Press "Enter" to skip to content

Philadelphia Kota Rawan dengan 500 Kasus Pembunuhan

Angka pembunuhan di Philadelphia mencapai 500 kasus, menjadikan Kota Philadelphia sebagai salah satu kota yang memiliki angka kriminalitas paling tinggi di Amerika Serikat sejak 1990.

Kasus terakhir terjadi Rabu 24 November 2021, di persimpangan 7th Street dengan Jackson Street. Sekitar pukul 16.30 sore, seorang wanita kulit hitam berusia 55 tahun tiba-tiba dikejar seorang lelaki mengenakan mantel warna cerah. Korban sempat berteriak minta tolong dan meminta pejalan kaki lainya menelepon polisi.

Sayang, pelaku berhasil menembak tiga peluru di dada korban sebelum melarikan diri. Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Jefferson Hospital, namun jiwanya tak tertolong. Meski begitu, pihak kepolisian berhasil mengenali tersangka pelakunya dan saat ini masih dalam pengejaran. Sejumlah rekaman kamera yang terpasang di tempat kejadian menunjukkan korban dan pelaku tinggal di kompleks perumahan yang sama.

Sebelumnya, seorang wanita berusia 24 tahun yang mengasuh anak-anaknya dibunuh beberapa wanita. Bahkan yang lebih fatal seorang wanita hamil yang baru kembali memperingati tujuh bulan kehamilannya juga ditembak mati.

”Hati saya benar-benar remuk dan marah mendengar 500 warga Philadelphia kehilangan nyawa,” tutur Walikota Philadelphia Jim Kenney. ”Termasuk anak-anak dan remaja yang menjadi korban sia-sia,’ lanjutnya. Karena itu, Kenney meminta agar peraturan kepemilikan senjata api diperketat. ”Pihak kepolisian Philadelphia akan menyita 6000 lebih senjata tahun ini, atau 40% lebih dari tahun sebelumnya,” kata Jim Kenney.

Kepala Kepolisian Philadephia, Danielle Outlaw menekankan agar keluarga para korban menuntut keadilan bagi para korban. ”Kepolisian Philadephia menempatkan prioritas utama kasus pembunuhan ini. kami akan bekerjasama dengan para pemimpin lokal dan lainnya,” katanya.

Danielle Outlaw juga menjamin bahwa petugas keamanan tetap melakukan patroli proaktif di kawasan pemukiman penduduk dan komunitas lainnya. ”Saya minta agar warga Philadelphia memberikan informasi agar pelaku mampu diseret ke pengadilan. Jangan takut!! Kami bersama kalian,” kata Danielle Outlaw. Perdagangan obat bius dan konflik rumah tangga menjadi penyebab utama meningkatnya pembunuhan.

Tercatat sekitar 1.000 orang keturunan Indonesia tinggal di kawasan Philadelphia. Mereka yang mayoritas berasal dari Jawa Timur, hijrah ke kota yang dikenal sebagai Kota ‘Brotherly Love’ ini, setelah menjadi korban kerusuhan tahun 1998. Banyak di antaranya sebagai pekerja blue colors, koki di restoran dan rumah makan, atau di laundry dan dry cleaners, serta pabrik. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *