pinjol ilegal untuk tidak membayar hutang, dan meminta korban untuk melapor kepada kepolisian jika mendapatkan teror DC. Akhir-akhir ini pemerintah membuka satgas pengaduan pinjol yang dipublish di media sosial humas dan ciber crime Polri.

Saya berharap kisah saya ini bisa menjadi pelajaran bagi yang lain. Semoga kita semua bisa terhindar dari kejahatan pinjol dan bisa mencari cara lain yang lebih baik untuk mengatasi masalah finansial kita.

Penulis: Yeni Asiah

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *