Press "Enter" to skip to content

Gereja dan Sinagoga di AS Kekurangan Pastor, Pendeta dan Rabbi.

Amerika Serikat tengah mengalami krisis pemimpin agama sejak pandemi Covi-19 mulai merebak tahun lalu.  Studi yang dilakukan Barna Group mengungkapkan bahwa 38% pastor mempertimbangkan untuk meninggalkan tugas gerejanya. Jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang masih sekitar 29%. Sementara separuh dari para pastor atau pemimpin gereja berusia di bawah 45 tahun, akan mengundurkan diri.

Harian Wall Street Journal mengabarkan, sejumlah seminari mulai berkurang peminatnya karena warga AS semakin sekuler. Kekurangan tenaga di bidang kerohanian, menyebabkan komunitas agama harus bersiap-siap mencari calon pendeta atau pastornya.

Sementara para pemimpin Conservative Jewish Movement mengirim surat elektronik ke seluruh sinagoga, Desember lalu bahwa sedikitnya 600 sinagoga tengah mencari Rabbi (pemimpin agama Yahudi) baru tahun 2022 ini. Mereka memperkirakan 60 orang Rabbi bakal mencari pekerjaan lain.

Demikian juga yang dialami komunitas Katolik di AS. Sebanyak 3.544 paroki di seluruh AS kekurangan pastor, atau naik 25% dari tahun 2000 lalu. Keuskupan The Diocese of Buffalo, NY misalnya melancarkan pilot program agar setiap pastor diminta melayani enam paroki. 

Evangelical Lutheran Church in America juga mengalami nasib serupa. 10 persen dari 120 gerejanya di Montana mencari seorang pastor, tapi tidak kunjung tersedia, sehingga mereka harus dilayani pastor dari gereja yang berbeda lokasi. Termasuk juga Gereja Methodists dan Presbyterian.

Banyak hal yang mendorong hal itu terjadi. Satu di antaranya para pemimpin gereja lebih suka bekerja di badan-badan non-profit karena gaji yang cukup dan tidak sibuk. Di samping itu, banyak pemimpin agama yang bosan dan letih. ‘’Setelah bertugas selama puluhan tahun, dan anda melihat teman atau sanak saudara banyak yang wafat, kami juga merasa capek,’’ tutur Noah Farkas, rabbi dari salah satu sinagoga di Los Angeles. Bahkan dalam penelitian lembaga survei Pew mengungkapkan, satu dari 4 penduduk AS, tidak berafiliasi atau menjadi pemeluk agama Kristen di AS.

Dalam laporan harian Wall Street Journal tak menyebutkan apakah krisis serupa juga dialami masjid-masjid di seluruh AS. (DP)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *