Press "Enter" to skip to content

Kenapa Sentimen Anti Asia di AS Masih Marak? Ini Jawabannya!

Hingga pekan lalu, serangkaian aksi kekerasan terhadap etnis Asia di  AS tetap berlangsung. Hampir semua kasus kekerasan tidak cuma dilakukan oleh warga hitam saja, melainkan juga kaum kulit putih dan warga Amerika Latin.

Banyak pendapat mengatakan etnis Asia menjadi sasaran paling empuk, untuk dijadikan korban perundungan (bullying) atau aksi kekerasan. Ada yang berpendapat karena berbagai motif, seperti ketakutan terhadap virus Covid-19 yang kemudian disulut dengan pernyataan mantan Presiden Donald Trump yang menyebut China bertanggung jawab atas tersebarnya Virus Corona, dengan menyebut sebagai ‘Virus China; Virus Wuhan atau Kung Fu’.

Menurut Jessica Lee, pengamat Quincy Institute of Responsible Statecraft, lembaga think-tank di Washington DC ini melihat bahwa preseden buruk tentang kebencian terhadap etnis Asia sudah sejak lama. ‘’Kekerasan anti-Asia mengalami pasang surut sejak lama,’’ katanya kepada Voice of America.

Pada kerusuhan rasial di kawasan Chinatown, Los Angeles 1871, sebanyak 15 imigran China terbunuh. Para pelakunya delapan orang yang berasal dari komunitas 500 warga kulit putih dan Hispanic yang bermukim di sana. Meski terbukti melakukan pembunuhan massal, tapi tuduhan itu dianulir atau dihapus, dan mereka dibebaskan. Hal itu tampaknya yang diterapkan juga dalam kasus pembakaran massal di Chinatown, San Jose pada 1887. Pihak walikota cuma minta maaf.

Pada tahun 1882, Pemerintah AS mencoret warga China untuk dimasukkan ke dalam ketentuan imigran asing yang diterima di AS. Diciptakanlah The Chinese Exclusion Act, yang membatasi pekerjaan di bidang penambangan emas dan perburuhan. Kelak, imigran China hanya diperbolehkan masuk ke AS, lewat ketrampilan memasak dari sponsor pengusaha restoran. 

Karena itu tak mengherankan bila di hampir setiap ujung gang banyak warung Chinese Food, rumah makan China cepat saji. Atau warung makan sekenyangnya yang dikenal dengan All You Can Eat Buffett.

Tak cuma itu. Pada waktu penyerangan Pearl Harbor 1945 yang terkenal itu, sebanyak 100 ribu lebih imigran Jepang yang sudah menjadi warga AS, dikurung di kamp-kamp konsentrasi selama Perang Dunia II. Pemerintah AS memandang imigran Jepang bakal menjadi mata-mata Jepang.

Karena itu, jangan heran bila ‘’Sampai kapanpun, generasi warga Asia Amerika tetap dianggap sebagai warga asing, karena kalian bukan berkulit putih, tapi berkulit kuning,’’ tutur Kulkarni dari badan nonprofit Stop AAPI Hates dari Asian American and Pacific Inlander, kepada VOA.

Suasana antrean suntik vaksin flu bagi warga Asia tahun 1870-an di AS.

Apalagi ada anggapan selama ini bahwa komunitas Asia adalah China, atau mereka yang berkulit kuning. Tak peduli mereka berasal dari berbagai negara seperti Filipina, Korea, Singapura, Taiwan, Vietnam, Muangthai, Malaysia bahkan Indonesia sekalipun. Sebabnya karena rata-rata warga AS sulit membedakan antara warga China dengan warga Singapura atau Indonesia atau Vietnam. ”Di mata kami, mereka semua sama. Seperti halnya kalian melihat warga hitam kan?” kata Harry, salah seorang warga kulit hitam yang tinggal di Philadelphia.

‘’Padahal AS dikenal sebagai surga bagi imigran asing dengan komposisi 22 juta warga Asia Amerika yang terdiri dari berbagai ras dan kelompok,’’ bunyi riset dari Pew Research Center. 30% dari jumlah itu merasa takut ancaman perundungan dan kekerasan fisik. Sedangkan 80% dari jumlah warga Asia itu mengatakan kekerasan terhadap Asia meningkat tajam.

Untuk mencari jalan keluarnya, pelajaran tentang penduduk atau imigran Asia lebih digalakkan di sekolah-sekolah.  Seperti misalnya sekolah-sekolah di New Jersey dan Illinois yang mengharuskan memberikan pelajaran sejarah Asia Amerika terhadap para siswanya. ‘’Sejarah yang tidak banyak diketahui banyak warga AS,’’ kata May Lee dari University South Carolina yang memuji media sosial karena sering menyebarkan berita anti-Asia.

Sementara para pejabat AS juga diminta menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yang melecehkan warga Asia.

‘’Keterbatasan bahasa Inggris di antara warga Asia juga menyebabkan rasa anti-Asia semakin membuncah di antara warga kulit hitam dan kulit putih. Mereka dianggap bukan bagian warga Amerika,’’ tutur salah satu warga kulit hitam yang enggan disebut namanya dan tinggal di Philadelphia Utara. (Didi Prambadi) 

 

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *