Press "Enter" to skip to content

Tatang Mengkritik Kehidupan dengan Demit

Sebuah kritik terhadap kehidupan sebuah bangsa dilakukan Tatang Ramadhan Bouqie lewat pameran berjudul Sirkus Demit. Tak kurang dari 66 lukisan dipajang di Gedung Yayasan Kebudayaan, Bandung, sejak 30 Januari hingga 12 Februari 2022.

Tema lukisan yang diambil dari bukunya berjudul “Sirkus Demit” itu memang sarat dengan kritik terhadap kehidupan warga Indonesia dewasa ini

Maknanya sederhana. ‘’Kita masuk dalam kondisi yang bergerak, berjalan, berputar, loncat, seperti sebuah sirkus,’’ tutur Tatang dalam wawancara dengan Newsline Metro TV. ‘’Memakai demit, karena karakternya banyak, seperti jahat, licik, nakal. Saat ini demit seakan berwujud manusia,” ujar Tatang yang pernah berkarya di Majalah TEMPO dan Metro TV itu. 

Pameran yang digelar gratis itu, semakin marak dengan pagelaran drama berjudul sama yang digelar oleh para seniman kelompok Ragha Psycho Works. ‘’Ini kelompok atau komunitas saya sendiri,’’ tutur Tatang menjelaskan.

Tatang Ramadhan Bouqie (koleksi pribadi)

Karya grafis itulah yang menjadi ilustrasi sajak-sajak dalam buku “Sirkus Demit: Panorama Kata, Panorama Rupa. “Tiga puluh lima tahun tak cuma ngangkang. Tak hanya menungging. Tapi juga trampil sirkus kuda-kudaan. Aku, sempurna dalam layanan. Kini aku sudah tua dan sakit sakitan, tubuhku layu dan semua lelaki menampikku. Aku segera berkemas” demikian catatan di sampul dalam dari kutipan salah satu sajaknya.

Pagelaran Sirkus Demit di Gedung YPK, Bandung.

‘’Kang Tatang, bukan penyair biasa. Dia banyak menulis sajak, yang tergolong sajak pamflet, genre sajak yang mengingatkan pada karya Si Burung Merak WS Rendra melalui buku “Potret Pembangungan dalam Puisi,’’ tulis Supriyanto Martosuwito, yang kenal dekat dengan WS Rendra, dalam situs Redaksi Indonesia edisi 11 Februari lalu. (DP)

 

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *