Press "Enter" to skip to content

Aksi Kekerasan Anti-Asia Kembali Marak di Philadelphia

Aksi kekerasan anti Asia kembali marak di Philadelphia. Tiga remaja pria dan satu putri berdarah Asia, mengalami aksi kekerasan saat pulang dari sekolah di Central High School, Philadelphia, Rabu 17 November 2021. Satu di antaranya keturunan Indonesia. Mereka yang menumpang kereta bawah tanah menuju pulang, diganggu enam remaja putri kulit hitam dari sebuah sekolah swasta.

Aksi kekerasan di Subway SEPTA. (rekaman video sosmed)

Padahal korban yang curiga, sudah berusaha menghindar dengan berpindah-pindah kereta bawah tanah. Namun, upaya itu gagal. Saat berada di stasiun South Erie, komplotan remaja putri itu mengejek dan memukuli korban, hingga babak belur, bahkan mematahkan kacamata korban. Banyak siswa Central School berupaya melerai aksi itu, tapi gagal. Seorang remaja putri Asia yang mencoba menghentikan kekerasan itu malah digebuki dan diinjak-injak berkali-kali. Video aksi itu beredar di kalangan warga Indonesia dan Asia.

Aksi kekerasan di Philadelphia (video rekaman sosial media)

Salah satu korban berdarah Tionghoa menyesalkan tindakan semena-mena itu. ”Philadelphia terkenal dengan City of Love. Kita bukan City of Hate. Dan anak saya tidak melakukan kejahatan apapun. Anakku juga tidak mengenal mereka,” kata salah seorang ibu korban kepada Stasiun televisi CBS. ”Ini tindakan diskriminatif,” lanjutnya.

Sementara itu, bocah Indonesia yang menjadi korban, masih trauma dan tak bersedia diwawancara. Demikian juga orang tuanya. Maklum, sehari sebelumnya, bocah yang tak disebutkan namanya itu menyaksikan temannya diguyur es campur oleh seorang penumpang di atas kereta bawah tanah. Esok harinya, ia sendiri mengalami aksi kekerasan.

Empat tersangka pelaku berhasil ditangkap beberapa jam setelah kejadian. Satu di antaranya diserahkan oleh orang tuanya, setelah menyaksikan rekaman video di media sosial. ”Kasus ini merupakan aksi kekerasan etnis. Mereka mengeluarkan kata-kata hinaan etnis Asia,” tutur Thomas Nestel, Kepala Kepolisian angkutan kereta Philadelphia, SEPTA.

Karena itu, kata Thomas, keempat tersangka akan menghadapi lima dakwaan serius. Yakni: 1. Melakukan intimidasi etnis; 2. Penyerangan berat; 3. Penyerangan ringan; 4. Bertindak ceroboh dan membayahakan orang lain; serta 5. Melakukan ancaman terorisme.

Dalam konperensi pers itu, Thomas Nestel menjelaskan pihak SEPTA akan meningkatkan pengawalan penumpang, Rabu ini. ”Remaja putri yang mencoba melerai dan menghadang aksi itu, patut disebut sebagai pahlawan,” kata Thomas.

Sejumlah orang tua Asia Amerika berduyun-duyun menemui kepala sekolah Central High School menuntut agar kasus ini ditangani secara serius. ”Kami bergantung pada kereta bawah tanah, sebagai satu-satunya alat transportasi,” kata Mei Liu . ”Di mana petugas polisi SEPTA, untuk mengawasi kondisi ini,” kata David Oh, salah satu Dewan Kota Philadelphia. Thomas Nestel berjanji mulai Rabu itu, petugas kepolisian SEPTA akan meningkatkan patroli antar-gerbong kereta bawah tanah Philadelphia.

Sementara itu, aksi kekerasan juga dialami Afuk. Pekan lalu, lelaki kelahiran Pontianak yang sehari-hari bekerja di Toko Serba ada ”Pendawa” di Philadelphia itu dirampok dan dipukul kepalanya.

Peristiwa itu terjadi Sabtu 6 November 2021, saat Afuk usai berbelanja sayur dan bahan memasak di Toko ”One Stop Market” pukul 20.15 wib. Saat keluar beberapa langkah dari toko yang terletak di Jalan Bancroft itu, Afuk sadar, dua orang yang mengikutinya dari belakang.

Benar saja. Mereka yang berkulit hitam dan mengenakan kerudung kepala, memukul kepala Afuk dengan pipa besi dan mendorongnya di tembok. Afuk hanya pasrah saat kedua perampok itu merogohi kantongnya dan mengambil uang sebanyak $ 400.00 dari dalam sakunya. ”Uang belanja dari titipan orang-orang yang minta tolong dibuatkan masakan Indonesia,” kata Afuk yang pintar memasak dan banyak pesanan itu.

Afuk yang masih sadar, segera berteriak minta tolong, dan didengar seorang warga kulit putih dan kulit hitam tetangganya yang menelepon polisi. Kedua perampok itu melarikan diri tanpa dikenali wajahnya. Hanya sekitar 10 menit kemudian Afuk yang kepalanya berdarah, ditolong dan dibawa ambulans menuju ke Rumah Sakit Jefferson dekat Chinatown, Philadelphia.

Afuk atau Sui Kwang di ambulans menuju RS Jefferson Hospital (koleksi pribadi)

Karena tidak mengalami luka parah, Afuk diizinkan pulang dan kepalanya tidak dijahit, meski mengeluarkan darah lumayan banyak. ”Setelah diizinkan dokter untuk pulang, saya kembali ke rumah,” ujar Afuk yang bernama lengkap Sui Kwang dan tinggal di sebelah Toko Pendawa, tempat kerjanya.

Sejumlah warga Indonesia terkejut dengan kejadian itu. Konsul Jenderal RI New York, Arifi Saiman menjenguknya sehari kemudian dan memberi bantuan keuangan. (DP)

Aksi kekerasan anti-Asia juga terjadi di New York dan kota besar lainya. Hasil riset yang dikeluarkan forum Stop AAPI Hate atau (Asian Americans and Pacific Islanders) menyebutkan terjadi lebih dari 9.081 kasus kekerasan. 25% di antaranya terjadi sejak April hingga Juni 2021.

Aksi kekerasan dengan kata-kata menempati 64%, disusul dengan upaya menghindar berdekatan dengan kaum Asia 17%. Kekerasan fisik menempati urutan ketiga dengan 14%. Hasil riset itu menunjukkan bahwa aksi kekerasan di jalan umum menempati 32%, disusul dengan aksi di kawasan bisnis atau di dalam gedung sekitar 30% saja. Sekitar 2 juta warga Asia dan Pasific Islander mengalami insiden itu sejak pandemi Covid-19 meledak dua tahun lalu. (DP).

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *